STUDI KOMPARATIF KEBERHASILAN BELAJAR SISWA PADA STRATEGI WRITING IN THE HERE AND NOW (MENULIS DISINI DAN SAAT INI) DAN NON WRITING IN THE HERE AND NOW PADA PELAJARAN PAI DI SMPN…

  1. A.    Strategi Pembelajaran Writing in the here and now (menulis disini dan saat ini)
    1. 1.      Pengertian Strategi Pembelajaran

Secara bahasa, strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu “stratos” artinya pasukan dan agen berarti memimpin. Maka ilmu strategi adalah ilmu tentang pasukan atau ilmu tentang perang. Seorang yang berperan dalam mengatur strategi, untuk mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitasnya.

Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activitie designed to achieves a particular education goal.[1] Jadi, dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Dari pengertian di atas, ada dua hal yang perlu dicermati, yakni: pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.

Secara umum, strategi diartikan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan proses mengajar, agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, dapat tercapai dan berhasil.

Penggunaan strategi pembelajaran sangat penting dan perlu karena berfungsi untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit tercapai secara optimal, dengan kata lain pembelajaran tidak dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Strategi pembelajaran sangat berguna, baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru, strategi dapat dijadikan pedoman dan acuan bertindak yang sistematis dalam pelaksanaan pembelajaran. Bagi siswa pengguna strategi pembelajaran dapat mempermudah proses pembelajaran (mempermudah dan mempercepat memahami isi pembelajaran), karena setiap strategi pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa.[2]

 

 

 

 

 

  1. 2.      Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran

Pada dasarnya, pembelajaran adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir, informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya. Oleh karena itu, sebelum menentukan strategi pembelajaran yang dapat digunakan, ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan.

  1. Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai.
  2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran.
  3. Pertimbangan dari sudut siswa.
  4. Pertimbangan-pertimbangan lainnya.[3]

Untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan aspek kognitif akan memiliki strategi yang berbeda dengan upaya untuk mencapai tujuan afektif atau psikomotor. Demikian juga halnya, untuk mempelajari bahan pelajaran yang bersifat fakta akan berbeda dengan mempelajari bahan pembuktian suatu teori, dan lain sebagainya.

  1. 3.      Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran

Prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan.

Guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Oleh sebab itu, guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagai berikut :

  1. Berorientasi pada tujuan

Tujuan merupakan komponen yang utama dalam sistem pembelajaran. Segala aktivitas guru dan siswa mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh karenanya keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Aktivitas

Pada dasarnya, belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental.

  1. Individualitas

Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu siswa. Walaupun kita mengajar pada sekelompok siswa, namun pada hakikatnya yang ingin kita capai adalah perubahan perilaku setiap siswa. Sama seperti seorang dokter, guru dikatakan profesional manakala ia bisa menangani siswa yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Integritas

Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan psikomotor. Oleh karena itu strategi pembelajaran harus mampu mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa secara terintegrasi. Penggunaan metode diskusi, contohnya, guru harus dapat merancang strategi pelaksanaan. Diskusi tidak hanya terbatas pada aspek intelektual saja, tetapi berkembang secara keseluruhan.[4]

  1. 4.      Penggolongan Strategi Pembelajaran

Secara keseluruhan, strategi belajar mengajar dapat digolongkan sebagai berikut :

 

  1. Konsep dasar strategi belajar mengajar

Konsep dasar strategi belajar mengajar meliputi :

1)      Menerapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku.

2)      Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, dan memilih prosedur, metode, dan tehnik belajar mengajar

3)      Normal dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar

  1. Sasaran kegiatan belajar mengajar

Setiap kegiatan belajar mempunyai sasaran dan tujuan. Persepsi guru atau persepsi anak didik mengenai sasaran akhir kegiatan belajar mengajar mempengaruhi tujuan yang akan dicapai.

  1. Belajar mengajar sebaga suatu sistem

Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu pada pengertian sebagai perangkat komponen yang saling bergantung antara satu dan lainnya untuk mencapai tujuan. Sebagai suatu sistem belajar mengajar meliputi sejumlah komponen antara lain : tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi.

  1. Hakekat proses belajar mengajar

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar mengajar ialah perubahan tingkah laku, baik pengetahuan, keterampilan, sikap, aspek pribadi kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasikan pengalaman belajar, menilai proses dan hasil belajar, termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru.

  1. Entering behaviour siswa

Yang dimaksud di sini adalah hasil kegiatan belajar mengajar dalam perubahan tingkah laku, baik material, substansial, struktural-fungsional, maupun behavioural. Yang dipersoalkan adalah kepastian bahwa  tingkat prestasi yang dicapai siswa itu adalah benar merupakan hasil kegiatan yang bersangkutan.[5]

  1. Pola-pola belajar siswa

Gagne menggolongkan pola-pola belajar siswa kedalam delapan tipe dimana yang satu merupakan pra syarat bagi yang lainnya yang lebih tinggi tingkatnya. Kedelapan tipe tersebut adalah :

1)      Signal learning (belajar isyarat)

2)      Stimulus respon learning (belajar rangsangan tanggapan)

3)      Chaining (mempertautkan)

4)      Discrimation learning (belajar membedakan)

5)      Concept learning (belajar pengertian)

6)      Rule learning (belajar membuat generalisasi hukum, dan kaidah)

7)      Problem solving (belajar memecahkan masalah).[6]

  1. Memilih sistem belajar mengajar

Berbagai sistem pengajaran yang menarik perhatian akhir-akhir ini adalah enquiry discovery aproach, expository aproach, masteri learning dan humanistik education.

1)      Enquiry discovery learning (belajar mencari dan merumuskan sendiri)

Dalam sistem belajar mengajar ini, guru tidak menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk final, tetapi siswa diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri, dengan mempergunakan tehnik pendekatan pemecahan masalah.

2)      Expositori learning

Dalam hal ini, guru menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk yang yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematis, dan lengkap sehingga anak didik hanya menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur.[7]

  1. 5.      Strategi Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif berarti mereka yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalam satu persoalan yang ada dalam kehdupan nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran,karena belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga, hasil belajar dapat dimaksimalkan.

Belajar aktif sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan.[8]

Aktif learning pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respon anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka.

Ada banyak strategi yang digunakan dalam menerapkan belajar aktif dalam pembelajaran di sekolah. Mel Silberman mengemukakan 101 bentuk strategi. Semuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak didik. Strategi tersebut antara lain Question student have (pertanyaan peserta didik), Critical incident (pengalaman penting), Writing in the here and now (menulis disini dan saat ini). Dalam hal ini, kita akan membahas tentang writing in the here and now yaitu strategi yang digunakan untuk membantu siswa merefleksikan pengalaman-pengalaman yang telah mereka alami baik dimasa lampau (mengingat) dan dimasa yang akan datang (berimajinasi).

  1. 6.      Strategi Pembelajaran writing in the here and now (menulis disini dan saat ini)
    1. Pengertian Strategi Writing in the here and now

Strategi yang digunakan untuk membantu siswa merefleksikan pengalaman-pengalaman yang telah mereka alami dengan cara menuliskan apa yang mereka alami dan mereka rasakan. Menulis dapat membantu peserta didik dalam merefleksikan pengalaman-pengalaman yang mereka alami.[9]

Melvin L. Silberman mengemukakan bahwa “Writing allows students to reflect on experiences they have had”.[10] Menulis dapat membantu kita untuk merefleksikan apa yang telah kita alami. Strategi menulis pengalaman secara langsung atau writing in the here and now (menulis disini dan saat ini) adalah sebuah cara dramatis untuk meningkatkan perenungan secara mandiri dengan meminta siswa menuliskan laporan tindakan kala ini (present tense) tentang sebuah pengalaman yang mereka miliki (seakan itu terjadi di sini dan sekarang). Aktivitas ini memungkinkan siswa untuk memikirkan pengalaman yang mereka miliki.[11]

  1. Tujuan

1)      Membantu peserta didik lebih mudah dan terfokus dalam memahami suatu materi pokok

2)      Untuk lebih memotivasi pembelajaran aktif secara individu.

3)      Meningkatkan perenungan secara mandiri terhadap materi pelajaran.[12]

  1. Langkah-langkah Strategi Writing in the here and now

1)      Pilihlah jenis pengalaman yang diinginkan untuk ditulis oleh siswa. Pengalaman itu bisa berupa peristiwa dimasa lampau atau yang akan datang.

2)      Informasikan pada siswa tentang pengalaman yang telah dipilih untuk tujuan penulisan reflektif Beritahulah mereka bahwa cara yang berharga untuk merefleksikan pengalaman adalah dengan menghidupkannya untuk pertama kali disini dan saat ini. Cara ini akan menimbulkan dampak yang jelas dan dramatis.

3)      Perintahkan siswa untuk menulis pengalaman yang telah dipilih. Perintahkan mereka untuk memulai awal pengalaman dan menulis apa yang sedang mereka lakukan dan rasakan. Ajak mereka untuk menulis sebanyak mungkin yang mereka inginkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dan perasaan-perasaan yang dihasilkannya.

4)      Bahas pengalaman mereka dengan membacakan tentang refleksinya.

5)      Diakhiri dengan mendiskusikan hasil pengalaman siswa tersebut bersama-sama dengan siswa.[13]

  1. Adapun variasi strategi Writing in the here and now sebagai berikut.
  2. Untuk membantu siswa mendapatkan kegairahan dalam menulis imajinatif, lakukan diskusi kelompok yang relevan dengan topik yang akan ditugaskan kepada mereka.
  3. Perintahkan siswa untuk saling bercerita tentang apa yang telah mereka tulis. Alternatifnya adalah dengan memerintahkan sejumlah siswa untuk membacakan karya mereka yang sudah selesai. Alternatif yang kedua adalah dengan meminta pasangan untuk saling bercerita tentang apa yang mereka tulis.[14]
    1. Kelebihan dan Kekurangan

1)      Kelebihan

a)      Dengan strategi pembelajaran Writing in the here and now siswa melatih dan mempertajam daya imajinasi mereka.

b)      Strategi Writing in the here and now lebih meningkatkan pemahaman siswa terhadap pesan inti materi pelajaran.

c)      Strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar

d)     Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas pekerjaan sebab dalam strategi Writing in the here and now anak-anak harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang telah dikerjakan.

e)      Meningkatkan kreativitas siswa.

f)       Meningkatkan semangat dan kemampuan siswa dalam menulis.

2)      Kelemahan

a)      Kesulitan bagi sebagian siswa yang merasa tidak mempunyai pengalaman terkait dengan materi, juga bagi siswa yang memiliki linguistik rendah.

b)      Seringkali anak-anak menyalin pekerjaan temannya.

c)      Kurang efisiennya waktu disebabkan kadang siswa banyak mengulur-ulur pekerjaannya.[15]

  1. B.     Tinjauan tentang Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam
    1. 1.      Hasil Belajar
      1. Pengertian Hasil Belajar

Untuk memperoleh pengertian yang obyektif tentang hasil belajar, terutama belajar, perlu dirumuskan secara jelas dari kata di atas, karena secara etimologi hasil belajar terdiri dari dua kata, yaitu hasil dan belajar.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, hasil adalah sesuatu yang ada (terjadi) oleh suatu kerja, berhasil sukses.[16] Sementara menurut R. Gagne, hasil dipandang sebagai kemampuan internal yang menjadi milik orang serta orang itu melakukan sesuatu.[17]

Adapun pengertian belajar secara terminologis para pakar pendidikan yang mendefinisikan tentang belajar sebagaimana uraian di bawah ini yaitu :

1)      Hilgrad dan Bower mengemukakan bahwa belajar memiliki arti : 1.) To gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study, 2.) to fix in the mind or memory, memorize, 3.) to acquire trough experience, 4.) to become in forme of to find out. Belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan.

2)      Menurut Cronbach, ” Learning is shown by change in behavior as result of experience” belajar tampak dari perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari pengalaman.

3)      Menurut Spears ” Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselve, to listen, to follow direction.” artinya belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar, mengikuti petunjuk.

4)      Morgan dan kawan-kawan menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.

5)      Woolfock mengemukakan bahwa “ Learning occurs when experience causes a relatively permanent change in an individual’s knowledge or behavior”. Kualitas belajar seseorang ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang diperolehnya dengan lingkungan sekitarnya.[18]

Dari definisi di atas penulis simpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai setelah mengalami proses belajar mengajar atau setelah mengalami interaksi dengan lingkungannya guna memperoleh ilmu pengetahuan dan akan menimbulkan perubahan tingkah laku yang relatif menetap dan tahan lama.

  1. Arti Penting Belajar

Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan, karena demikian pentingnya arti belajar.

Belajar juga memainkan peranan yang penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis juga bisa terjadi karena belajar. Contoh, tidak sedikit orang pintar menggunakan kepintarannya untuk mendesak bahkan menghancurkan kehidupan orang lain.

Meskipun ada dampak negatif dari hasil belajar, sekelompok manusia tertentu, kegiatan belajar tetap memiliki arti penting. Alasannya, seperti yang telah dikemukakan di atas, belajar itu berfungsi sebagai alat mempertahankan kehidupan manusia. Artinya, dengan ilmu dan teknologi hasil belajar kelompok manusia tertindas itu juga digunakan untuk membangun benteng pertahanan.[19]

Selanjutnya dalam perspektif keagamaan, belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan, sehingga derajat kehidupannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam surat al-Mujadalah ayat 11.

 

Q.S Al-Mujadalah Ayat 11 :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:” berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakkan:”berdirilah untuuk kamu, maka berdirilah, maka Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.[20]

Berdasarkan pertimbangan tadi, kita sebagai calon guru yang profesional seyogyanya melihat hasil belajar siswa dari berbagai sudut kinerja psikologis yang utuh dan menyeluruh. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal maka kemampuan para pendidik terutama guru dalam membimbing belajar murid-muridnya amat dituntut. Jika guru dalam keadaan siap dan memiliki profesiensi (berkemampuan tinggi) dalam menunaikan kewajibannya, harapan terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas sudah tentu akan tercapai.[21]

  1. Jenis-jenis Belajar

Hasil belajar berupa prestasi belajar atau kinerja akademik yang dinyatakan dengan skor atau nilai, pada prinsipnya pengungkapannya hasil belajar ideal itu meliputi segenap rannah psikologis yang berupa akibat pengalaman dan proses belajar.

Dalam tujuan pendidikan yang ingin dicapai kategori dalam bidang ini yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor, ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan karena sebagai tujuan yang hendak dicapai. Menurut “Taksonomi Bloom” diklasifikasikan pada tiga tingkatan domain, [22] yaitu sebagai berikut:

1)      Jenis hasil belajar pada bidang kognitif

Istilah kognitif berasal dari cognition yang bersinonim dengan kata knowing yang berarti pengetahuan, dalam arti luas kognitif adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuaan.[23] Menurut para ahli psikologi kognitif, aspek kognitif ini merupakan sumber pemegang peranan paling penting sekaligus sebagai pengendali aspek-aspek yang lain, yakni aspek afektif dan juga aspek psikomotorik.

Dengan demikian jika hasil belajar dalam aspek kognitif tinggi maka dia akan mudah untuk berfikir sehingga ia akan mudah memahami dan meyakini materi-materi pelajaran yang di berikan kepadanya serta mampu menangkakp pelan-pelan moral dan nilai-nilai yang terkandung didalam materi tersebut. Sebaliknya, jika hasil belajar kognitif rendah maka ia akan sulit untuk memahami materi tersebut untuk kemudian diinternalisasikan Dalam dirinya dan diwujudkan dalam perbuatannya.

Jenis hasil belajar aspek kognitif ini meliputi enam kemampuan atau kecakapan antara lain:

a)      Pengetahuan (knowladge)

Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya.

b)      Pemahaman (comprehension)

Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui ddan di ingat.

c)      Penerapan atau aplikasi (apliccation)

Adalah kesanggupan seseorang untuk menerangkan atau meggunakan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang kongkrit.

d)     Analisis (analysis)

Adalah kemampuan seseorang untuk merinci attau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian dan faktor-faktor  yang satu dengan faktor yang lainnya.

e)      Sintensis (syntensis)

Adalah suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis sehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru.

f)       Penilaian dan evaluasi (evaluation)

Adalah kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai atau ide atau kemampuan untuk mengambil keputusan (menentukan nilai) sesuatu yang dipelajari untuk tujuan tertentu.[24]

2)      Jenis hasil belajar pada bidang afektif.

Aspek afektif berkenaan dengan perubahan sikap dengan hasil belajar dalam aspek ini diperoleh melalui internalisasi, yaitu suatu proses kearah pertumbuhan bathiniyah atau rohaniyah siswa, pertumbuhan terjadi ketika siswa menyadari suatu nilai yang terkandung dalam pengajaran agama dan nilai-nilai itu dijadikan suatu nilai system diri “nilai diri” sehingga menuntun segenap pernyataan sikap, tingkah laku dan perbuatan untuk menjalani kehidupan.

Adapun beberapa jenis kategori jenis aspek afektif sebagai hasil belajar adalah sebagai berikut :

a)      Menerima (receiving)

Yaitu semacam kepekaan dalam mmenerima ransangan (stimuli) dari luar yang datang dari siswa, baik dalam bentuk masalah situasi, gejala, dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.

b)      Jawaban (responding)

Yaitu reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulisasi yang datang dari luar, dalam hal ini termasuk ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dan menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.

c)      Penilaian (valuing)

Yaitu berkenaan dengan nillai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi, dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai, dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.

d)     Organisasi (organization)

Yaitu pengembangan nilai kedalam satu system organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya, yang termasuk dalam organisasi ialah konsep tentang nilai, organisasi dari padda sistem nilai.

e)      Karakteristik (characterization)

Yaitu keterpaduan dan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengarui pola kepribadian, tingkah lakunya, disini termasuk nilai dan karakteristiknya.[25]

3)      Jenis hasil belajar pada bidang psikomotorik

Aspek psikomorik berhubungan dengan keterampilan yang bersifat fa’aliyah kongkrit, walaupun demikian hal itupun tidak terlepas dari kegiatan belajar yang bersifat mental (pengetahuan dari sikap), hasil belajar dari aspek ini adalah merupakan tingkah laku yang dapat diamati.

Adapun mengenai tujuan dari psikomotorik yang dikembangkan oleh Simpson (1966-1967) sebagai berikut :

a)      Persepsi

Yaitu penggunaan lima panca indra untuk memperoleh kesadaran dalam menerjemahkan menjadi tindakan.

b)      Kesiapan

Yaitu keadaan siap untuk merespon secara mental, fisik, dan emosional.

c)      Respon terbimbing

Yaitu mengembangkan kemampuan dala aktifitas mencatat dan membuat laporan.

d)     Mekanisme

Yaitu respon fisik yang telah dipelajari menjadi kebiasaan.

e)      Adaptasi

Yaitu mengubah respon dalalm stimulasi yang baru.

f)       Organisasi

Yaitu menciptakan tindakan-tindakan baru.[26]

  1. Indikator Hasil Belajar

Indikator yang dijadikan tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil, berdasarkan ketentuan kurikulum yang disempurnakan, dan yang saat ini digunakkan adalah :

1)      Daya serap terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan  mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok.

2)      Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran atau intruksional khusus (TIK) telah dicapai siswa baik secara individu maupun secara kelompok.[27]

Demikian dua macam tolak ukur yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Namun yang banyak dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dari keduanya ialah daya serap siswa terhadap pelajaran.

  1. Tingkat keberhasilan

Setiap proses belajar mengajar selalu menghhasilkan hasil belajar, masalah yang dihadapi ialah sampai ditingkat mana prestasi (hasil) belajar yang telah dicapai, sehubungan dengan hal inilah keberhasilan belajar dibagi menjadi beberapa tingkatan atau taraf, antara lain sebagai berikut :

1)      Istimewa/maksimal     : apabila seluruh bahan pelajaran yang telah diajarkan dapat dikuasai siswa.

2)      Baik sekali/optimal     : apabila sebagian besar (76% sd 99%) bahan pelajaran yang telah dipelajari dapat dikuasai siswa.

3)      Baik/minimal              : apabila bahan pelajaran yang telah diajarkan hanya (60% sd 75%) dikuasai siswa.

4)      Kurang                        : apabila bahan pelajaran yang telah diajarkakn kurang dari 60% yang dikuasai siswa.[28]

Dengan melihat data yang terdapat dalam daya serap siswa dalam pelajaran dan presentasi keberhasilan siswa dalam mencapai TIK tersebut, dapat diketahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan siswa dan guru.

 

  1. Penilaian

Penilaian merupakan suatu proses kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, ddan menafsirkkan data tentang proses dan hasil belajar siswa, kegiatan penilaian tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan belajar siswa setiap waktu.

Oleh sebab itu penilaian harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.[29]

Hasil proses penilaian itu dijadikakn sebagai bahan pertimbangan bagi guru apakah siswa perlu diberikan pengayaan atau remedial, kalau seseorang mengidentifikasikan kemampuan yang lebih maka bisa diberikan pengayaan, sedangkkan seorang siswa yang belum menunjukkan hasil belajar seperti yang diharapkan maka perlu diberikan remedial, pemberian remidial diberikan untuk indicator hasil belajr yang dikuasai siswa.

Dalam penilaian ada beberapa kriteria atau hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

1)          Penilaian harus mencakup tiga aspek kemampuan, yaitu aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap.

2)          Penilaian menggunakan berbagai cara, misalnya : observasi, wawancarra, konferensi (pertemuan), portofolio, tes dan mengajukan pertanyaan.

3)          Tujuan penilalian terutama dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada siswa, memberikan informmmasi kepada siswa tentang tingkat kemajuan (keberhhasilan) belajarnya, ddan memberikkan laporan kepada orang tuanya.

4)          Alat penilaian harus mendorong siswa untuk menggunakan penalaran dan mmembangkitkan keaktifan siswa.

5)          Penilaian harus dilalukan berkelanjutan, agar kemajuan belajar siswa bisa dimonitor terus menerus.

6)          Penilaian harus bersifat adil,setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk meningkatkan kemampuannya.

  1. Faktor-faktor yang mempengarui hasil belajar

Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu: 1) Faktor Internal ( faktor dari dalam siswa) yakni keadaan jasmani dan rohani siswa. 2) Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan disekitar siswa. 3) Faktor pendekatan belajar (aproach to learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.[30]

1)      Faktor Internal Siswa

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek yakni aspek fisiologis dan aspek psikologis.

a)        Aspek Fisiologis

Faktor fisiologis inimasih dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

(1)   Keadaan tonus jasmani pada umumnya

Keadaan tonus (tegangan otot) jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar, keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Dalam hubungan dengan hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan.

(a)     Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan lekas mengantuk, lekas lelah dan sebagainya.

(b)    Beberapa penyakit yang kronis sangat mengganggu belajar itu. Penyakit-penyakit seperti pilek, influenza, sakit gigi, batuk dan sejenis itu biasanya diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan akan tetapi dalam kenyataannya penyakit semacam ini mengganggu aktivitas belajar.

(2)   Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama fungsi pada indera. Panca indera dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh kedalam individu. Orang mengenal sekitarnya dan belajar dengan menggunakan panca inderanya, baiknya berfungsi panca indera merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik.[31]

b)        Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa,namun diantara faktor-faktor rihaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: tingkat kecerdasan atau inteligensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.

 

 

(1)     Inteligensi dan bakat

Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan secara tepat. Sedangkan bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang pada masa yang akan datang. Kedua aspek kejiwaan (psikis) ini besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Seseorang yang mempunyai inteligensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung mengalami kesukaran dalam belaja, lambat berfikir sehingga prestasi belajarnya pun rendah. Bakat juga besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan belajar. Misalnya belajar main piano, apabila dia memiliki bakat musik, akan mudah dan cepat pandai dibandingkan dengan orangyang tidak memiliki bakat itu.

Selanjutnya, bila seseorang yang mempunyai inteligensi tinggi dan bakatnya ada dalam bidang yang dipelajari, maka proses belajarnya akan lancar dan sukses bila dibandingkan dengan orang yang memiliki bakat saja tetapi inteligensinya rendah. Demikian pula jika dibandingkan dengan orang yang inteligensinya tinggi tetapi bakatnya tidak ada dalam bidang tersebut, orang berbakat lagi pintar (inteligensi tinggi) biasanya orang tersebut sukses dalam karirnya.

(2)    Minat dan Motivasi

Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber, minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungan yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi dan kebutuhan.

Motivasi ialah keadaan internal organisme, baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.

Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) motivasi interistik adalah hal dan keadaan yang berasal dari diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar termasuk dalam motivasi interistik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhan terhadap materi tersebut. 2) motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorong siswa untuk belajar, pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah. Suri teladan orang tua, guru dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar. [32]

(3)    Sikap Siswa

Sikap adalah gejala yang berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif terhadap obyek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif, sikap siswa yang positif terutama kepada guru dan mata pelajaran yang akan disajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap guru, apalagi jika didiring kebencian terhadap mata pelajaran dan guru dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa dan prestasi yang dicapai siswa akan kurang memuaskan.

Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa maka guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan mata pelajaran yang menjadi faknya.

 

 

2)      Faktor eksternal siswa

Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni: yakni faktor sosial dan faktor non sosial.

a)      Faktor lingkungan sosial.

Lingkungan sosial adalah seperti para guru, staf adminisrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, para guru yang selalu menunjukkan sikap dan prilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri tauladan yang baik khususnya dalam hal belajar

Selanjutnya yang termasuk dalam lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dengan tetangga, dan juga teman-teman sepermainan di lingkungan siswa tersebut, lingkungan kumuh yang serba kekurangan akan mempengaruhi aktivitas belajar mereka.

Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktik penegelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik atupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.

b)      Faktor Lingkungan Non Sosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan oleh siswa.

Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.

Contoh: kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki sarana umum untuk kegiatan remaja akan mendorong siswa untuk berkeliaran ketempat-tempat yang sebenarnya tidak pantas dikunjungi, kondisi rumah dan perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa.

c)      Faktor pendekatan belajar

Pendekatan belajar adalah segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efesiensi proses pembelajaran materi tertentu.

Disamping faktor-faktor internal dan eksternal siswa sebagimana yang telah dipaparkan, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa tersebut. Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar, misalnya; mungkin sekali berpeluang untuk prestasi belajar yang bermutu siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface atau reproductive.[33]

  1. 2.      Pendidikan Agama Islam
    1. Pengertian PendidikanAgama Islam

Secara Etimologi, pengertian Pendidikan Agama Islam digali dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dari kedua sumber tersebut, ditemukan ayat-ayat atau hadits-hadits yang yang mengandung kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan Pendidikan Agama Islam, misalnya : Tarbiyah, Ta’lim, Ta’dib. Bertolak dari tinjauan etimologi ini, kata Islam yang melekat dalam Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berwarna Islam, Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didasarkan Islam.[34]

Menurut tinjauan terminologi, para ahli memberikan beragam pendapat dalam memberikan makna Pendidikan Agama Islam, diantaranya :

Achmad mendefinisikan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman (religiousitas) subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran islam.[35]

Sedangkan menurut GBPP SLTP dan SMU Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kurikulum tahun 1994, sebagaimana yang dikutip Muhaimin dkk, bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam menyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.[36]

Dari pengertian yang dipaparkan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar dalam membimbing, memelihara baik secara jasmani dan sosial, rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial, untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya manusia ideal (insan kamil), sehingga dapat tercapai kehidupan bahagia dan sejahtera lahir dan batin didunia dan akhirat

  1. Tujuan dan fungsi pelajaran Pendidikan Agama Islam

Secara Umum, tujuan Pendidikan Agama Islam adalah arah yang diharapkan setelah subyek didik mengalami perubahan proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan masyarakat serta alam sekitarnya.[37]

Sedangkan secara khusus, tujuan Pendidikan Agama Islam seperti yang telah dikemukakan oleh para pakar pendidikan, diantaranya sebagai berikut :

  1. Ali Asyraf  mengatakan bahwa Pendidikan Agama Islam bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spritual, intelektual, rasional, perasaan dan kepekaan tubuh manusia.[38]
  2. Zakiah daradjat berpendapat tentang tujuan Pendidikan Agama Islam dengan pernyataan ”kalau kita melihat kembali pengertian pendidikan Islam, akan terlihat jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan secara keseluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil dengan pola takwa”.[39]

Dari segenap uraian yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan diatas, dapat diambil suatu konsep bahwa pada hakikatnya tujuan Pendidikan Agama Islam adalah berusaha mewujudkan manusia ideal menurut citra Islam.

  1. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam.

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

  1. Al Qur’an dan Hadits
  2. Aqidah
  3. Akhlak
  4. Fiqih
  5. Tarikh dan Kebudayaan Islam.[40]

Secara mendasar materi pendidikan Islam dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pendidikan Iman (akidah)

Pendidikan akidah adalah inti dari dasar keimanan seseorang yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Karena dengan pendidikan inilah anak-anak akan mengenali siapa Tuhannya, bagaimana cara bersikap kepada Tuhannya, dan apa saja yang meski mereka perbuat dalam hidup ini.

Adapun Tujuan Islam mengenai dirinya. Al-Qur’an sebagai imamnya dan Rasulullah sebagai pemimpin dan teladannya.[41]

  1. Pendidikan Ibadah

Materi Pendidikan ibadah secara menyeluruh oleh para ulama telah dikemas dalam sebuah disiplin ilmu, yang dinamakan ilmu fiqh dan fiqh Islam. Karena seluruh tata peribadatan telah dijelaskan didalamnya, sehingga perlu diperkenalkan sejak dini dan sedikit demi sedikit dibiasakan dalam diri anak, agar kelak mereka tumbuh menjadi insan-insan yang bertaqwa.[42]

  1. Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan peringai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak. Tujuan dari pendidikan akhlak ini adalah membentuk benteng relgius yang berakar pada hati sanubari. Benteng tersebut akan memisahkan anak dari sifat-sifat negatif, kebiasaan dosa dan tradisi jahiliyah.[43]

Referensi paling penting pendidikan akhlak adalah Al Qur’an. Tujuan pendidikan islam dapat dicapai melalui pendidikan akhlak dalam bentuk pengembangan sikap kepasrahan, penghambaan dan ketakwaan. Allah SWT menjadikan sifat-sifat-Nya yang terdapat didalam Asmaul Husna sebagai nilai ideal akhlak yang mulia dan menyerukan kepada manusia untuk meneladaninya.[44]

 

 

  1. C.    Studi Komparatif Keberhasilan Belajar Siswa Pada Strategi Writing In The Here And Now dan Non Writing In The Here And Now

Hasil belajar merupakan suatu bidang yang sangat menarik untuk dikaji namun cukup rumit sehingga menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. hasil belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai setelah mengalami proses belajar mengajar atau setelah mengalami interaksi dengan lingkungannya guna memperoleh ilmu pengetahuan dan akan menimbulkan perubahan tingkah laku yang relatif menetap dan tahan lama.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dikemukakan bahwa peningkatan hasil belajar pada anak, adalah sangat penting. Namun usaha ke arah itu haruslah lewat jalan atau suatu model pembelajaran agar dapat merangsang kemampuan anak dan dapat membuat kombinasi baru, sebagai kemampuan untuk respons anak agar belajar, serta merangsang agar anak berfikir.

Mengingat pentingnya peningkatan hasil belajar siswa tersebut, maka di sekolah perlu disusun suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Strategi tersebut diantaranya meliputi pemilihan pendekatan, metode atau model pembelajaran.

Pembelajaran dengan strategi Writing in the here and now (menulis disini dan saat ini) merupakan proses pembelajaran khususnya dalam segi peranan guru. Hal ini akan sangat terlihat jika diterapkan pada Pendidikan Agama Islam (PAI), diantaranya pada aspek pelajaran Akhlak yang merupakan salah satu materi yang digunakan untuk menumbuhkembangkan akhlak yang sesuai dengan al Qur’an dan hadits melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akhlakul karimah sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.

Guru dalam mengajar pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan strategi Writing in the here and now (menulis disini dan saat ini). strategi pembelajaran disini diartikan sebagai kegiatan menuliskan pengalaman siswa dimasa lampau ataupun dimasa yang akan datang  dimana guru memilihkan jenis pengalaman yang sesuai dengan materi pelajaran, serta menginformasikan bahwa cara berharga untuk merefleksikan pengalaman adalah dengan mengenangnya ataupun mengalaminya untuk pertama kali. Adapun kegiatannnya adalah murid dan guru sama-sama aktif, seperti guru menerangkan sedikit tentang materi pelajaran, setelah itu murid menuliskan pengalaman mereka. Walaupun begitu siswa tetap senang menerima materi tersebut dan  mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Salah satu usaha guru dalam strategi Writing in the here and now (menulis disini dan saat ini) tersebut, guru ingin membuat murid mengerti tentang materi yang telah diajarkan. Pada materi Pendidikan Agama Islam serta bisa meningkatkan hasil belajar siswa, karena meningkatkan hasil belajar siswa  merupakan bagian yang integral dari setiap program pendidikan. Jika meninjau tujuan program atau sasaran belajar siswa, hasil belajar siswa biasanya disebut sebagai prioritas. Hal ini dapat difahami jika kita melihat pertumbuhan (rasional) strategi-strategi pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Pada penelitian ini, hasil belajar  siswa diukur berdasarkan tiga komponen yakni kuantitas (mengaju pada fluency), kualitas dan kebaruan (mengaju pada novely) ”kuantitas” ditujukan dengan banyak jawaban benar yang dibuat oleh siswa. ”kualitas” ditunjukkan dengan lazim atau tidaknya  jawaban yang dibuat oleh siswa. Pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan strategi Writing in the here and now (menulis disini dan saat ini) dilakukan dengan satu kali tes hasil belajar yaitu dengan post test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dipakai untuk melihat apakah ada perbedaan keberhasilan belajar antara strategi Writing in the here and now (menulis disini dan saat ini) dan non Writing in the here and now. Setiap siswa mempunyai satu skor hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sehingga bisa ditentukan peningkatan sebelum dan sesudah diberi treatment (dalam hal ini Writing In The Here and Now) pada hasil belajar siswa

 

 

 

 


[1] Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran ; Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006), h. 124

[2] Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), h. 2-3

[3] Wina Sanjaya, Op. Cit h. 128

[4] Ibid,. h. 131

[5] Abu Ahmadi dan joko Prasetyo, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung : Pustaka Setia, 1997), h. 22

[6]  Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Mikro Teaching, (Jakarta : Quantum Teaching, 2005),  h. 23

[7] ibid.h. 31

[8] Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta : CTSD, 2008), h. 1

               [9] Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, (Semarang : Rasail Media Group, 2008), h. 75

[10] Melvin L. Siberman, Active Learning : 101 Strategies to Teach Any subject, Amerika : Library Of Congress Cataloging In Publication Data, 1996, h. 124

[11] Mel siberman, Active learning,  (Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 2007), h. 186

 [12] Umi Machmudah dan Abdul Wahab Rosyidi, Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang : UIN Malang Press, 2008), h. 173

[13]  Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia,  (Jogjakarta : Ar-Ruzz, 2005), h. 102

                  [14] Aat Hidayat “Strategi Writing In the Here And NowDalam Pembelajaran AlQur’an Hadits” Dalam http://aathidayat.wordpress.com, 07 Mei 2010

[15] Liza Rosita, “Strategi Pembelajaran Writing in The Here and Now”, dalam http://www.lizzarosita.blogspot.com, 10 April 2010.

[16] Hartono, Kamus Praktis Bahasa Indonesia,(Jakarta : Rineka Cipta, 1996), h. 53

[17] Winke, Psikologi Pengajaran, (Jakarta : Grafindo, 1991), h. 100

               [18] Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar Dan Pembelajaran, Jogjakarta : Arruzz Media, 2008, h. 13

 

[19] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosda Karya 2008), h. 94-95

[20] Departemen Agama, Al-qur’an dan Terjemahannya, (Jawa Tengah: Mubarokatan Toyyibah, tt), h. 543

[21] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : Raja Grafindo Persada , 2006), h. 19

[22] Ibid, h. 22

[23] Dewi Ketut Sukardi, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 22.

[24] Anas Sudijono, Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 50

[25] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Akasara 1995 ), h. 53

[26] Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 82

               [27] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta : Rieneka Cipta,1996), h. 120

[28] ibid, h. 121

[29] Farida Rahim, Pengajaran Membaca Disekolah Dasar, (Jakarta :Bumi Aksara,2005), h.74

[30] Muhibbin Syah, op.cit. , h. 132

[31] Sumardi  Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1998), h. 235-236

[32] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), h. 55-57

[33] Muhibbin Syah, op. cit, h.155

[34] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam, (Bandung :Remaja Rosda Karya, 1992), h. 24

[35] Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005), h. 29

[36] Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya : Citra Media, 1996), h.1

[37] Oemar M. At Toumy Al Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1974), h. 399.

[38] Ali Ashraf, Horison Baru Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Firdaus, 1996), h.2

[39] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), h.29

[40] Permendiknas, standar kompetensi dan kompetensi dasar tingkat SMP, MTS, DAN SMPLB,thn 2006, h. 2

[41] Abdullah Nasih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anaka Dalam Islam, (Semarang : CV. Asy Syifa’,1981), h.151

[42] M. Nipan Abdul Halim, Anak Shaleh Dambaan Keluarga, (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2000), h.102

[43] Abdullah Nasih Ulwan, op.cit., h.174

[44] Hery Noer Aly dan Munzier S., Watak Pendidikan Islam, (Jakarta : Friska Agung Insani, 2003), h.89.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: