mengubah pandangan pengelolaan kelas

MENGUBAH PANDANGAN PENGELOLAAN KELAS
Seorang guru telah memasuki era baru dalam pengelolaan kelas, dihadapkan pada tantangan baru selama awal abad ke-21, guru sebagai tenaga pendidik dan administrasi sekolah telah mencari alternatif baru untuk memanajemen kelas, namun untuk menemukan jawaban manajemen pengelolaan kelas yang efektif sangat sulit karena terdapat perselisihan pendapat tentang pendekatan apa yang efektif untuk manajemen pengelolaan kelas.
Beberapa staf administrasi dan guru berpendapat bahwa pengelolaan kelas dan disiplin adalah satu hal yang serupa.
Vasa (1984) menggambarkan pengelolaan kelas merupakan perilaku yang berhubungan dengan tugas pemeliharaan perilaku siswa dan pengurangan sikap atau perilaku yang mengacaukan. Beberapa dari mereka mendefinisikan manajemen pengelolaan kelas yang efektif merupakan suatu proses dalam mengendalikan perilaku siswa.
Mereka yang lebih berfokus pada keefektifan siswa (student center) memiliki pandangan pendekatan pengelolaan kelas sebagai cara untuk mempersiapkan murid menghadapi masa depan. Fokus mereka tidak pada pengontrolan perilaku siswa saat ini, tetapi pada persiapan siswa untuk menghadapi masa depan. Guru dan administrasi yang memiliki pendekatan pengelolaan kelas dari perspektif ini menetapkan bahwa keefektifan pengelolaan kelas merupakan proses menciptakan kehidupan sosial yang positif dan pengendalian diri. (Morris, 1996)
Bagaimana seorang guru dan administrasi menetapkan efektifitas pengelolaan kelas tergantung pada fokus dan visi,misi sekolah masing-masing.
Adanya berbagai macam pertentangan tentang manajemen berbasis kelas itu menjadi dasar yang bervariasi dalam pendekatan maupun filosofinya.
Program kelas akan berkembangan bilamana guru/wali kelas mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yakni: guru, murid dan proses atau dinamika kelas.
1. Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses mengajar belajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan mengajar belajar yang keratif untuk mencapai suatu tujuan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan manajemen kelas dalam pengertian kelas adalah:
a. Kurikulum
b. Bangunan dan Sarana
c. Guru
d. Murid
e. Dinamika Kelas
f. Lingkungan Sekitar
Keenam faktor tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling bertautan atau saling mempengaruhi.
Kegiatan dalam pengelolaan kelas
Mengatur orang (Kondisi emosional)

• Tingkah laku
• Kedisiplinan
• Minat/perhatian
• Gairah belajar
• Dinamika kelompok Mengatur fasilitas belajar mengajar (kondisi fisik)
• Ventilasi
• Pencahayaan
• Kenyamanan
• Letak duduk
• Penempatan siswa

A. Pengelolaan Kelas Sebagai Bentuk Disiplin
Secara umum, disiplin dapat diartikan sebagai ketaatan pada aturan yang ditetapkan. Disiplin kelas dapat diartikan sebagai:
o tingkat ketaatan siswa terhadap aturan kelas, dan
o teknik yang digunakan guru untuk membangun atau memelihara keteraturan dalam kelas
Disiplin kelas perlu diajarkan atau ditanamkan pada siswa karena alasan berikut:
o agar siswa mampu mendisiplinkan diri sendiri.
o disiplin merupakan pusat berputarnya kehidupan sekolah.
o disiplin yang tinggi akan menuju kepada terciptanya iklim belajar yang kondusif.
o tingkat ketaatan yang rendah akan menjurus kepada tidak terjadinya belajar yang diharapkan.
o jumlah siswa dalam satu kelas umumnya banyak.
o kebiasaan berdisiplin di sekolah diharapkan menghasilkan kebiasaan berdisiplin di masyarakat.
Tingkat ketaatan siswa atau disiplin siswa dipengaruhi oleh faktor-faktor yang cukup kompleks dan saling berkaitan, yang dapat dibedakan atas faktor fisik, sosial, dan psikologis.
Pada tahun 1970 sampai 1980, pengelolaan kelas lebih ditekankan pada keamanan kelas, membentuk aturan tingkah laku dan menjaga disiplin. Untuk guru, disiplin dipandang baik sebagai kata benda dan kata kerja (Hoover dan Kindsvatter, 1997). Suatu disiplin yang berperan sebagai kata benda didefinisikan sebagai aturan yang dibentuk untuk menjaga ketertiban kelas. Sebagai kata kerja, disiplin didefinisikan sebagai apa yang guru lakukan untuk membantu siswa berperilaku yang dapat diterima di sekolah. Kedua definisi mengaitkan kedisiplinan untuk kenakalan, jika tidak ada perilaku, dan tidak disiplin maka tidak diperlukan (edwards, 1999).
Seperti Catatan Doyle 1990, untuk mencegah prilaku buruk telah menjadi tema yang dominan dalam pengelolaan kelas, karena kebutuhan untuk pengelolaan dan disiplin terlihat jelas ketika terdapat siswa yang berprilaku buruk. Yang dipandang sebagai pengelolaan kelas sebagai disiplin berpaling pada teori psikologi konseling, kesehatan mental dan perubahan prilaku sebagai jawaban masalah dalm pengelolaan kelas. Sebagian besar teori-teori ini dikembangkan di luar ruang kelas dan ditangani secara siswa per individu daripada dengan sekelompok siswa (Brophy, 1983).
Freifh 1999 menunjukkan secara eksperimen bahwa perilaku guru bisa membentuk dan mempertahankan perilaku buruk siswa. Sejak tahun 1960an pengelolaan prilaku telah menjadi pendekatan yang paling umum untuk pengelolaan kelas. Sekolah di seluruh amerika serikat dengan cepat mengadopsi model tersebut, karena mereka mudah digunakan dan memungkinkan guru untuk memenuhi kebutuhan untuk segera menghentikan perilaku yang tidak pantas. Untuk alasan yang sama mereka terus digunakan sampai hari. buku ini berisi empat model yang menjadikan kedisiplinan sebagai fokus utama mereka. walaupun perbedaan dalam pendekatan dengan berbagi prinsip-prinsip berikut :
• guru bertanggung jawab untuk menjaga kendali kelas
• kedisiplinan terjadi sebelum perintah
• konsekuensi harus ada untuk perilaku yang tidak pantas
Empat model disajikan merupakan Skinner’s Behavior Management, Canter’s Assertive Descipline, Jones’s Positive Classroom Descipline, dan Dreikurs’s Logical Consequences. bab berikutnya tentang konsekuensi yang logis diperbesar untuk mencakup : Linda Albert’ Coorperative Discipline model, karena karena model nya didasarkan pada karya dreikurs.
Disiplin kelas merupakan bagian yang penting dalam dinamika kelas, disiplin kelas diartikan sebagai usaha mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang telah disetujui bersama dalam melaksanakan kegiatan kelas, agar pemberian hukuman pada seorang atau sekelompok orang dapat dihindari.
Disiplin kelas dapat diartikan juga sebagai suasana tertib dan terpaut akan tetapi penuh dinamika dalam melaksanakan program kelas terutama dalam mewujudkan proses belajar mengajar.
Beberapa alternatif pendekatan pengelolaan kelas yang dapat dipilih diantaranya:
a. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behaviorisme)
b. Pendekatan berdasarkan suasana emosi dan hubungan sosial (sosio emosional climate approach)
c. Pendekatan berdasarkan proses kelompok (group process approach)
d. Pendekatan electis (electic approach)

B. Pegelolaan Kelas Sebagai Sebuah Sistem
Pada akhir tahun 1970, guru mulai menolak model sebelumnya yang berfokus pada disiplin. banyak yang menemukan bahwa model sebelumnya tidak cukup memunuhi kebutuhan guru yang berusaha untuk menciptakan lingkungan belajar tenang dan aman bagi semua siswa mereka (McEwan, 2000). untuk para guru, manajemen kelas dan pengajaran saling bergantung bukan fungsi terpisah. Oleh karena itu, manajemen kelas yang efektif tidak dilihat sebagai teknik yang terisolasi atau trik yang dapat dipelajari melainkan sebagai sistem keterampilan manajemen (Brophy, 1983, Evertson&Harris, 1992).
Kohn (1995) mencatat bahwa banyak pendidik menolak model disiplin, karena mereka telah menemukan hukuman dan ancaman menjadi kontraproduktif, karena mereka menghasilkan ketaatan yang baik untuk sementara. Lainnya menekankan bahwa lebih baik untuk memiliki rencana untuk mencegah kenakalan daripada memiliki rencana menanggapi ketika kenakalan telah terjadi. Doyle 1990 menekankah bahwa fokus baru telah mengubah penelitian dan teori dalam manajemen kelas.
Untuk alasan ini, banyak guru mulai mempercayai bahwa pendekatan terbaik untuk management kelas merupakan salah satu hal yang sistematis, dimulai dengan persiapan sebelum tahun ajaran baru dimulai dan berlajut sepanjang tahun. pendekatan seperti itu mencakup perencanaan dan pelaksanaan kegiatan secara teratur, menjaga siswa aktif terlibat dalam pelajaran dan kegiatan seatwork, dan meminimalkan gangguan dan masalah disiplin (Brophy dan Evertson, 1976).
Program manajemen yang menggunakan pendekatan sistematis memberikan instruksi solid dan membuat tujuan (Hoover dan kindsvatter, 1997). Khon (1995) menunjukkan bahwa banyak masalah disiplin yang terjadi merupakan hasil dari guru meminta siswa untuk melakukan hal yang tidak menarik, tugas tidak pantas, atau tidak masuk akal. Ketika guru mengubah strategi pembelajaran mereka, meningkatkan tingkah laku. (Carolyn Evertson (as cited in Marchant dan Newman, 1996) menekankan bahwa manajemen kelas berbasis kontrol dan disiplin tidak cocok untuk membangun jenis komunitas belajar pada siswa yang Memiliki kepentingan dalam pembelajaran mereka sendiri dan komunitas sekolah mereka sendiri. Pendekatan sistematis menciptakan iklim sosial dan emosional yang positif yang berasal dari hubungan interpersonal yang baik antara siswa dan guru serta antara siswa.
Teks ini berisi empat model yang menekankan pendekatan sistematis untuk manajemen kelas. Mereka termasuk Glasser’s reality Teraphy and Choice Theory, Curwin and Mendler’s Dissipline with Dignity, Khon’s Beyond discipline : from complience to community and Evertson’s classroom organization and management program (COMP). Model in berpandangan bahwa manajemen kelas dan pengajaran saling berkaitan, dengan lebih berfokus pada mencegah masalah daripada menanggapi masalah. masing-masing menekankan bahwa manajemen yang efektif dimulai sebelum anak pertama tiba untuk hari pertama sekolah. mengakui bahwa setiap anak adalah unik, pencipta model ini menolak satu ukuran yang cocok untuk semua pendekatan yang mempertahankan kontrol kelas. sebagai gantinya pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa ketika kebutuhan dasar siswa terpenuhi, perilaku dapat dihindari.

C. Manajemen Kelas Sebagai Suatu Pengajaran
Ada pihak yang berpendapat bahwa model manajemn kelas berfokus pada imbalan, aturan, konsekuensi, dan prosedur mengabaikan kebutuhan individu setiap siswa. keharusan untuk memenuhi kebutuhan individu telah menjadi ukuran karena kelas menjadi lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan siswa telah menjadi contoh yang lebih. Wolfgang dan Kelsay (1992) konteks pemilihan dimasa kanak-kanak, dan metode disiplin tradisional tidak mampu bekerja untuk anak-anak yang sedang berkembang/remaja. Oleh karena itu, catatan Weinstein (1999) “berpendapat bahwa masa kanak-kanak telah berubah, dan metode kedisiplinan tradisional tidak bekerja pada anak-anak yang dibesarkan dalam keadaan non-tradisional. Oleh karena itu, Weinstein dalam catatannya berpendapat bahwa perubahan besar yang terjadi dalam pemikiran kita tentang pengelolaan kelas diman perubahan ini dapat dicirikan sebagai pergeseran dari paradigma yang menekankan menciptakan dan penerapan aturan untuk mengatur perilaku siswa dimana salah satunya juga hadir untuk kebutuhan siswa yang berfungsi memelihara hubungan dan peluang untuk pengaturan-diri. (p.151) banyak sekolah yang menerima filsafat ini dan mengganti aturan terikat pada program disiplin dengan petunjuk yang dapat membantu siswa melakukan penilaian etika dan keputusan.
Model manajemen kelas yang baru ini berfokus pada keterampilan mengajar yang menjadi sebuah tuntutan kepada siswa. Peterson (1997) menekankan bahwa pengajaran beberapa bentuk mediasi konflik, prosedur negosiasi dan resolusi konflik. keterampilan siswa harus dimasukkan dalam Kurikulum dari setiap kelas. di samping itu, beberapa guru menggunakan resolusi konflik sebagai bagian dari praktek manajemen kelas mereka. banyak sekolah telah mengadopsi program ini dan seluruh sekolah telah berpartisipasi, memberikan dukungan, dan sumber daya melalui kelas tunggal. Girard (1995) menemukan bahwa ada sekitar lima puluh program resolusi konflik berbasis sekolah di 1984, di 1995, jumlah program tersebut meningkat menjadi 5000 dan terus meningkat. karena tujuannya bagi siswa untuk belajar disiplin diri, metode ini memakan waktu lebih lama untuk mengembangkan dan menerapkan tapi mengundang keberanian untuk mengambil risiko bagi guru. Namun, curwin dan mendler merasa bahwa model ini mungkin lebih efektif, karena mereka mendorong peningkatan proses belajar mengajar.
Banyak dari model ini memajukan pendekatan pencegahan kekerasan. semua anak yang akhirnya diidentifikasi sebagai anak nakal diidentifikasi pada usia delapan. Oleh karena itu, pencegahan kekerasan cukup efektif untuk menjalankan kebiasaan yang efektif di kelas awal, di mana kebiasaan ini cukup relevan dan mudah dipelajari, sehingga dapat berlanjut untuk sekolah menengah dan tinggi, dengan harapan bahwa jika kekerasan adalah belajar, untuk tidak dipelajari.1998 menyatakan bahwa “kunci untuk mencegah kekerasan terletak dalam membentuk keyakinan anak-anak, sikap, dan perilaku sebelum kekerasan menjadi manifestasi otomatis kemarahan mereka”
Proses pembelajaran kelas perlu dikelola sedemikian rupa sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pengelolaan kelas tidak sekedar bagaimana mengatur ruang kelas dengan segala sarana dan prasarananya, tetapi menyangkut bagaimana interaksi dan pribadi-pribadi di dalamnya. Pengelolaan kelas lebih ditekankan bagaimana pribadi-pribadi dalam kelas dapat menjadi suatu komunitas yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Komunitas yang demikian akan mengembangkan kepribadian baik pendidik maupun peserta didiknya. Dari sini, maka peserta didik di kelas tidak hanya belajar aspek pengetahuan akan tetapi juga aspek afektif dan sosialitasnya.
Ada asumsi bahwa manajemen kelas yang baik merupakan hasil sadar atas peranan guru untuk mengintegrasikan manajemen interaksi (belajar mengajar) dengan perencanaan interaksi pengajaran. Perpaduan ini seringkali menghasilkan persoalan dalam masalah disiplin. Interaksi belajar mengajar dan manajemen hakikatnya tidak terpisah, tetapi lebih merupakan dua komponen utama yang harus dibangun satu dengan lainnya jika menginginkan tercapainya kelas yang harmonis.
Ketrampilan guru yang efektif akan mengawasi perilaku murid dengan waktu yang baik, dengan memberikan pertanyaan yang baik, atau jenis pengalaman pembelajaran. Pengawasan itu justru bisa efektif sebagai tindakan manajemen kelas secara langsung. Meskipun pengajaran dan manajemen dilakukan berbeda, keduanya saling melengkapi dan berinteraksi dalam cara-cara yang produktif. Guru menyusun perencanaan pengajaran. Selanjutnya memimpin dalam proses pengajaran, memotivasi dalam belajar, dan selanjutnya mengawasi atau mengevaluasi hasil belajar. Semua itu adalah tindakan manajemen kelas yang dipadukan untuk mencapai efektifitas pembelajaran.
Sistem pengajaran yang dilakukan guru juga harus memperhatikan beberapa hal diantaranya:
1. Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa
Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual, berpasangan, kelompok kecil, atau klasikal. Beberapa pertimbangan perIu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa. Antara lain jenis kegiatan, tujuan kegiatan, keterlibatan siswa, waktu belajar, dan ketersediaan sarana/prasarana. Hal yang sangat penting perIu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Untuk itu, perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa.
2. Pengelolaan Waktu
Pembelajaran berlangsung selama priode waktu tertentu. Waktu merupakan sumber terbatas yang perlu dialokasi dan dimanfaatkan secara efesien dan efektif. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran telah dialokasikan dalam satuan jam tertentu. Alokasi jam pembelajaran tersebut harus dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan belajar pada diri siswa.
Guna mengoptimalkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran, guru perlu memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini.
• Hindari waktu terbuang akibat keterlambatan penyiapan sumber atau media, penundaan memulai awal pembelajaran, atau terlalu banyak meng¬gunakan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif. Guru perlu menemukan cara-cara kerja yang efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas administratif yang memang perlu
• Isi (by content): Memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda.
• Minat dan motivasi siswa (by interest) Memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. Hal ini diharap¬kan mampu me¬macu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri.
• Kecepatan tahapan belajar (by piece): Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimili-kinya. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran, serta kegiatan yang dilakukan siswa.
• Tingkat kemampuan (by level):Memberikan peluang kepada setiap siswa untuk men¬ca-pai kompetensi secara maksimal sesuai dengan ting¬kat ke¬mam¬¬pu¬an yang dimiliki. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/ atau isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa.
• Reaksi yang diberikan siswa (by respond): Memberikan kesempatan atau peluang kepada siswa untuk menunjukkan respon melalui presentasi/penyajian hasil karyanya secara lisan, tenulis, benda kreasi, dan sebagainya.
• Siklus cara berpikir (by circular sequence):Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk mengua¬sai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih. Struktur pengetahuan (by structure) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai, misalnya: dari yang mudah ke sulit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari dekat ke jauh.
• Waktu (by time):Memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar.
• Pendekatan pembelajaran (by teaching style):Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap indi¬vidu sesuai dengan keadaan siswa.
• Mulai pembelajaran pada waktunya. Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu menghadapi siswa terlambat atau problem siswa lain. Guru terkadang terlalu banyak menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa terlambat atau menampilkan perilaku salah-suai lainnya. Siswa-siswa semacam itu sebaiknya ditangani setelah waktu pembelajaran, atau dilimpahkan ke konselor sekolah.
• Hindari menghentikan PBM sebelum waktunya. Jika skenario pembel¬ajaran disiapkan dengan baik, guru dapat mememperkirakan macam dan kuantitas kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan. Dengan demikian, sumber-sumber waktu yang disediakan un¬tuk setiap jam pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan efisien.
• Hindari terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu selama proses pembelajaran. Kondisikan agar prosedur dan kegiatan rutin siswa di kelas dapat dilakukan dengan lancar dan cepat. Gunakan petunjuk tertulis, denah, atau gambar untuk membantu siswa memahami apa yang harus dilakukan, bagaimana dan di mana suatu tugas harus dilakukan. Tata peralatan dan bahan yang diperlukan sedemikian rupa di lokasi yang mudah dijangkau dan digunakan oleh semua siswa saat dibutuhkan. Penataan ruang kelas yang baik, sebagaimana diuraikan sebelumnya, dapat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran di kelas.
• Tingkatkan time on-task setiap siswa untuk mengikuti setiap sesi pembelajartan. Time on-task siswa, yaitu curah waktu dimana siswa secara aktif terlibat secara mental pada proses belajar. Ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran dengan hal-hal yang menarik, bersifat melibatkan, dan sesuai dengan minat siswa.
• Pertahankan momentum belajar. Momentum belajar adalah momen, kesempatan, atau saat khusus tertentu di mana kelas sedang berada pada kondisi sangat kondusif dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Setiap siswa bergiat untuk saling belajar. Mempertahan momentum belajar selama proses pembelajaran merupakan salah satu kunci untuk menjaga tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Dalam kelas yang menjaga momentum dengan baik, siswa selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dan begitu pekerjaan dimulai tidak ada lagi gangguan yang merusak konsentrasi belajar.
3. Penciptaan Atmosfir Belajar
Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran.
Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang (1) menyenangkan, (2) mengasyikkan, (3) mencerdaskan, dan (4) menguatkan.
a) Menyenangkan dan mengasyikkan
Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif pera¬saan. Guru harus bera¬ni meng¬ubah iklim dari suka ke bisa. Guru hendak¬nya da¬pat me¬ngundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembel¬ajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru.
b) Mencerdaskan dan menguatkan
Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendi¬dikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam kese¬harian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan ke-cakapan hidup (life skill). Oleh karena itu, guru dilatih:
• Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
• Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran, karena jika anak senang dan asyik, tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar.
• Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran.
• Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.
Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan berikut ini.
• Sebelum memulai pelajaran, dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut.
• Di awal pelajaran, guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran. Selanjutnya, guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai, kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan.
• Selama proses pembelajaran berlangsung, guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif, agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan, tidak takut atau merasa bersalah.
c) Penerapan Strategi Pembelajaran
Sebelum membahas tentang strategi pembelajaran, terlebih dahulu perlu dipahami tentang konsep belajar seperti berikut ini.
• Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat meng-komunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau kepada gurunya. Dengan kata lain, membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan ling-kungan sosialnya.
• Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok.
• Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempumakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya.
• Dalam proses pembelajaran siswa senantiasa perIu dido¬rong untuk mengkomuni-kasikan gagasan, hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain. Dengan demikian pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan, prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. Artinya, pembelajaran itu diharapkan dapat mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.
Dengan pemahaman seperti hal tersebut di atas, guru-guru menyadari bahwa strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, karena strategi dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pem-belajaran. Selain itu, strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas, dan penggunaan strategi pembelajaran secara baik dapat berdampak pada meningkatnya keterampilan mengajar guru dan rasa percaya dirinya.
Beberapa strategi pembelajaran yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah dapat dikemangkan antara lain (1)pembelajaran berbasis masalah, (2)pembelajaran inquiry, (3) pembelajaran berbasis proyek/tugas, (4)pembelajaran kooperatif, (5)pembelajaran partisipatory, dan (6) pembelajaran scaffolding.

D. Strategi Pengelolaan Kelas Dalam Pengembangan Budaya Dan Iklim Sekolah
Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran, seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. Kelas yang kondusif adalah ling¬kungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Strategi belajar apapun yang di¬tempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan, aman, dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran.
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut; (1) penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif (2) penataan ruang belajar sebagai sentra belajar (3) penciptaan atmosfir belajar yang kondusif, (4) penetapan strategi pembelajaran dan (5) pemanfaatan media dan sumber belajar, dan (6) penilaian hasil belajar.
Untuk lebih jelasnya ke enam cara tersebut di atas akan dijelaskan dalam uraian berikut.
A.Lingkungan Fisik Kelas
Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja, kursi, lemari, gambar-gambar afirmasi, pajangan hasil karya siswa yang berprestasi, alat-alat peraga, media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa. Disain ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. Dengan ruang kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi secara bebas, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. Di samping itu, dengan ruang kelas yang tertata dengan baik, guru akan leluasa memberikan perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa.
B. Penataan Ruang Kelas sebagai Sentra Belajar
Sentra belajar merupakan area khusus di ruang kelas untuk menata materi, perlengkapan, peralatan, dan karya siswa yang terkait dengan pokok bahasan, keterampilan atau kegiatan tertentu. Sentra belajar bisa berlokasi di atas meja, rak buku, sudut ruang, atau bahkan di kolong meja. Sentra belajar bisa bersifat permanen atau hanya terkait dengan kegiatan atau bidang pembelajaran tertentu, misalnya sentra penerbitan, sentra pembelajaran matema¬tika, kafe baca, dsb. Sentra belajar juga bisa bersifat fleksibel dan sementara (ditata untuk keperluan tema atau unit tertentu yang dipelajari).
Di samping itu, pelibatan siswa tersebut juga membantu membangun keterampilan “perawatan rumah” yang dipelukan untuk mempertahankan suasana kelas yang aktif dan berorientasi pada siswa. Untuk masud tersebut, guru dapat mendorong siswa untuk memiliki dan mengemukakan beberapa pilihan dalam menyusun aturan dasar bagi kegiatan berbasis-sentra mereka.
Beberapa praktik yang baik dalam menata sentra-sentra belajar (good practice) dikemukakan berikut ini:
• Dalam menata kelas menjadi sentra belajar, sejumlah guru bidang studi melibatkan siswa terutama dalam perencanaan dan pengadaan sumber-sumber belajar yang diperlukan. Pelibatan siswa dalam merancang ruang kelas menjadi sentra-sentra belajar dapat membangun rasa kebanggaan dan kebersamaan di kalangan siswa.
• Sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Dalam sistem moving-class ini, ruang-ruang kelas tertentu ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. Ada kelas sains, kelas bahasa, kelas matematika, kelas kesenian, dan sebagainya. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. Meja, kursi, peralatan, media, pajangan, dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu.
Penggunaan sistem moving-class seperti itu memiliki beberapa keuntungan, sebagai berikut:
 Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu.
 Memungkinkan penggunaan sarana, fasilitas, serta berbagai media dan peralatan belajar secara lebih efisien. Media dan peralatan pembelajaran Sains, misalnya, tidak perlu ada di semua kelas, semua kebutuhan pembelajaran mata pelajaran tersebut cukup ditempatkan dan ditata khusus pada kelas tertentu. Demikian pula kebutuhan media dan alat bantu belajar pada mata-mata pelajaran lainnya ditata khusus pada kelas-kelas tersendiri.
 Setiap hari, siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. Mobilitas gerak seperi Ini dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton.
 Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interkasi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-sikap empati, kerjasama, kepedulian, dan berbagai sikap prososial siswa lainnya. 

BAB III
KESIMPULAN
a. Program kelas akan berkembangan bilamana guru/wali kelas mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur yakni: guru, murid dan proses atau dinamika kelas.
b. Manajemen kelas sebagai disiplin kelas dapat diartikan juga sebagai suasana tertib dan terpaut akan tetapi penuh dinamika dalam melaksanakan program kelas terutama dalam mewujudkan proses belajar mengajar.
c. Manajemen kelas sebagai sistem merumuskan empat model yang menekankan pada pendekatan sistematis untuk manajemen kelas. Model tersebut adalah Glasser’s reality Teraphy and Choice Theory, Curwin and Mendler’s Dissipline with Dignity, Khon’s Beyond discipline. Model in berpandangan bahwa manajemen kelas dan pengajaran saling berkaitan, dengan lebih berfokus pada mencegah masalah daripada menanggapi masalah.
d. Model manajemen kelas sebagai suatu pengajaran ini berfokus pada keterampilan mengajar yang menjadi sebuah tuntutan kepada siswa agar dapat mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien.
e. Pengelolaan kelas merupakan aspek penting dalam proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: