UJIAN AKHIR SEMESTER KEEFEKTIFAN PENDIDIKAN

KEEFEKTIFAN PENDIDIKAN
1. Sekolah Efektif
Efektivitas Sekolah menunjukkan pada kemampuan sekolah dalam menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya maupun fungsi pendidikan. Sekolah efektif dapat diartikan sebagai sekolah yang menunjukkan tingkat kinerja yang diharapkan dalam menyelenggarakan proses belajarnya, dengan menunjukkan hasil belajar yang bermutu pada peserta didik sesuai dengan tugas pokoknya.
Mutu pembelajaran dan hasil belajar yang memuaskan tersebut merupakan produk akumulatif dari seluruh layanan yang dilakukan sekolah dan pengaruh dari suasana/iklim yang kondusif yang diciptakan di sekolah. Berbagai perspektif dapat dikemukakan berikut ini:
a. Sekolah Efektif dalam Perspektif Mutu Pendidikan.
Penyelenggaraan layanan belajar bagi peserta didik biasanya dikaji dalam konteks mutu pendidikan yang erat hubungannya dengan kajian kualitas manajemen dan sekolah efektif. Di lingkungan sistem persekolahan, konsep mutu pendidikan dipersepsi berbeda-beda oleh berbagai pihak. Menurut persepsi kebanyakan orang (orang tua dan masyarakat pada umumnya), mutu pendidikan di sekolah secara sederhana dilihat dan perolehan nilai atau angka yang dicapai seperti ditunjukkan dalam hasil-hasil ulangan dan ujian. Sekolah dianggap bermutu apabila para siswanya, sebagian besar atau seluruhnya, memperoleh nilai/angka yang tinggi, sehingga berpeluang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Persepsi tersebut tidak keliru apabila nilai atau angka tersebut diakui sebagai representasi dari totalitas hasil belajar, yang dapat dipercaya menggambarkan derajat perubahan tingkah laku atau penguasaan kemampuan yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
b. Sekolah Efektif dalam Perspektif Manajemen.
Manajemen sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik (mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengerahan tindakan, dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Tindakan-tindakan manajemen tersebut bersumber pada kebijakan dan peraturan-peraturan yang disepakati bersama yang diwujudkan dalam bentuk sikap, nilai, dan perilaku dari seluruh orang yang terlibat di dalamnya. Tindakan-tindakan manajemen tidak berlangsung dalam satu isolasi, melainkan terjadi dalam satu keutuhan kompleksitas sistem.
Apabila dilihat dalam perspektif ini, maka dimensi sekolah efektif meliputi :
a) Layanan Belajar bagi Siswa
b) Pengelolaan dan Layanan Siswa
c) Sarana dan Prasarana Sekolah
d) Program dan Pembiayaan
e) Partisipasi Masyarakat
f) Budaya Sekolah
c. Sekolah Efektif dalam Perspektif Teori Organisme.
Sekolah efektif mampu mewujudkan apa yang disebut sebagai “self-renewing schools” atau “adaptive schools”, atau disebut juga sebagai “learning organization” yaitu suatu kondisi di mana kelembagaan sekolah sebagai satu entitas mampu menangani permasalahan yang dihadapinya sementara menunjukkan kapabilitasnya dalam berinovasi. Menurut teori organisme, dunia ini bukan benda mati, melainkan merupakan suatu energi yang memiliki kapasitas berubah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

2. Teori Keefektifan Sekolah
a. Model keefektifan sekolah yang terpadu dari Scheerens (Scheerens, 1990). Model ini berdasarkan suatu tinjauan literatur pembelajaran dan penelitian keefektifan sekolah. Asumsi pokoknya adalah bahwa tingkat organisasi yang lebih tinggi akan memudahkan kondisi yang meningkatkan efektivitas pada tingkat yang lebih rendah. Scheerens menjelaskan bahwa sekolah efektif memiliki beberapa karakteristik, yakni sekolah yang memiliki pemimpin yang memahami kepemimpinan dalam bidang pendidikan, memiliki kualitas kurikulum/ kesempatan untuk belajar, memiliki orientasi kepada prestasi, memperlihatkan waktu belajar yang efektif, adanya umpan balik dan penguatan, suasana ruang belajar yang baik, iklim sekolah yang baik, adanya keterlibatan yang berkenaan dengan orang tua, memiliki independen belajar (kemandirian dalam belajar), melaksanakan evaluasi terhadap potensi sekolah, konsensus dan kohesi, memiliki instruksi yang tersusun (kebijakan sekolah yang jelas), dan kebijakan yang diadaptasikan dengan situasi dan kondisi.
b. Model Slavin/Stringfield. Model QAIT/MACRO yang dikembangkan oleh Stringfield dan Slavin (1992). QAIT berarti kualitas, kelayakan, motivasi, dan waktu; MACRO adalah singkatan untuk tujuan yang jelas, perhatian kepada fokus akademik, koordinasi, perekrutan dan pelatihan, serta organisasi. Model ini memiliki empat tingkat: Tingkat siswa dan pelajar individu, Para profesional yang berinteraksi langsung dengan para siswa, Sekolah, dengan kepala sekolah, para personil sekolah, dan program-program, “yang mempengaruhi belajar siswa dengan mempengaruhi cara di mana para siswa, guru dan orangtua bertindak dan berinteraksi” dan Tingkat di atas sekolah, yang terdiri dari masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.
c. Model Creemers untuk belajar sekolah. Inti model ini berkaitan erat dengan model Carroll. Blok pembelajaran diuraikan lebih lanjut dalam tinjauan luas, yang disebutkan sebelumnya. Dalam model ini juga, tingkat organisasi dan kontekstual sekolah yang lebih tinggi akan memudahkan kondisi yang meningkatkan efektivitas pada tingkat yang lebih rendah. Terjadinya interaksi belajar yang optimal sangat ditentukan oleh penciptaan situasi belajar (learning situation) yang kondusif, di mana guru harus menciptakan berbagai situasi yang memungkinkan interaksi belajar mengajar antara guru dengan peserta didik. Situasi belajar terjadi manakala guru memiliki sejumlah persiapan yang memadai dalam hal perencanaan kegiatan pembelajaran, penguasaan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media yang cocok, strategi yang baik, serta sistem evaluasi yang mengena.
Sekolah dianggap bermutu apabila para siswanya, sebagian besar atau seluruhnya, memperoleh nilai/angka yang tinggi, sehingga berpeluang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Persepsi tersebut tidak keliru apabila nilai atau angka tersebut diakui sebagai representasi dari totalitas hasil belajar, yang dapat dipercaya menggambarkan derajat perubahan tingkah laku atau penguasaan kemampuan yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, hasil pendidikan yang bermutu memiliki nuansa kuantitatif dan kualitatif. Artinya, di samping ditunjukkan oleh indikator seberapa banyak siswa yang berprestasi sebagaimana dilihat dalam perolehan angka/nilai yang tinggi, juga ditunjukkan oleh seberapa baik kepemilikan kualitas pribadi para siswanya, seperti tampak dalam kepercayaan diri, kemandirian, disiplin, kerja keras dan ulet, terampil, berbudi-pekerti, beriman dan bertaqwa, tanggung jawab sosial dan kebangsaan, apresiasi, dan lain sebagainya. Analisis di atas memberikan pemahaman yang jelas bahwa konsep sekolah efektif berkaitan langsung dengan mutu kinerja sekolah.

3. Peta Konsep Tentang Keefektifan Sekolah
Konsep keefektifan sekolah bisa dibagi, menurut kerangka yang sangat umum, menjadi suatu ranah akibat dan ranah sebab atau alat.

4. Dasar Pengetahuan Untuk Meningkatkan Keefektifan
Dalam fungsi pendidikan, proses pendidikan di sekolah memiliki dua dimensi, yaitu dimensi konsumsi pendidikan dan dimensi investasi dari pendidikan. Dimensi konsumsi pendidikan mengacu kepada peranan sekolah dalam membina pribadi dan aspek humanistik pada pelajar. Sementara dimensi investasi, mengacu kepada pengharapan terhadap sekolah dalam pembinaan pelajar agar menjadi warga negara yang baik, memperoleh pekerjaan yang terbaik serta dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan masyarakat dan bangsa.
Dengan demikian pendidikan di sekolah di samping mengupayakan proses humanisasi terhadap pribadi setiap anak dan sekaligus memfungsikan dirinya sebagai sumber daya manusia dan sebagai pelaku pembangunan. Suatu filosofi tidak dipungkiri lagi bahwa semakin terdidik seseorang maka semakin besar produktivitasnya yang dihasilkan di dalam pembangunan bangsanya. Namun untuk mencapai hasil terbaik dari peranan sekolah, maka proses pendidikan di sekolah harus dikelola secara lebih fungsional sehingga benar – benar efektif.
Dasar pengetahuan untuk meningkatkan keefektifan adalah untuk meningkatkan sekolah efektif dengan adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan di sekolah sehingga sekolah memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas, sekolah mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi dan siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan sehingga diharapankan lulus dengan mampu menguasai pengetahuan akademik, sekolah memberi penghargaan bagi siswa yang berprestasi, para siswa juga diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum dan kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya. Sehingga sekolah yang efektif dapat mempunyai lima ciri penting yaitu; (1) kepemimpinan yang kuat; (2) penekanan pada pencapaian kemampuan dasar; (3) adanya lingkungan yang nyaman; (4) harapan yang tinggi pada prestasi siswa; (5) dan penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa.

5. Supervisi dan Bimbingan dari Kepala Sekolah dan Kolega Guru
Guru yang baik juga memiliki pelatihan akademis dan klinis yang memungkinkan mereka untuk mengajar siswa untuk tingkat penguasaan dan untuk menangani hubungan sosial yang kompleks di dalam kelas dengan cara yang mendorong pembelajaran dan sikap konstruktif sekolah. Pembinaan adalah memberi arahan, bimbingan, contoh, dan saran dalam pelaksanaan pendidikan sekolah. Sebaliknya, proses pengawasan dan pembinaan teman sebaya jauh lebih bersifat informal dan santai. tidak mengharuskan langkah yang menyatakan secara terbuka dan prosedur dan formulir disiapkan. karena pengawasan teman sebaya hampir selalu sukarela, tidak pernah ada kebutuhan akan interventation kesatuan untuk melindungi hak gurutidak pernah ada kebutuhan akan interventation kesatuan untuk melindungi hak guru, (berbeda, keluhan yang telah diajukan sebagai respons terhadap prosedur pengamatan kepala sekolah, namun bermaksud baik dan hati-hati berencana mereka sudah). Kelompok utama guru bekerja sama, atau colleagueship sebagai sedikit (1987) menyebutnya, meliputi, pertama, observasi kelas dan proses pembinaan berbentuk seperti kepala sekolah mengunjungi yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. guru mengamati bahkan mungkin rekaman video nya atau koleganya dalam tindakan, mengumpulkan data untuk analisis kemudian dan komentar. kedua, banyak sekolah yang dinamis kelompok kerja guru bentuk yang mingguan untuk membahas dan memecahkan masalah dan merencanakan dan menginstal metode pengajaran baru. jika penggunaan sekolah pengajaran tim, kelompok dapat bertemu setiap hari untuk “refleksi dalam aksi” (sykes, 1983). ketiga, pusat guru adalah premi yang lebih sering digunakan itu, seperti namanya, melibatkan pertemuan kelompok dengan guru ahli, konsultan, professinal lain, atau hanya rekan-rekan untuk meningkatkan metode pengajaran dan keterampilan manajemen.

6. Model Keefektifan Pendidikan
Gambar 1.2. Gambaran skematis model keefektifan sekolah.

Sekolah efektif memiliki beberapa karakteristik, yakni sekolah yang memiliki pemimpin yang memahami kepemimpinan dalam bidang pendidikan, memiliki kualitas kurikulum/ kesempatan untuk belajar, memiliki orientasi kepada prestasi, memperlihatkan waktu belajar yang efektif, adanya umpan balik dan penguatan, suasana ruang belajar yang baik, iklim sekolah yang baik, adanya keterlibatan yang berkenaan dengan orang tua, memiliki independen belajar (kemandirian dalam belajar), melaksanakan evaluasi terhadap potensi sekolah, konsensus dan kohesi, memiliki instruksi yang tersusun (kebijakan sekolah yang jelas), dan kebijakan yang diadaptasikan dengan situasi dan kondisi.

Ciri-ciri dan Indikator Efektivitas Sekolah
Ciri-ciri Indikator
Tujuan sekolah dinyatakan secara jelas Tujuan sekolah:
• Dinyatakan secara jelas
• Digunakan untuk pengambilan keputusan
• Dipahami oleh siswa, guru dan staf
Pelaksanaan kepemimpinan pendidikan yang kuat Kepala Sekolah :
• Bisa dihubungi dengan mudah
• Bersikap responsif kepada guru, staf, dan siswa
• Responsif kepada orang tua dan masyarakat
• Melaksanakan kepemimpinan yang terfokus pada pembelajaran
• Menjaga agar rasio antara guru/siswa sesuai dengan rasio ideal
Ekspektasi guru dan staf tinggi Guru dan staf :
• Yakin bahwa semua siswa bisa belajar dan berprestasi
• Menekankan pada hasil akademis
• Memandang guru sebagai penentu terpenting bagi keberhasilan siswa
Ada kerja sama kemitraan antara sekolah, orang tua dan masyarakat Sekolah :
• Komunikasi secara positif dengan orang tua
• Memelihara jaminan dukungan orang tua
• Bekerja sama dengan orang tua dan masyarakat
• Berbagi tanggung jawab untuk menegakkan displin dan mempertahankan keberhasilan
• Menghadiri acara-acara penting di sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: