MODEL ASESMEN KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH NEGERI OLEH DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA SEHUBUNGAN DENGAN STANDAR SARANA DAN PRASARANA DALAM PP 19/2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

Risma Hastuti
Universitas Negeri Surabaya
Jl. Ketintang 9, Surabaya
Email: az_zahra_cieb@yahoo.co.id

Abstrak :
Tujuan penulisan ini adalah untuk memperoleh gambaran kondisi sarana prasarana pendidikan dasar berdasarkan standar sarana dan prasarana sekolah/madrasah umum (Permendiknas 24 Tahun 2007). Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa sebagian besar luas bangunan sekolah sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Ruang kelas sebagai tempat kegiatan belajar mengajar yang utama pada sebagian besar sekolah sudah sangat memadai.Hanya masih dijumpai beberapa sekolah yang belum memiliki ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang UKS, mushala, dan gudang yang representatif dalam rangka menunjang kegiatan belajar mengajar.Tetapi masih ada sekolah yang kurang memperhatikan fasilitas pendukung dan tidak secara berkala melaksanakan pemeliharaan bangunan tersebut.Bagi sekolah yang berada di pinggir jalan raya, masih belum dapat mengatasi kebisingan yang diakibatkan oleh lalulintas sehingga dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Adanya sekolah yang berdekatan dengan pusat keramaian seperti pasar juga memerlukan perhatian untuk mengurangi terganggunya kegiatan belajar mengajar.
Kata Kunci : assesmen sarana prasana, standar nasional pendidikan.
Abstract: This research was aimed to describe the condition of infrastructure facilitiesof basic education based on the standard of school facilities and infrastructure/public madrasah (Permendiknas no. 24 2007). The results illustrate that the vast majority of school buildingsare in accordance with the standards established. Classrooms a splaces of teaching and learning in most primary schools have been very adequate. Only still found some schools that do not have the staff room, principal room, UKS space, prayer room, and werehouse representative in order to support teaching and learning activities. But still there are schools that less attention and support facilities not regularly carry out maintenance of the building. For schools that are in the main street, still unable to overcome the noise caused by traffic so that it can interfere with teaching and learning activities. The existence of the school adjacent to the crowd as the market also require attention to reduce the disruption of teaching and learning activities.
Kata kunci : Infrastructure Needs Assessment, National Education Standards.
Pendahuluan
Manajemen sarana prasarana sekolah merupakan bagian dari kebijakan tentang desentralisasi untuk memperbaiki layanan dasar pendidikan. Desentralisasi kewenangan untuk mengelola asset fisik menjadi tanggung jawab dari dinas pendidikan kabupaten/kota. Tujuannya adalah agar sekolah dapat mencapai standar minimal pendidikan dan kabupaten/kota dapat mengalokasikan anggaran pemeliharaan dan perawatan berdasarkan pada informasi yang akurat dan mutakhir dari sekolah
Pada era globalisasi seperti sekarang kita dituntut kesiapan yang lebih matang dalam segala hal. Bidang pendidikan merupakan salah satu andalan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman. Persiapan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan dilakukan sejak dari masa pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Peran sarana pendidikan sangat penting dalam memperlancar pelaksanaan proses pembelajaran. Satu sisi harapan yang dibebankan pada dunia pendidikan sangat banyak, tetapi di sisi lain dunia pendidikan mempunyai banyak masalah yang menghambat dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Salah satu masalah yang dihadapi oleh sekolah adalah masalah sarana pendidikan.
Dalam rangka mengatur substansi fasilitas atau sarana di sekolah di gunakan suatu pendekatan administratif tertentu yang disebut juga manajemen sarana pendidikan. Manajemen sendiri merupakan proses pendayagunaan semua sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Pendayagunaan melalui tahapan proses yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancer, teratur, efektif, dan efisien. Jadi manajemen sarana pendidikan adalah keseluruhan proses perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan yang digunakan untuk menunjang pendidikan agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancer, teratur, efektif, dan efisien.
Perlengkapan sekolah, atau juga sering disebut dengan fasilitas sekolah, dapat di kelompokan menjadi sarana pendidikan dan prasarana pendidikan. Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti: ruang, buku, perpustakaan, labolatarium dan sebagainya.Sedangkan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang proses pendidikan di sekolah. Dalam pendidikan misalnnya lokasi atau tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, ruang dan sebagainya.
Pembahasan
A. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
Sasaran minimal pengembangan sekolah yang dituangkan dalam setiap rencana pengembangan sekolah haruslah menggunakan standar penyelenggaraan pendidikan yang berlaku secara nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan ketentuan rinci mengenai standar-standar nasional pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Peraturan Pemerintah ini menetapakan arah reformasi pendidikan nasional dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional.
Pasal 49 ayat (1) pada Peraturan Pemerintah ini menyatakan: “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.” Berkaitan dengan penerapan manajemen berbasis sekolah itu di tingkat satuan pendidikan, PP nomor 19/2005 tersebut menetapkan sejumlah standar pengelolaan yang mencakup pengambilan keputusan, pedoman pendidikan, rencana kerja, prinsip-prinsip dasar pengelolaan satuan pendidikan, pengawasan, pemantauan, supervisi, dan pelaporan.
Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tetang Standar Nasional Pendidikan yang menyangkut standar sarana dan prasarana pendidikan secara nasional pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. (2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat bekreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
PP nomor 19 tahun 2005 menetapkan delapan standar yang meliputi:
1. standar isi;
2. standar proses;
3. standar kompetensi lulusan;
4. standar pendidik dan tenaga kependidikan;
5. standar sarana dan prasarana;
6. standar pengelolaan;
7. standar pembiayaan; dan
8. standar penilaian pendidikan.
Di antara standar-standar tersebut, standar pengelolaan pada tingkat satuan pendidikan merupakan standar terpenting yang harus djadikan acuan dalam perencanaan pengembangan sekolah. Untuk itu berikut diuraikan kententuan-ketentuan yang berkaitan dengan standar pengelolaan dan pengambilan keputusan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 49 sampai dengan pasal 58 PP nomor 19 tahun 2005

B. Standar Nasional Pendidikan dan Standar Pelayanan Minimal
UU No 20/2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional BAB IX Pasal 35 memuat tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Lalu diatur lebih lanjut ke dalam PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan termasuk BAB VII tentang Standar Sarana dan Prasarana. PP ini mensyaratkan untuk diatur lagi dan telah diatur di dalam Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang: Standar Sarana dan Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA. Lengkapnya lihat Lampiran yang berisi tentang Kebijakan Standar Sarana dan Prasarana baik yang tertulis dalam UU, PP mau pun dalam Permendiknas. Pada PP 19/2005 Pasal 42 Ayat (1) misalnya amat jelas tentang sarana sekolah meliputi apa saja. Dan Ayat (2) jelas tentang prasarana sekolah meliputi apa saja.
Dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 Thun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota, maka semakin jelas kebutuhan akan manajemen aset sarana-prasarana sekolah, karena sarana dan prasarana adalah termasuk aspek yang dipersyaratkan dalam mencapai Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar.
Kedua, adanya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, mengharuskan pemerintah daerah untuk secara periodic mendata dan melakukan pemutakhiran (up-dating) data sarana prasarana yang merupakan barang milik daerah, dan akan menjadi obyek pemeriksaan dari auditor keuangan daerah.
Ketiga, adanya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung. Semua kebijakan terkait menuntut pemangku kepentingan untuk bertindak adanya efisien dan efektif dalam pengelolaan, pemeliharaan dan perawatan sarana prasarana sekolah.
Berbagai kebijakan pemerintah tersebut mempertegas bahwa sarana-prasarana sekolah tetap harus terus-menerus didata dan diperbaiki kondisinya untuk bertahap memenuhi standar, karena berfungsi atau tidaknya sarana dan prasarana pendidikan sangat menentukan keberhasil proses belajar-mengajar.
C. Maksud dan Tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Maksud dari Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan ini adalah upaya pendataan untuk tujuan pemeliharaan dan perawatan sarana prasarana sekolah agar dapat tetap memenuhi fungsi dan keandalan bangunan. Langkah pertama adalah mendapatkan data kondisi sarana-prasarana yang akurat dari sekolah. Kedua, menerapkan program aplikasi SIMA (Sistem Informasi Manajemen Aset) untuk mempermudah dalam pencatatan, proses updated dan menginformasikan data-data yang diperlukan.
Sedangkan Tujuan dari pengenalan manajemen sarana-prasarana sekolah ini adalah:
Sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten memiliki informasi tentang sarana prasarana sekolah (sesuai standar nasional yang mengacu pada Permendiknas 27/2007);
Informasi berupa ketersediaan, kondisi, kecukupan (daya tampung kurang, sesuai, atau kelebihan), penggunaannya (fungsi utamanya);

Informasi tentang standar anggaran untuk pemeliharaan dan perawatan pencegahan; dan membangun kapasitas sekolah dan masyarakat dalam perawatan preventif sarpras sekolah.
D. Manfaat Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
1) Pengguna sarana khususnya sekolah: murid, guru dan kepala sekolah, komite sekolah, dan masyarakat setempat,
2) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Kantor Departemen Agama: perencanaan, keuangan, subdinas/seksi sarana-prasarana, pengawas & kepala dinas/sekretaris dinas, yayasan persekolahan, DPRD, Dewan/majelis Pendidikan.
3) Bagi sekolah, instrumen Manajemen Sarana-Prasarana dan software-nya ini akan memberikan manfaat, antara lain:
4) Memberikan kesadaran dan pemahaman kepada pemangku kepentingan (stakeholders) sekolah akan pentingnya pendataan sarana-prasarana sekolah dan pentingnya kegiatan pemeliharaan rutin
5) Memberikan petunjuk tentang bagaimana melakukan proses pendataan sarana-prasarana sekolah dan menilai kondisi fisiknya untuk bisa melakukan antisipasi perawatan
6) Memberikan petunjuk tentang bagaimana cara melakukan pemeliharaan sarana-prasarana secara efektif dan berkelanjutan (rutin) agar sarana-prasarana yang ada dapat didaya-gunakan sesuai umur fisiknya
7) Memberikan pengetahuan tentang standar yang berlaku sebagai acuan untuk mengetahui kebutuhan peningkatannya, sehingga bisa mengusulkan dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS), Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RKAS).
E. Perencanaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Perencanaan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses perkiraan dan penetuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan (Sondang P. Siagian). Perencanaan saran dan prasarana dapat diartikan sebagai keseluruhan proses perkiraan secara matang rancangan pembelian, pengadaan, rehabilitasi, distribusi sewa atau pembuatan peralatan dan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan. Perencanaan kebutuhan merupakan rincian fungsi perencanaan yang mempertimbangkan suatu faktor kebutuhan yang harus dipenuhi. Dalam menentukan kebutuhan diperlukan beberapa data diantaranya adalah distribusi dan komposisi, jenis, jumlah, dan kondisi (kualitas) sehingga berhasil guna, tepat guna,dan berdaya guna dan kebutuhan dikaji lebih lanjut untuk disesuaikan dengan besaran pembiayaan dari dana yang tersedia.
Tujuaanya perencanaan sarana dan prasarana pendidikan adalah demi menghindari terjadinya kesalahan dan kegagalan yang tidak diinginkan dan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya. Perencanaan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan dan penentuan skala prioritas kegiatan untuk dilaksanakan yang disesuaikan dengan tersedianya dana dan tingkat kepentingan.
Manfaat perencanaan sarana dan prasarana pendidikan yaitu dapat membantu dalam menentukan tujuan, meletakkan dasar-dasar dan menetapkan langkah-langkah, menghilangkan ketidak pastian, dapat dijadikan sebagai suatu pedoman atau dasar untuk melakukan pengawasan,pengendalian dan bahkan juga penilaian agar nantinya kegiatan berjalan dengan efektif dan efisien.
Karakteristik Perencanaan Sarana dan Prasarana Pendidikan dikatakan baik apabila rencana itu selalu menuju sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, dilandaskan atas perhitungandan selalu mengandung kegiatan/tindakan/usaha. Sasaran perencanaan kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Agar tujuan-tujuan manajemen perlengkapan bisa tercapai ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan dalam mengelola perlengkapan di sekolah, prinsip-prinsip yang dimaksud adalah :
1. Prinsip pencapaian tujuan
2. Prinsip efisiensi
3. Prinsip administratif
4. Prinsip kejelasan tanggung jawab
5. Prinsip kekohesifan
6. Prinsip Pencapaian Tujuan
7. Prinsip Efisiensi
8. Prinsip Kekohesfan
Manajemen sarana pendidikan meliputi : Perencanaan, Penyimpanan, Inventarisasi, Penataan, Pengawasan dan pengendalian, Penyaluran, Pemeliharaan, Rehabilitasi dan Penghapusan.
F. Tanggung Jawab Kepala Sekolah Dan Guru Dalam Pengawasan
Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap pengawasandan pengendalian sarana dan prasarana pendidikan, adapun salahsatu tujuannya adalah untuk menghindari adanya penyelewengan.Tanggung jawab kepala sekolah untuk melakukan pengawasandan koreksi terhadap kondisi sarana dan prasarana termasukruangan sekolah dan terus menerus ruang lainnya dan halamanserta perlengkapannya harus dilaksanakan terus menerus danteratur. Dalam melaksanakan tugas tersebut perlu diadakanpertemuan dengan penjaga kebersihan sekolah mengenaimasalah-masalah dan kekurangan-kekurangan yang harus diatasi.Pengawasan harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga hal-halyang sekecil-kecilnya pun tidak lepas dari tanggung jawabnya.Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam pengawasan adalah menciptakan kondisi lingkungan yang sehat dan membudayakanbersih kepada murid-murid.
G. Standarisasi Minimal Fasilitas Sekolah
Berdasarkan Permendiknas Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana Dan Prasarana, maka Sebuah sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. ruang kelas
2. ruang perpustakaan
3. ruang pimpinan
4. ruang guru
5. ruang tata usaha
6. tempat beribadah
7. ruang konseling
8. ruang UKS
9. ruang organisasi kesiswaan
10. jamban
11. gudang
12. ruang sirkulasi
13. tempat bermain/berolahraga.
Sebagai contoh adalah untuk laboraturium biologi di SMA memiliki standar:
a. Ruang laboratorium biologi berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran biologi secara praktik yang memerlukan peralatan khusus.
b. Ruang laboratorium biologi dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
c. Rasio minimum ruang laboratorium biologi adalah 2,4 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium adalah 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2. Lebar minimum ruang laboratorium biologi adalah 5 m.
d. Ruang laboratorium biologi memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan memadai untuk membaca buku dan mengamati objek percobaan.
Simpulan
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien.( bafadal,2003).
Tujuan daripada pengelolaan sarana dan prasarana sekolah ini adalah untuk memberikan layanan secara profesional berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan agar proses pembelajaran bisa berlangsung secara efektif dan efisien.
Prinsip-prinsip manajemen sarana dan prasarana pendidikan Islam meliputi: 1) prinsip pencapaian tujuan, 2) prinsip efisiensi, 3) prinsip administratif, 4) prinsip kejelasan tanggung jawab, 5) prinsip kekohesifan.
Proses manajemen sarana dan prasarana pendidikan islam yang akan dibahas disini berkaitan erat dengan : 1. perencanaan sarana dan prasarana pendidikan islam. 2. pengadaan sarana dan prasarana pendidikan islam. 3. inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan islam. 4. pengawasan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan islam. 5. pengahapusan sarana dan prasarana sekolah.

Daftar Acuan

Direktorat PLB 2004
Fattah, Nanang. 2003. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja
http://www.bpkpenabur.or.id/kps-jkt/berita/200006/artikel3.htm
http://www.google.com/search/ Manajemen Berbasis Sekolah oleh Suprapto
http://www.google.com/search/ Manajemen Pendidikan, Problematika dan
http://www.google.com/search/ Manajemen Sekolah Dalam Pendidikan oleh
http://www.google.com/search/ Optimalisasi Sarana-Prasarana Dan Peninggkatan
http://www.google.com/search/ Pedoman Penjaminan Mutu Akademik Universitas
Indonesia
Indonesia oleh Tim Penyusun Universitas Indonesia
Kapasitas Laboratorium oleh Kementerian Riset dan Teknologi Republik
Mulyasa. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosda Karya
Nata, abuddin. 2003. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Prenada Media
Rosda Karya
Sulistiyorini. 2006. Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Elkaf
Tantangannya Oleh : Choirul Ihwan

Iklan

AUDIT DAN REVIEWER

perencanaan operasional

A. Pegertian perencanaan operasional
Perencanaan operasional umumnya merupakan turunan/terjemahan dari tujuan umum perusahaan dalam rentang waktu tertentu (selama satu tahun umpamanya) berikut rencana stragtegis yang sudah ditetapkan oleh manajemen. Walau demikian perencanaan operasional dapat juga digunakan oleh individu untuk keperluan pribadinya, bahkan dianjurkan agar pekerjaannya terarah dan terorganisir dengan baik.
Perencanaan operasional adalah perencanaan yang memusatkan perhatiannya pada operasi sekarang (jangka pendek) dan terutama berkenaan dengan tujuan mencapai efisiensi.
Perencanaan operasional merupakan kebutuhan apa saja yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan perencanaan strategi untuk mencapai tujuan strategi tersebut. Lingkup perencanaan ini lebih sempit dibandingkan dengan perencanaan strategi.
Rencana operasional (Renop) sekolah merupakan rencana implementasi Rencana stratejik sekolah dalam kurun waktu satu tahun. Renop sering juga disebut Rencana tahunan. Renop berisi langkah-langkah operasional yang akan ditempuh selama satu tahun oleh sekolah, unit-unit, dan atau individu-individu staf dalam rangka mencapai tujuan operasional. Tujuan operasional merupakan jabaran dan tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan stratejik.
Rencana operasional disusun oleh unit-unit atau individu staf yang ada dalam struktur organisasi sekolah dan mengacu pada program yang relevan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Contoh dari rencana operasional antara lain: pengembangan kegiatan kurikuler, pengembangan kegiatan kesiswaan, peningkatan kerjasama dengan masyarakat, dan sebagainya. Rencana operasional berfungsi sebagai alat yang digunakan oleh masing-masing unit penyusunnya sebagai: (1) penjamin bahwa program pengembangan akan terealisasi dalam kegiatan operasional sekolah sehari-hari, (2) pedoman pelaksanaan kegiatan semesteran, bulanan, mingguan, dan harian, dan (3) justifikasi rinci penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja tahunan.
Perencanaan operasional yang khas :
1. Perencanaan produksi (Production Plans) : Perencanaan yang berhubungan dengan metode dan teknologi yang dibutuhkan dalam pekerjaan.
2. Perencanaan keuangan (Financial Plans): Perencanaan yang berhubungan dengan dana yang dibutuhkan untuk aktivitas operasional
3. Perencanaan Fasilitas (Facilites Plans): Perencanaan yang berhubungan dengan fasilitas&layout pekerjaan yang dibutuhkan untuk mendukung tugas.
4. Perencanaan pemasaran (Marketing Plans): Berhubungan dengan keperluan penjualan dan distribusi barang/jasa.
5. perencanaan sumber daya manusia (Human Resource Plans): berhubungan dengan rekruitmen, penyeleksian dan penempatan orang-orang dalam berbagai pekerjaan.
Perencanaan strategi bertugas mendefinisikan tujuan ideal dan tujuan yang bisa dilaksanakan. Sementara itu perencanaan operasional bertugas menerjemahkan kedua macam tujuan tadi bersama kebijakannya kedalam metode, prosedur, dan koordinasi agar tujuan-tujuan tadi dapat direalisasi. Itulah sebabnya mengapa cunningham dalam pidarta mengatakan perencanaan operasional doing things right, dalam perencanaan operasional kita dituntut melakukan sesuatu dengan benar berbeda dengan perencanaan strategi yang menuntut kita untuk melakukan hal yang benar. Mengerjakan sesuatu dengan benar berkaitan dengan pelaksanaan, performan yang ingin dicapai dan hasil. Perencanaan operasional hanya melakukan perintah perencanaan strategi, ia hanya berusaha agar cita-cita dari perencanaan strategi bisa tercapai.

B. Langkah-langkah perencanaan operasional
Menurut Morphet dalam Made pidarta (2005:101) prosedur yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan operasional:
1. Mengumpulkan informasi dan analisa data
2. Menyelesaikan perubahan dalam bentuk kebutuhan
3. Mengidentifikasi tujuan dan prioritas
4. Membentuk alternatif-alternatif penyelesaian
5. Mengimplementasi, menilai dan memodifikasi
Dalam melakukan perencanaan operasional maka diperlukan langkah-langkah tertentu. Langkah-langkah tersebut merupakan prosedur yang harus diikuti dalam setiap melakukan perencanaan, sebab tanpa prosedur tersebut maka kurang sempurna perencanaan tersebut. Langkah-langkah itu adalah sebagai berikut :
a. Langkah 1: Menetapkan tujuan. Sering sebuah organisasi mempunyai banyak tujuan, maka harus memilih diantara banyak tujuan tersebut, tujuan dapat dirumuskan sesuai dengan maksud misi dan sasaran yang dikehendaki. Tentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki, tujuan yang besar akan sukar dapat dicapai dengan sumber daya yang sangat terbatas, maka harus menetapkan tujuan yang terbaik bagi organisasi.
b. Langkah 2: Memahami atau merumuskan keadaan saat ini. Rencana adalah menyangkut kegiatan dimasa yang akan datang, apa yang dapat dilakukan dimasa yang akan datang sangat ditentukan pula keadaan atau posisi organisasi pada saat ini. Oleh karena itu organisasi harus mengetahui, memahami dan kemudian merumuskan posisinya saat ini. Untuk keperluan itu diperlukan data dan informasi yang relevan dengan tujuan organisasi.
c. Langkah 3: Mengidentifikasikan Kemudahan dan Hambatan. Organisasi harus melakukan identifikasi dan inventarisasi faktor-faktor kemudahan dan hambatan dalam usaha pencapaian tujuan. Dengan mengetahui kemudahan-kemudahan, organisasi akan dapat memanfaat-kannya peluang tersebut sebaik-baiknya. Sebaliknya dengan mengetahui kemungkinan hambatan, maka organisasi sedini mungkin sudah mempersiapkan untuk menanggulanginya atau mengantisipasinya yang akan dirumuskan dan kemudian dirumuskan pada berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan.
Menurut Louis A. Allen perencanaan terdiri dari kegiatan-kegiatan :
a) Meramalkan, memperkirakan waktu yang akan datang.
b) Menetapkan maksud tujuan (objects) sebagai: hasil akhir yang diharapkan: menentukan tujuan atau sasaran (goals/target).
c) Mengarahkan (programming), menetapkan urutan dari kegiatan-kegiatan yang diperlukan: langkah-langkah yang akan diambil menurut prioritas pelaksananya.
d) Menyusun tata waktu (schedulling), menetapkan urutan waktu yang tepat agar tindakan yang dilakukan dapat berhasil baik.
e) Menyusun anggaran belanja (budgeting), yaitu mengalokasikan sumber-sumber yang tersedia, dinyatakan dalam istilah-istilah keuangan.
f) Memperkembangkan prosedur-prosedur, membuat standar

C. Komponen-komponen rencana operasional
Komponen-komponen Renop sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Program Pengembangan yang dirumuskan dalam dokumen Renstra. Perbedaan pokok antara keduanya terletak pada kurun waktu kegiatan dan rincian dari masing-masing komponen itu. Komponen-komponen Renop meliputi:
1. Latar Belakang dan Rasional adalah alasan atau argumentasi yang mendasari kegiatan yang diusulkan. Beberapa hal yang perlu diuraikan dalam bagian ini meliputi:
a. Penjelasan mengenai akar permasalahan yang telah berhasil diidentifikasi pada telaah diri saat menyusun Renstra, yang akan diselesaikan dengan melaksanakan Renop ini. Masalah tersebut harus dijelaskan sedemikian rupa, sehingga tergambar permasalahan tersebut secara utuh dan menyeluruh (termasuk cakupannya, berat/ringannya, faktor-faktor yg berpengaruh pada permsalahan tersebut).
b. Kebijakan dan tujuan yang dirumuskan dalam Rencana Tindak dalam dokumen Renstra
c. Apabila Renop yang disusun untuk tahun kedua dan seterusnya dari siklus implementasi Renstra, dalam latar belakang juga perlu dikemukakan:
1) capaian-capaian tujuan jangka panjang yang telah diperoleh pada tahun-tahun sebelumnya
2) Masalah dan kendala yang dihadapi yang belum terselesaikan pada tahun sebelumnya.
3) Praktik-praktik baik (good practices) yang diperoleh pada tahun sebelumnya dan perlu dipertahankan pada Renop yang sedang disusun
d. Argumentasi (alasan) tentang mengapa uraian Renop yang akan dilaksanakan adalah pilihan yang paling tepat untuk menyelesaikan akar permasalahan tersebut diatas. Argumen/alasan tersebut dapat didasarkan pada pembenahan faktor-faktor yang berpengaruh pada akar permasalahan tersebut atau dapat berdasarkan teori ilmiah dan pengalaman dalam menghadapi akar permasalahan tersebut.
2. Sasaran adalah hasil yang akan peroleh pada akhir kegiatan operasional. Sasaran adalah penggambaran hal yang ingin diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang diambil sekolah guna mencapai tujuan (target terukur). Sasaran adalah hasil yang akan dicapai secara nyata oleh sekolah atau unit yang ada di sekolah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur, dalam kurun waktu satu tahun.
Dalam sasaran dirancang pula indikator sasaran, yaitu ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran untuk diwujudkan pada tahun bersangkutan. Setiap sasaran disertai target masing-masing. Sasaran diupayakan untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu/tahunan secara berkesinambungan sejalan dengan tujuan yang ditetapkan. Rumusan sasaran yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut.
a. Sasaran harus sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku setta sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah pusat, propinsi, maupun kabupaten/kota.
b. Sasaran ditetapkan mengacu pada dan merupakan milestone pencapaian visi, misi, tujuan sekolah, strategi, serta kebijakan dan tujuan yang dituangkan dalam Renstra Sekolah.
c. Sasaran harus dapat dijabarkan ke dalam sejumlah indikator kinerja.
d. Sasaran harus mengacu pada masalah-masalah yang teridentifikasi dalam telaah diri dan merupakan upaya yang dikembangkan untuk menjawab isu-isu stratejik.
e. Sasaran harus merupakan tindak lanjut dari pengalaman atau permasalahan yang teridentifikasi pada tahun sebelumnya.
f. Spesifik, sasaran menggambarkan hasil spesifik yang diinginkan, dan bukan cara pencapaiannya.
g. Dapat dinilai dan terukur, sasaran harus terukur dan dapat digunakan untuk memastikan apa dan kapan pencapaiannya.
h. Menantang namun dapat dicapai, tetapi tidak boleh mengandung target yang tidak layak.
i. Berorientasi pada hasil, sasaran harus mensepesifikasikan hasil yang ingin dicapai.
3. Dapat dicapai dalam waktu tahun tertentu.
4. Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, tahap setelah kegiatan selesai dan berfungsi, serta untuk meyakinkan bahwa kinerja hari demi hari organisasi/unit kerja yang bersangkutan menunjukkan kemajuan dalam rangka dan atau menuju tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Tanpa indikator kinerja sulit bagi kita untuk menilai kinerja (keberhasilan atau ketidakberhasilan) sekolah atau unit kerja yang ada di bawahnya. Secara umum indikator kinerja memiliki fungsi:
a. Memperjelas tentang apa, berapa dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan.
b. Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan program/kegiatan.
c. Membangun dasar bagi pengukuran, analisis, dan evaluasi kinerja sekolah atau unit kerja yang ada di dalamnya.
Indikator kinerja yang baik hendaknya memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
a. Spesifik dan jelas, sehingga dapat dipahami dan tidak ada kemungkinan kesalah¬an interpretasi
b. Dapat diukur secara obyektif baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
c. Relevan, indikator kinerja harus menangani aspek-aspek obyektif yang relevan dengan sasaran yang ingin dicapai.
d. Dapat dicapai, penting, dan harus berguna untuk menunjukan keberhasilan masukan, keluaran, hasil, manfaat, dampak, dan proses.
e. Harus cukup fleksibel dan sensitif terhadap perubahan.
f. Efektif, data/informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja yang bersangkutan dapat dikumpulkan dan dianalisis.
Terdapat enam jenis indikator kinerja yang sering digunakan dalam pengukuran kinerja sekolah, yaitu :
a. Indikator masukan (input): segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan pendidikan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan. Indikator ini dapat berupa kualitas siswa baru, kelekatan persaingan dalam seleksi siswa baru, relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, kualitas Renstra yang disusun sekolah, dan sebagainya.
b. Indikator proses (process): merupakan gambaran mengenai perkembangan atau aktivitas yang terjadi atau dilakukan dalam proses pendidikan di sekolah. Contoh indikator ini antara lain, tingkat kehadiran siswa, tingkat keterlibatan siswa dalam pembelajaran, penerapan PAKEM dalam pembelajaran, tingkat pemanfaatan laboratorium, jumlah siswa yang berkunjung ke perpustakaan, dan sebagainya.
c. Indikator keluaran (output): sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari kegiatan pendidikan. Indikator-indikator seperti peningkatan rata-rata NUN, peningkatan peringkat rata-rata NUN di tingkat kabupaten/kota, atau peningkatan jumlah siswa yang lulus UN, dapat digolongkan sebagai indikator output.
d. Indikator dampak (outcome): segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (efek langsung). Inikator ini biasanya sulit dicapai dalam kurun waktu Renop (1 tahun), akan tetapi harus sudah terukur setelah masa siklus Renstra (4-5 tahun) selesai atau hampir selesai. Jumlah siswa yang diterima di jurusan favorit di perguruan tinggi ternama, jumlah siswa yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus, semakin pendeknya masa tunggu siswa untuk mendapatkan pekerjaan pertama setelah mereka lulus, adalah contoh-contoh indikator outcome.
e. Indikator akibat (impact): segala sesutu yang merupakan akibat dari outcomes. Peningkatan popularitas sekolah akibat banyaknya siswa cepat mendapatkan pekerjaan, meningkatnya jumlah siswa yang mendaftar sebagai siswa baru akibat dari banyak nya siswa yang diterima di perguruan tinggi unggulan, cepatnya promosi atau perkembangan karir lulusan di dunia kerja merupakan contoh-contoh indikator akibat tersebut.
Untuk mengukur keberhasilan capaian Indikator Kinerja, maka dalam Renop harus dicantumkan kondisi saat disusunnya Renop dan kondisi yang diharapkan dicapai setelah kegiatan dilaksanakan. Kondisi saat disusunnya Renop digunakan sebagai baseline. Selain itu, jika indikator bersifat spesifik maka perlu dijelaskan bagaimana dan kapan indikator itu akan diukur.
5. Rancangan Kegiatan dengan menentukan jenis dan tahap-tahap pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan operasional selama satu tahun. Pada setiap langkah (sub-kegiatan) harus dijelaskan, maksud dan tujuannya yang ingin dicapai secara ringkas dan jelas. Rancangan kegiatan yang efektif harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut.
a. Kegiatan tersebut bukan merupakan investasi atau pengadaan sumberdaya. Namun harus berupa dampak dari investasi atau upaya pemanfaatan investasi. Kegiatan dapat berlangsung terus-menerus sementara investasi merupakan implikasi dan hanya merupakan tahap paling awal dari sebuah kegiatan.
b. Kegiatan tersebut tidak kompleks, sehingga dapat dipahami dengan mudah dan dapat dilaksanakan dengan baik.
c. Kegiatan tersebut dapat diukur tingkat keberhasilannya. Untuk itu perlu ditetapkan indikator keberhasilan pelaksanaan kegiatan yang dapat diukur. Indikator keberhasilan kegiatan, umumnya berupa indikator keluaran (output), namun dimungkinkan untuk mencantumkan indikator keberhasilan dampak (impact/ outcomes).
d. Cakupan kegiatan tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, karena cakupan ini akan berkaitan dengan beban kerja seorang penanggung jawab. Cakupan kegiatan yang terlalu luas akan meningkatkan beban kerja penanggungjawab.
e. Keluaran (output) maupun dampak (impact/outcomes) kegiatan mempunyai kontribusi yang cukup bermakna (significant) terhadap rencana pengembangan sekolah secara keseluruhan.
f. Keterkaitan antar bagian kegiatan/sub-kegiatan harus terlihat dengan jelas.
g. Keberlangsung kegiatan tergambarkan dengan jelas
6. Sumber daya yang dicantumkan dalam Renop merupakan uraian rinci mengenai jenis, kualifikasi, dan kuantitas sumber daya yang dibutuhkan agar kegiatan/sub-kegiatan yang direncanakan dapat dilaksanakan dan dijaga keberlangsungannya (sustainability). Sumber daya ini dapat meliputi SDM, pra-sarana dan sarana pendidikan, buku-buku perpustakaan, keahlian, informasi, teknologi, sistem manajemen, networking, bahan habis pakai untuk kegiatan manajemen. Sumber daya dan dana yang dibutuhkan antara lain:
a. jenis dan kualifikasi sumber daya manusia, sarana-prasarana, dan informasi yang dibutuhkan dalam implementasi kegiatan.
b. jumlah dan sumber dana yang dibutuhkan untuk pengadaan, peningkatan kualitas, pemeliharaan, dan pengoperasian sumber daya yang dibutuhkan.
7. Jadwal Kegiatan mencakup kapan pekerjaan sesungguhnya dilaksanakan dan batas waktu tugas harus diselesaikan. Sub kegiatan atau tahapan kegiatan yang dicantumkan pada bagian ini, harus sama dengan sub kegiatan atau tahapan kegiatan yang diuraikan pada bagian Rancangan Kegiatan.
8. Penanggung Jawab Kegiatan adalah pejabat atau staf yang bertanggung jawab keterlaksanaan Renop.
D. Menspesifikasi tujuan perencanaan
Analisa bertahap menurut kaufman dalam Pidarta mencakup analisa misi, analisa fungsi dan analisa tugas.
1. Analisis misi
Analisis misi ialah yang dipikul oleh para perencana, sebagai usaha meningkatkan mutu pendidikan mutu pendidikan SMA adalah berupa peningkatan perkembangan para siswa secara total yang menekankan pada aspek afeksi, kognisi¸dan keterampilan. Dalam hal ini bagian-bagian misi/perkembangan total adalah afeksi, kognisi dan keterampilan. Inilah yang disebut analisa misi.
Analisa misi ini digambarkan dengan bagan umum sebagai berikut :

……. …………… …………………. ………

(garis putus-putus adalah hubungan kerja sama).

2. Analisis fungsi
Bila fungsi-fungsi telah diperoleh dalam analisis misi, maka masing-masing fungsi ini dianalisa lebih lanjut, agar menjadi lebih spesifik. Pembagian menjadi kognisi tingkat tinggi dan rendah itu dikatakan analisa tingkat satu, dan pembagian kognisi tingkat rendah menjadi tiga kemampuan dinamai analisis tingkat kedua.
Contohnya Bentuk-bentuk layanan yang dapat memberikan kesejahteraan kepada guru dan siswa ialah layanan bimbingan dan konseling kepada masyarakat, layanan pendidikan keluarga, pemasangan listrik dirumah-rumah oleh siswa sekolah teknik listrik, bengkel sepeda motor, layanan hukum, dan konstruksi bangunan oleh para mahasiswa dan sebagainya. Layanan dapat diberikan kepada warga sekolah/kampus dan dapat pula diperluas ke luar ialah kepada warga masyarakat yang membutuhkan.
Usaha patungan antar sekolah dengan masyarakat sebagai salah satu bentuk swausaha sekolah dapat berwujud produksi untuk keperluan kebutuhan sekolah seperti percetakan, pakaian seragam sekolah, fotocopy, hal ini tentu memberi kesejahteraan para guru dan warga masyarakat.
Bagan umum analisa fungsi sebagai berikut:
analisa tertinggi

analisa tingkat satu

analisa tingkat dua

dst dst
3. Analisis tugas
Bagian fungsi paling kecil atau tugas ialah kemampuan mengetahui, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Begitu pula contoh tugas dalam fungsi swausaha sekolah adalah usaha kelas, latihan keterampilan proses, koperasi, produksi, keperluan sekolah, dan pertunjukan kesenian keliling.
Bagian-bagian fungsi yang paling kecil tersebut diatas dalam sistem disebut komponen. Komponen-komponen inilah yang merupakan tugas-tugas nyata yang spesifik bagi para perencana untuk mereka kerjakan agar dapat merealisasi tujuan-tujuan-tujuan yang sudah spesifik pula. Kalau para perencana sudah berhasil mengerjakan komponen-komponen/tugas-tugas ini dengan sukses sehingga memberikan hasil seperti yang diharapkan, maka berarti tugas perencanaan sudah selesai dan misi yang dipikulnya sudah berhasil dengan gemilang.
Kalau para perencana sudah berhasil mengerjakan komponen-komponen/tugas ini dengan sukses sehingga memberikan hasil seperti yang diharapkan, maka berarti tugas perencana sudah selesai dan misi yang dipikulnya sudah berhasil dengan gemilang.
Pendekatan Sistem
Perencanaan memandang tujuan perencanaan atau misi atau program strategi sebagai suatu sistem. Dan sistem itu dianalisis menjadi sub sistem, kemudian diuraikan lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga menemukan bagian yang paling kecil yang disebut komponen.
Dalam analisis tersebut diatas, fungsi adalah merupakan sub sistem dari misi sebagai sistem. Hasil analisis satu pada fungsi tertentu adalah sub-sub sistem, sedangkan pada fungsi yang lain mungkin sudah melahirkan komponen karena tidak dapat dibagi-bagi lagi.
E. Menentukan standar performan
Dalam perencanaan pendidikan objek yang diperbaiki, dilengkapi, atau diubah adalah semua unsur pendidikan. Jadi bukan hanya sisa yang ditangani, melainkan juga para personalia pedidikan, mencakup sarana prasarana juga, serta masyarakat sekitar yang memberi pengaruh terhadap lingkungan pendidikan.
Standar performan adalah suatu ukuran atau kriteria yang tepat yang diterima oleh umum untuk tujuan perencanaan yang spesifik, sehingga atas dasar kriteria itu para pelaksanaan program/tugas dapat mewujudkan tujuan itu secara tepat pula sesuai dengan kreteria. Contoh standar performan lingkungan belajar ialah iklim organisasi pendidikan yang hangat, komunikasi yang harmonis, kerja sama yang erat/gotong royong, kaya dengan sumber belajar, dan pembimbingan yang penuh dengan kasih sayang.
Cunningham menyatakan disamping memasukkan ukuran (performan standar sebagai target yang diharapkan) juga menyebutkan persyaratan lainnya yang dirlukan oleh setiap tugas agar dapat dikerjakan dengan baik. Syarat tersebut antara lain:
1. Siapa/apa objek tugas tersebut
2. Bentuk kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas itu
3. Ukuran/kriteria/standar performan
4. Kapan dan dimana masing-masing tugas dikerjakan
5. Keahlian apa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang akan mengerjakan tugas itu.
Sedangkan pihak-pihak yang dapat terlibat dalam proses evaluasi pelaksanaan perencanaan pendidikan di setiap satuan pendidikan adalah: Kepala sekolah, Guru, Siswa, Komite Sekolah, Pengawas sekolah dan Dinas pendidikan (Vembrianto. 1982; Soenarya, E. 2000; Depdiknas, 2001, 2006 dalam Arifin, 2010).
F. Analisis alat dan metode
Analisis alat dan metode adalah tugas mencari jalan untuk mengerjakan setiap tugas agar menghasilkan tujuan-tujuan spesifik yang telah digariskan bersama atau dengan kata lain apa yang mungkin dapat dipakai menyelesaikan tugas tersebut setelah komponen-komponen atau tugas dikemukakan. Untuk mencapai maksud tersebut dibutuhkan informasi tentang sumber-sumber pendidikan dan kemudian membentuk alternatif-alternatif pemecahan.
1. Sumber-sumber pendidikan
Sumber-sumber pendidikan itu sebagian besar dapat diambil melalui studi dokumentasi, sebab sumber-sumber itu sebagian besar tercatat dalam arsip. Jumlah para pengajar dengan keahliannya masing-masing, banyaknya alat peraga, besarnya uang yang tersedia dan sebagainya semua tercatat dalam dokumentasi. Namun demikian masih banyak pengetahuan-pengetahuan lain yang diperlukan dalam perencanaan yang tidak dapat diambil melalui studi dokumentasi. Lingkungan belajar misalnya hanya bisa diketahui melalui observasi. Begitu pula pada personalia pendidikan untuk mengerjakan pekerjaan tambahan diluar rutin yang dibutuhkan dalam perencanaan hanya dapat diperoleh melalui interview. Mungkin data ini dapat diperoleh melalui angket, tetapi kurang efektif.
2. Analisis alat dan metode yang tunggal
Dalam menentukan alat dan metode ini untuk setiap tugas perlu diperhatikan syarat-syarat yang sudah ditentukan yaitu apa/siapa objek yang ditangani, kapan dan dimana dilaksanakan, keahlian apa yang dibutuhkan oleh pelaksana. Tugas melaksanakan latihan keterampilan membuat wayang kulit misalnya, obyeknya ialah siswa yang melaksanakan latihan membuat wayang kulit yang baik sehingga laku dijual. Bentuk kegiatannya berlatih dan melatih secara berulang-ulang dalam segala aspek pekerjaan membuat wayang, mulai dari menggambar , mengukir, mewarnai, sampai mengisi tangkainya. Standar performanya ialah dapat membuat wayang minimum 10 jenis dalam bentuknya yang tepat dan artistik.
Dengan membuat perencanaan strategi lengkap dengan manajemen personalia atau manajemen manusia, diharapkan kemungkinan-kemungkinan negatif di atas dapat diminimalkan. Namun demikian kemungkinan seperti ini masih tetap ada, sehingga perencanaan pendidikan dikaitkan dengan penelitian tindakan (action research). Supaya program/tujuan pendidikan tertentu dapat dilaksanakan.
3. Analisis alat dan metode yang paralel
Sesudah analisis misi menghasilkan fungsi-fungsi, maka setiap fungsi juga dicarikan alat dan metodenya yang cocok. Sama halnya dengan pada misi, bila ada fungsi yang sukar dicari pemecahannya, berkonsultasi bila diperlukan, atau belajar dari ahli tertentu. Ssesudah jelas tentang cara mengatasi kesulitan itu barulah analisis diteruskan. Perlu diketahui bahwa uraian/deskripsi atau isi alat dan metode pada setiap fungsi sudah lebih mendetail dari pada isi alat dan metode pada misi. Ini berarti setiap hasil tingkat analisis alat dan metode selalu dicocokkan dengan obyek yang ditangani, termasuk pada setiap tugas yang dikerjakan.
4. Pembentukan alternatif-alternatif pemecahan tugas
Banyak alternatif untuk setiap tugas tidak selalu sama. Ada tugas yang memakai alternatif pemecahan empat, ada yang tiga, dan ada pula yang kedua. Yang perlu dihindarkan adalah jangan membuat alternatif terlalu banyak untuk memecahkan suatu tugas. Pembuatan alternatif yang banyak ini cenderung keluar dari hasil berpikir yang tidak cermat. Begitu pula hindari membuat alat dan metode pemecahan hanya satu sebagai cara yang tunggal. Pada umumnya setiap tugas dibuatkan alternatif pemecahannya sebanyak tiga buah.
Informasi yang diperlukan pada setiap penentuan alat dan metode (alternatif) ialah : 1. Efektivitas, 2. Keuntungan, 3. Kelemahan, 4. Persyaratan waktu, 5. Sumber pendidikan yang tersedia, 6. Sumber pendidikan yang dibutuhkan, 7. Persyaratan personalia, 8. Fasilitas yang diperlukan, dan 9. Biaya.
G. Implementasi
Implementasi artinya suatu usaha untuk mencoba konsep tersebut. Sebelum melakukan implementasi perlu mengadakan persiapan terlebih dahulu. Persiapan itu dikenal dengan action planning, yang menyiapkan hal-hal sebagai berikut:
1. Menentukan kunci konsep implementasi seperti objek, metode, alat, pelaksana, dan sebagainya
2. Mengantisipasi kemungkinan hal-hal yang bersifat negatif atau positif akan terjadi
3. Memprediksi hasil dan efek bagi semua pihak
4. Mempertimbangkan kemungkinan perubahan-perubahan biaya dan waktu
5. Menyiapkan tahap-tahap kegiatan pada setiap tugas (job description)
6. Menyiapkan perbekalan
7. Menyiapkan transportasi dan sebagainya
Implementasi perencanaan operasional mengharuskan organisasi untuk menetapkan tujuan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber daya sehingga perencanaan operasional dapat berjalan dengan baik.
Suatu perencanaan baru dipandang selesai kalau ia sudah dapat merealisasi tujuan atau misi yang dicerminkan oleh perwujudan performan yang standar oleh setiap tugas. Performan yang standar ini bisa tampak terwujud kalau implementasi sudah memberikan hasil seperti itu. Ini berarti perencanaan baru dikatakan berakhir ialah kalau implemenatasi sudah selesai, satu kali atau beberapa kali, dengan konsep yang tidak perlu direvisi lagi.


BAB III
KESIMPULAN
Perencanaan operasional adalah perencanaan yang memusatkan perhatiannya pada operasi sekarang (jangka pendek) dan terutama berkenaan dengan tujuan mencapai efisiensi.
Menurut Morphet dalam Made pidarta (2005:101) prosedur yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan operasional: Mengumpulkan informasi dan analisa data, Menyelesaikan perubahan dalam bentuk kebutuhan, Mengidentifikasi tujuan dan prioritas, Membentuk alternatif-alternatif penyelesaian dan Mengimplementasi, menilai dan memodifikasi.
Untuk menspesifikasi tujuan perencanaan digunakan analisa misi, fungsi dan tugas. Implementasi dari perencanaan operasional dapat dikatakan berhasil apabila mampu merealisasi tujuan atau misi yang dicerminkan oleh perwujudan performan yang standar oleh setiap tugas. Performan yang standar ini bisa tampak terwujud kalau implementasi sudah memberikan hasil.

DAFTAR PUSTAKA

Desiwidiasari, 2011. Teori perencanaan pendidikan. (online), (http://desiwidiasari.wordpress.com/2011/05/05/teori-perencanaan-pendidikan/) diakses tanggal 18 september 2012
Made Pidarta, 2005. Perencanaan pendidikan partisipatori dengan pendekatan sistem, Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Wikipedia, 2011. Perencanaan operasional. (online), (http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Operational_planning), diakses tanggal 18 september 2012

SAM_0436

SAM_0436

rekreasi with family

sistem informasi manajemen

 

A      Pengertian sistem informasi manajemen pendidikan adalah merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan bidang pendidikan. Selain itu juga system informasi manajemen dapat diartikan suatu sestem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengmbilan keputusan pada kegiatan manajemen(perencanaan, penggerakan, pengorganisasian, dan pengendalian)dalam lembaga  pendidikan.[1]

Sistem informasi manajemen pendidikan saat ini baru sebatas wacana, diharapkan pada waktu yang tidak terlalu lama SIM pendidikan ini tidak sebatas wacana tetapi sudah mengarah keaplikasi yang betul-betul menunjang kegiatan dunia pendidikan pada umumnya. Untuk menerapkan SIM pendidikan yang terpadu dan memiliki kapabilitas dalam mendukung keberhasilan dunia pendidikan yang signifikan, diperlukan keseimbangan sumber daya yang tersedia antara ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki ketrampilan dalam mengoperasikan teknologi informasi seperti computer dan ketersediaan dana untuk pengandaan perangkat computer yang sudah canggih.

Peranan serta tugas dalam proses manajemen, mengenai gambaran system informasi pendidikan yang dibutuhkan di Indonesia idealnya adalah bagaimana para pengambil keputusan bidang pendidikan.Misalnya, berapa jumlah sumber daya manusia pendidikan yang dibutuhkan,jenis sekolah, tingkatan sekolah, pelaksanaan kurikulum, perkembangan lembaga pendidikan local, regional,bahkan internasionaluntuk dapat memperbaiki kinerja dunia pendidikan masa lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang. .[2]

 

B        Karena computer pada dasarnya di dalam bidang informasi,yang dirumuskan dengan memperhitungkan kebutuhan bangsa dan Negara di Indonesia dalam semua segi kehidupan bangsa dan Negara serta dikaitkan dengan strategi dasar pembagunan. Antara lain dengan keberhasilan pembagunan,terutama di bidang ekonomi,yang diharapkan akan terus meningkat, tuntutan masyarakat akan berbagai jenis barang dan jasa akan semakin meningkat pula yang pada giliranya akan mengharuskan para pemimpin berbagai jenis perusahaan untuk menghadapi kompetisi yang semakin berat yang selanjutnya akan menuntut ketrampilan manajemen,terutama ketrampilan dan kecekatan mengambil keputusan yang lebih tinggi. Keadaan yang demikian pun akan mengakibatkan menigkatkannya pengguna computer.maka tidak dapat disangsikan lagi bahwa computer are here to stay tekad seluruh rakyat dan bangsa Indonesia untuk mengintensifikasikan kegiatan-kegiatan pembagunan disegala bidang kiranya akan lebih mendorong pengguna teknologi computer.[3]

Dalam bidang persekolahan di Indonesia,sudah ditetapkan adanya standart kompetensi yang harus dicapai oleh siswa salah satu indicator minimal bagi keberhasilan pencapaian mutu pendidikan. Kompetensi yang diharapkan dapat dimiliki siswa berawal dari terbentuknya akhlak dan budi pekerti luhur yang bisa membentuk perilaku dan bertanggug jawab untuk mengikuti proses pendidikan pada tingkat sekolah yang telah dijalaninya. Berbekal pada perilaku yang diatas,dapat dimengerti salah satu keuntungan pengguna system informasi manajemen dalam pendidikan,di harapkan dapat menghantarkan siswa untuk mengembangkan ketrampilan dan kemampuan siswa,agar dapat memasuki kehidupan pribadi sebagai anggota masyarakat. Selain itu berkenan dengan kesiapan dan kemampuan siswa untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi atau kedunia  kerja sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Karena pada dasarnya system pendidikan juga merupakan perpanduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih,menyimpan,mengolah,dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung proses keputusan tentang bidang pendidikan

C       Sejak manusia hidup berorganisasi, sejak itu pulalah proses pengambilan keputusan telah timbul. Dalam bermasyarakat yang sederhana pula. Akan tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang semakin pesat, maka semakin rumit pulalah tugas-tugas pengambilan keputusan.

Pengambilan keputusan tertutup(terstruktur),yaitu prosedur pemecahan permasalahan yang menyangkut langkah-langkah dalam prosedur kombinasi ini adalah Intelijen,desain,pilihan.

  • Intelijen:

a)  Pembentukan persepsi terhadap situasi yang dihadapi

b)  Membangun model yang mewakili situasi

c)  Penentuan ukuran kuantitatif terhadap biaya dan manfaat yang paling tepat untuk situasi yang dihadapi.

  • Desain:

penentuan dengan spesifik alternative yang dimiliki ialah mengenali dan merumuskan dengan jelas langkah-langkah yang mugkin dilakukan.

  • Pilihan:

a)  Evaluasi manfaat dan biaya

b)  Menetapkan kriteria dalam memilih langkah yang terbaik

c)  Penyelesaian situasi keputusan

Contoh:1)  Masukkan informasi

2)  Analisis informasi yang tersedia

3)  Penentuan ukuran kinerja dan biaya

4)  Penciptaan model yang mewakili situasi keputusan

5)  Perumusan pilihan(strtegi)yang tersedia bagi pembuat keputusan

6)  Perkiraan hasil dari setiap pilihan yang tersedia

7) Penentuan kriteria dalam memilih pilihan yang tersedia

8)penetapan keputusan bagi situasi keputusan yang dihadapi

Pengmbilan keputusan terbuka(tidak terstruktur),dalam pembuatan keputusan ini tidak memugkinkan pemecahan masalah menggunakan prosedur rutin,maka kondisi ini dikatakan sebagai situasi keputusan yang tidak berstruktur.

Contoh:1)  Ketidak lengkapan informasi

2)  Kurangnya ukuran kuantitatif manfaat dan biaya

3)  Terdapat lebih satu tujuan

4)  Terdapat lebih dari satu pembuat keputusan .[4]

4.       Pengembangan sistem dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki oleh karena beberapa hal atau alasan, yaitu:

a) Munculnya problem pada sistem yang lama

permasalahanya yang timbul dapat berupa:

  1. Ketidak beresan pada sistem yang menyebabkan sistem dapat beroperasi sesuai harapan
  2. Pertumbuhan dalam kebutuhan organisasi yang menyebabkan sebuah sistem baru harus disusun. Kebutuhan organisasi diantaranya adalah pada informasi yang semakin luas sehingga volume pengolahan data menjadi semakin meningkat

b) Untuk meraih kesempatan

Teknologi komputer berkembang dengan cepat sehingga organisasi mulai merasakan bahwa teknologi informasi perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi agar dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen. Dalam keadaan pasar bebas, kecepatan informasi sangat menentukan berhasil tidaknya srategi dan rencana-rencana yang disusun untuk meraih kesempatan. Kesempatan ini dapat berupa peluang-peluang bisnis, pelayanan meningkat pada langganan, dan lain sebagainya.

c) Adanya instruksi-instruksi

Bisa juga sistem baru dibuat karena ada instruksi dari pemimpin ataupun kekuatan dari luar organisasi, misalnya peraturan pemerintah

Jadi sistem baru dikembangkan untuk memecahkan permasalahan yang timbul, agar dapat meraih kesempatan atau untuk memenuhi instruksi yang diberikan.

Pengembangan sistem informasi memerlukan proses yang panjang dan kompleks, meliputi penentuan kebutuhan informasi, merancang sistem informasiu untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan melettakan sistem informasi pada kondisi operasional. Pengembangan sistem informasi melibatkan partisipasi dan dukungan dan berbagai pihak yang berbeda kemampuanya untuk melaksanakan sejumlah tugas-tugas yang direncanakan.

Perubahan yang terjadi didalam organisasi mungkin mengakibatkan munculnya kebutuhan untuk membagun sistem informasi yang baru atau mengembangkan  informasi  yang baru atau mengembangkan sistem informasi yang sudah ada. Proses perkembangan sistem informasi, mulai dari konsep sampai dengan implementasinya disebut dengan istilah Syestem Development Life Cycle. Ada 2 aspek penting didalam pengembangan-pengembangan sistem informasi, yaitu :

a)      Data tentang masalah-masalah yang ada saat ini

b)      Data tentang kemugkinan penyelesaian untuk masalah-masalah tersebut diatas

Selain itu tujuan utama pegembangan sistem informasi adalah sebagai berikut:

a)      Menyusun sistem informasi yang menuhi kebutuhan informasi organisasi dan kebutuhan dari fungsi operasi organisasi

b)      Menyusun Informasi organisasi dengan cara yang efesien dan efektif

c)      Mengorganisasi suatu sistem informasi yang baru yang dapat menangani semua problem yang terjadi didalamorganisasi.

Proses pengembangan sistem terdiri dari 4 fase yang berbeda. Yaitu        Investigasi sistem, Analisis sistem, Desaign sistem, dan implementasi sistem. [5]

BAB I

PENDAHULUAN

Pada dunia pendidikan, yaitu diperkenalkan reformasi pendidikan yang berkaitan erat dengan system informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan dunia pendidikan. Konsep ini memiliki nuansa bagaimana dunia pendidikan berusaha menggunakan perangkat computer, yang dapat diaplikasikan sebagai sarana komunikasi untuk meningkatkan kinerja dunia pendidikan secara signifikan.

Informasi merupakan satu-satunya sumber yang dibutuhkan seorang pemimpin lembaga pendidikan. Informasi yang diolah dari sumber lain yang dipengaruhi oleh organisasi yang sangat kompleks dan perangkat computer yang dimilikinya. Informasi dapat memperbaiki kinerja lembaga pendidikan, layaknya kinerja usaha lembaga bisnis.

Informasi yang diolah dengan menggunakan computer dapat digunakan oleh seorang pimpinan organisasi atau perseorangn dengan keahlian yang dimiliki sebagai sarana komunikasi dan pemecahan masalah, serta informasi yang sangat berharga dalam proses pengambilan keputusan. Informasi dapat digali melalui sumber-sumber yang tersedia, seperti sumber daya manusia, material, alat, biaya yang dibutuhkan, serta data yang akan diolah.

Ledakan informasi saat ini menimbulkan dampak yang sangat kuat terhadap kompleksitas manajemen pada umumya, khususnya manajemen pendidikan pimpinan sebuah lembaga pendidikan pada dasarnya adalah pengolah informasi,seorang pimpinan harus memiliki kapabilitas untuk memperoleh, menyimpan, mengolah, mengambil, kembali, serta menyajikan informasi sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan bidang pendidikan yang dapat dipertanggug jawabkan secara moral.

BAB III

 

KESIMPULAN

 

  1. Mengenai pengertian dalam system pendidikan dalam menghadapi globalisasi, dunia pendidikan Indonesia harus secepatnya berbenah diri dalam meningkatkan system informasi guna menunjang daya saing sumber daya manusia yang dihasilkan oleh suatu lembaga pendidikan tersebut. System informasi yang akan datang diciptakan harus seimbang antara infrastruktur teknologi yang tersedia dengan kemampuan sumber daya manusia, sehingga tidak terjadi ketimpangan yang sangat jauh, dan system informasi tidak dapat terwujud secara significant dalam menunjang kuantitas maupun kualitas pendidikan secara mendasar. Disamping itu system informasi semakin dibutuhkan oleh lembaga pendidikan, control kualitas dan menciptakan aliansi atau kerja sama dengan pihak lain yang dapat meningkatkan nilai lembaga pendidikan.
  2. Pada dasarnya computer  didalam bidang informasi, antara lain dengan keberhasilan pembangunan, terutama dibidang ekonomi, yang diharapkan akan terus meningkat, tuntutan masyarakat akan berbagai jenis barang dan jasa akan semakin meningkat pula yang pada gilirannya akan mengharuskan para pemimpin berbagai jenis perusahaan untuk menghadapi kompetisi yang semakin berat yang selanjutnya akan menuntut ketrampilan manajemen. Keadaan yang demikian pun akan mengakibatkan meningkatnya pengguna computer.
  3. pengambilan keputusan tertutup (terstruktur) adalah prosedur pemecahan permasalahan yang menyangkut langkah-langkah dalam prosedur kombinasi ini, antara lain : intelijen, desain, dan pilihan.

Pengambilan keputusan terbuka (tidak terstruktur), keputusan ini tidak memungkinkan pemecahan masalah menggunakan prosedur rutin.

  1. Tinjauan pengembangan system untuk menggantikan system yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki system yang telah ada. System yang lama diperbaiki dengan beberapa alasan :

 

a) Munculnya problem pada system yang lama

b) Untuk meraih kesempatan

c) Adanya intruksi-intruksi

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Rhochaety,Eri,Dr.SISTEM INFORMASI MANEJEMEN PENDIDIKAN,Jakarta,2005,PT Bumi Aksara

Sutabri,Tata,ANALISIS SISTEM INFORMASI,Jogjakarta,2004

Basyaib,Fahmi,TEORI PEMBUATAN KEPUTUSAN,Jakarata,2006,PT grasindo

Sondang,Siagian,SISTEM INFORMASI UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN,Jakarta,1990

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Dr.Eri rochaety, Sistem informasi manajemen pendidikan ,cetakan I Jakarta, Hal 12-13

[2] Sistem informasi manajmen data dan informasi pendidikan, Jakarta ,Hal 2

[3] Siagan sondang, (saitem informasi pengambilan keputusan ) Jakarta , Hai 183-184

[4]Fahmi Basyaib.Teori pembuatan keputusan, Jakarta Hal 20-30

[5] Tata sutabri, Analisis system informasi manajemen , Yogyaakarta ,Hal  50-52

bimbingan konseling

 

FUNGSI, TUJUAN DAN MANFAAT BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Fungsi Bimbingan dan Konseling

Ditinjau dari sifatnya, layanan bimbingan dan konseling dapat berfungsi :

1.      Pencegahan

Layanan bimbingan dapat berfungsi sbagai pencegahan, artinya usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam fungsi pencegahan ini layanan yang diberikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dihadapi yang dapat menghambat perkembangannya.

 

2.      Fungsi Pemahaman

Fungsi pemahaman yang dimaksud adalah fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa. Pemahamannya mencakup :

a.       Pemahaman tentang diri siswa

b.      Pemahaman tentang lingkungan siswa

c.       Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas

 

3.      Fungsi Perbaikan

Fungsi perbaikan berperan sebagai fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahkannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami siswa.

 

4.      Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan

Fungsi ini berarti bahwa layanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantab, terarah dan berkelanjutan.

 

B. Tujuan Bimbingan dan Konseling

1.      Tujuan Umum

Tujuan umum dari layanan bimbingan dan konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan, yakni terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keteampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

2.      Tujuan khusus

Secara khusus, pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi-sosial, belajar dan karier.

a.       Dalam Aspek Tugas Perkembangan Pribadi-Sosial

Dalam aspek tugas perkembangan pribadi-sosial, layanan bimbingan dan konseling membantu agar siswa :

  • Memiliki kesadaran diri
  • Dapat mengembangkan sikap positif
  • Membuat pilihan secara sehat
  • Mampu menghargai orang lain
  • Memiliki rasa tanggung jawab
  • Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi
  • Dapat menyelesaikan konflik
  • Dapat membuat keputusan secara efektif.

 

b.      Dalam Aspek Tugas Perkembangan Belajar

Dalam aspek tugas perkembangan belajar, layanan bimbingan dan konseling membantu siswa agar :

  • Dapat melaksanakan keterampilan dan teknik belajar secara efektif
  • Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
  • Mampu belajar secara efektif
  • Memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi atau ujian.

 

c.       Dalam Aspek Tugas Perkembangan Karier

Dalam aspek tugas perkembangan karier, layanan bimbingan dan konseing membantu siswa agar :

  • Mampu membentuk identitas karier, dengan cara mengenali cirri-ciri pekerjaan di dalam lingkungan kerja
  • Mampu merencanakan masa depan
  • Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier
  • Mengenal keterampilan, kemampuan, dan minat.

 

C. Manfaat Bimbingan dan Konseling

Setiap manusia pasti berkenalan dengan masalah, konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar. Hal ini merupakan hal yang wajar sebagai suatu tahapan dari pengalaman hidup dan perkembangan diri seseorang. Oleh karena itu, kita semua pasti mengalami atau memiliki saat-saat dimana diri kita merasa down (sedih, kecewa, tidak bersemangat, stres, depresi dll) ataupun malah sebaliknya merasa takut, cemas, terlalu bersemangat dll.

Banyak kejadian-kejadian dalam hidup ini yang dapat maupun tidak dapat dihindari yang membuat kita merasakan hal-hal seperti diatas. Ada kalanya pula kita dapat mengatasi masalah atau perasaan tersebut dengan baik namun ada kalanya dimana kita merasa stuck, bingung, cemas tanpa tahu harus mengadu kemana dan berfikir bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membantu.

Konseling merupakan salah satu cara yang tepat untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan-permasalahan dalam hidup. Konseling membantu kita untuk mengidentifikasi masalah, mencari solusi atau alternatif yang tepat dan menyadarkan akan adanya potensi dari setiap manusia untuk dapat mengatasi berbagai permasalahannya sendiri.

Ada beberapa keuntungan yang bisa di dapat dengan melakukan konseling, diantaranya :

  • Menurunkan / menghilangkan stress
  • Membuat diri kita merasa lebih baik, bahagia, tenang dan nyaman
  • Lebih memahami diri sendiri dan orang lain
  • Merasakan kepuasan dalam hidup
  • Mendorong perkembangan personal
  • Meningkatkan hubungan yang lebih efektif dengan orang lain
  • Memaksimalkan fungsi diri dan kehidupan kita sehari-hari
  • Mengangkat semangat diri

Disadari atau tidak pada dasarnya setiap manusia memiliki kekuatan dan banyak hal-hal positif dalam dirinya. Layanan Konseling menyadari bahwa setiap orang tidak terlepas dari masalah dan berharap dapat membantu kita semua untuk melewati permasalahannya dengan lebih baik dan positif sehingga dapat memberikan dampak yang lebih baik pula pada diri kita masing-masing.

 

 

file2

adapun panjang angan-angan/khayalan adalah suatu penghalang terhadap smua kebaikan & keta’atan, serta mendatangkan semua kejahatan & fitnah. dan itu adalah suatu penyakit parah yg dpt menjerumuskan makhluk ke dalam berbagai bahaya.

ketahuilah jika kita panjang khayal akan bergejolak daripadanya 4 macam kelakuan:

1. bermalas-malas utk ta’at hingga meninggalkannya sama sekali. angan-anganmu akan berkata: ” pasti akan kukerjakan ta’at itu, sekarang ini memang belum dapat, tapi hari esok msh panjang. aku pasti tidak akan luput dari mengerjakan ta’at itu”.
dan sungguh benar apa yg telah dikatakan oleh syeikh Daud Aththo’i: ” barang siapa takut ancaman siksa, tentu yg jauh akan menjadi dekat, & barang siapa panjang khayal/cita-citanya niscaya akan buruk amalnya”.

2.akibat thulul amal (panjang angan-angan) itu adalah diulur-ulurnya taubat bahkan ditinggalkannya. dengan alasan ” Hari masih panjang, aku masih muda & pengetahuan untuk taubat sudah saya miliki, jadi waktunya nanti saja. aku tinggal memulainya dikala menghendakinya”. orang ini tidak ingat bahwa ia dlm keadaan seperti ini,jika disambar taqdir akan mati sebelum memperbaiki amalnya.

3. akibat lain dari thulul amal, gemar menumpuk harta & masygul (disibukkan) hatinya oleh dunia & lupa akhirat. dia berangan-angan kalau tidak menimbun harta dari sekarang takut faqir dihari tua, dimana tidak kuat lagi berusaha. jadi dari sekarang perlu menyimpan & menumpuk kelebihan dari belanja sehari-hari, cadangan dlm keadaan sakit atu jompo atau faqir. pikiran semacam ini akan menggerakkan kpd gandrung terhadap dunia & loba kepadanya. serta perhatiannya sepenuhnya ditujukan hanya kpd rizki saja, dalam angan-anganya ia mengatakan: ” apa yg akan aku makan & minum nanti? dan apa yg akan aku pakai nanti pada musim panas dan dingin, kalau tidak ditimbun dari sekarang? siapa tahu umurku masih panjang sedangkan kebutuha dimasa tua sangat berlebihan, jadi tidak boleh tidak aku harus mengumpulkan sebanyak-banyak bekal & kekayaan agar tidak butuh bantuan orang lain? (pikiran seperti ini terus mendalam sehingga ia tdk sempat beribadah & sampai lupa kpd Tuhan & lupa kewajiban). hal seperti ini menggerakkannya selalu cenderung pada dunia. menggemarinya serta menumpuknya akhirnya menjadi kikir.
Akibat terkecil dari semua ini paling tidak hatimu jadi bimbang, umur atau waktumu sia-sia, kesusahan & kebimbangan menjadi menumpuk tidak berfaedah. sebagaimana diriwayatkan Sayyidina Abi Dzar. ra beliau berkata: ” Aku telah dibunuh oleh kebimbangan hati walaupun aku belum sampai kesana”. maka ada yg bertanya: “bagaimana artinya itu ya Abi Dzar? “. jawabnya: “karena anganku melampaui ajalku “.

4. akibat thulul amal itu hati orang jadi membatu & lupa kpd akhirat, karena jika engkau menghayalkan kehidupan yg lama tentu ingatanmu kpd maut & kubur jd hilang.
sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah :
“Sesungguhnya yg sangat aku takutkan untuk kamu itu ada dua hal, pertama: perasaan masih jauh akan mati & kedua tunduk kpd Nafsu “.

ingatlah bahwa thulul amal itu akan melupakan akhirat & tunduk pada nafsu akan menyimpangkan orang dari kebenaran, sedang pikiran & urusanmu yg kau pandang besar hanyalah cerita-cerita mengenai dunia, sebab-sebab kehidupan, tentang pergaulan dengan makhluk & hal itu dapat membuat hati menjadi keras. padahal lunaknya & jernihnya hati ialah dengan mengingat maut & kubur, mengingat ganjaran & siksaan. jika tidak demikian bagaimana hatimu akan menjadi lunak & jernih.
Firman Allah SWT :
” Panjangnya angan-angan mereka menyebabkan kerasnya hati mereka “. (Q.S. Al – Hadid : 16 ).

jadi jika engkau merasa masih lama akan mati, niscaya sedikit ta’atmu & terlambat untuk taubat, maksiatmu banyak, serakahmu keterlaluan, hati membatu serta besar kelalaianmu & akibatnya tidak ada apapun untuk akhiratmu..Na’udzubillah.

kejadian apa yg lebih jahat daripada itu & penyakit apa kiranya yg lebih parah daripada itu? kesemua itu disebabkan THULUL AMAL ( merasa masih lama akan mati)
berkata Sayyidina ‘Auf bin Abdillah ra : ” Berapa banyak orang yg sehat sedang mengalami hidup satu hari, tapi ia tidak sampai hidup sore harinya, dan berapa banyak orang menanti hari esok tapi ia tidak dapat sampai mengalaminya, jika engkau mengetahui ajal & perjalanannya, tentu engkau benci kpd angan-angan & tipuannya..

dikutip dari kitab Minhajul ‘Abidin karangan Imam Ghazali diterjemahkan oleh KH. Abdullah bin Nuh

 

Aku mulai berkata dg Taufiq dari Allah SWT : “wahai org yg ingin lepas dari bahaya & ingin beribadah secara murni kpd Tuhan, semoga Allah memberi kita semua taufiq. bagaimanapun juga kita harus memiliki ilmu terlebih dahulu. sebab ibadah itu percuma tanpa ilmu, karena ilmu itu porosnya,segala sesuatu berputar disekitarnya”.

ketahuilah, bahwa ilmu & ibadah itu adalah 2 permata, dari ilmu & ibadah itulah terjadi segala apa yg kita lihat & dengar, baik kitab-kitab yg dikarang para Ulama, ajaran dari guru-guru, Nasehat dari para penasehat, pikiran para pemikir. itu semuanya demi ilmu & Ibadah, dan karena untuk ilmu & ibadah juga maka kitab-kitab suci diturunkan oleh
Allah SWT, smua Rasul-rasul di utus hanya untuk ilmu & ibadah, bahkan lebih dari itu, langit & bumi diciptakan Tuhan hanya untuk ilmu & ibadah. begitu pula smua apa yg ada di langit & di bumi serta makhluk yg hidup & yg tidak hidup.

sekarang renungkanlah 2 ayat dlm kitab suci Allah SWT (AlQur-an) slh satu diantaranya adalah:
” Allah SWT yg menciptakan tujuh langit & tujuh Bumi seperti langit, turun berkali-kali perintah Allah SWT antara langit & bumi supaya kamu sekalian memperoleh ilmu, bahwa sesungguhnya Allah itu maha kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa sesungguhnya ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu”. (Q.S. Ath-Thalaaq : 12)
dengan tafakur tentang langit & bumi kita berharap akan memperoleh ilmu itu nanti.

dan sepenggal ayat diatas sdh ckp sbg dalil untuk mengetahui bahwa ilmu itu mulia, terutama ilmu Tauhid, sebab dgn ilmu ini kita akan mengenal Allah beserta asmaNya, sifat-sifatNya dan lain sbagainya.

ayat yg kedua yg harus kita renungkan itu ialah Firman Allah SWT :
” Dan aku menciptakan jin & manusia tidak lain hanya untuk beribadah kepadaKu”. (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 56).
ayat yg satu ini sdh cukup menjadi petunjuk bahwa ibadah itu mulia & bahwa kita harus beribadah. amat besar nilai dua hal ini yg menjadi maksud diciptakannya dunia & Akhirat. itulah ilmu & ibadah. jadi wajib bagi setiap hamba untuk memperhatikan ilmu & ibadah saja. hany untuk kedua hal ini sajalah ia lebih menyibukkan diri & mencurahkan segenap tenaga & pikirannya. selain dua hal ini bathil tidak ada kebaikannya. jadi kalau kita mengerjakan yg sifatnya keduniaan maka harus di niatkan karna Allah dan itu sdh termasuk ibadah, serta jadikan dunia sbg ladang untuk akhirat.

jika kita telah mengetahui hal itu, yakinlah bahwa ilmu adalah permata yg mulia & terutama dari 2 permata itu. oleh karena itu Nabi SAW bersabda :
” Kelebihan orang yg berilmu atas orang yg beribadah seperti kelebihanku atas orang terendah dari umatku”. ( Hadits Hasan sanadnya & diperkuat oleh yg lainnya. diriwayatkan oleh Al Harits bin Huzamab dari Abi Said Al Khudri & diperkuat oleh riwayat dari Turmudzi & Abi Umamah)

Sabda Rasulullah SAW :
” Sekali melihat kewajah orang yg berilmu, lebih menyenangkn bagiku daripad ibadah 1 thn penuh, puasa siangnya, shalat malam harinya”.
inilah fadhilah ilmu. namun hanya berlaku bagi orang berilmu yg ilmunya di amalkan..

roda kehidupan terus berputar

siapa yakin maka impiannya akan terwujud, bagaimana dengan kegalauan hati???

aq tak prnah bisa memahami bagaimana belajar di kehidupan, apa aq terlalu menutup mata, sehingga sulit membedakannya?

aq galau dalam keresahanku, aq terluka sendiri…

kata hati

Jika Nabi Muhammad Datang ke Rumahmu…

Jika Nabi Muhammad datang ke rumahmu,
Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu,
Tanpa kabar apa-apa sebelumnya,
Apakah yang akan kau lakukan untuknya?

Akankah kau sembunyikan buku duniamu,
Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadits di rak buku?
Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu,
Dan kau hiasi mejamu dengan Qur’an yang telah berdebu?
Akankah kau masih melihat film X di TV,
Atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi?
Maukan kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi,
Ataukah dengan cepat rencanamu kau ganti?
Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya,
Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya?

Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksikan,
Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari biasa kau lakukan?
Akankah kau berkata-kata seperti apa yang sehari-hari kau katakan?
Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnya jika Nabi tidak
kerumahmu?

Sangatlah menarik untuk tahu
Apa yang akan kau lakukan
Jika Nabi Muhammad datang, mengetuk pintu rumahmu.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!