implementasi manajemen perubahan untuk sekolah RSBI

  1. MANAJEMEN PERUBAHAN
    1. Pengertian Manajemen
      1. Pengertian Manajemen

Kata MANAGEMENT berasal dari bahasa inggris dan di Indonesiakan menjadi “manajemen”. Seperti yang dikemukakan oleh salah satu tokoh ilmuwan manajemen yang bernama Marry Parker Follet mendefinisikan manajemen ini sebagai seni mencapai sesuatu yang melalui orang lain (the art of getting things done through the others). Dengan definisi tersebut, manajemen tidak bekerja sendiri, tetapi bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.[1]

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[2]

Melihat dari beberapa pengertian manajemen diatas, serta kenyataan bahwa manajemen itu adalah ilmu sekaligus seni maka manajemen itu dapat diberi definisi sebagai seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dari sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu.[3]

Selain memiliki definisi seperti yang disebutkan diatas, manajemen juga memiliki empat kerangka.

  1. Kerangka Manajemen

1)      Planning (perencanaan)

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perencanaan (planning), berikut ini penulis mengutip beberapa definisi perencanaan.

Perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang meliputi pemilihan anatara alternative – alternative dari objective, policies, procedures dan program.[4] Menurut Bintoro Tjokroaminoto, perencanaan ialah proses mempersiapkan kegiatan – kegiatan secara sistematis yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.[5]

Perencanaan berarti usaha merencanakan kegiatan – kegiatan yang hendak dilakukan untuk mencapai tujuan – tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, perencanaan merupakan perumusan yang teliti dari pada kebijakan – kebijakan mengenai berbagai aspek serta kegiatan, termasuk penggunaan sumber – sumber yang ada dan memungkinkan. Oleh karena itu, suatu perencanaan merupakan hasil suatu pengambilan keputusan yang sangat vital dalam manajemen.

2)      Organizing (pengorganisasian)

Pengorganisasian yaitu penentuan penggolongan dan penyusunan aktivitas – aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan – tujuan, penentuan orang – orang yang akan melaksanakan, penyediaan alat –alat yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dan pendelegasian wewenang yang ditugaskan dalam bidang aktivitas masing – masing.[6] Pengorganisasian ini merupakan fungsi organic manajemen yang kedua, yang sangat vital untuk memungkinkan tercapainya tujuan  direncanakan. Pengorganisasian merupakan langkah pertama kearah pelaksanaan rencana yang telah tersusun sebelumnya. Oleh karena itu sangat tepat bahwa fungsi pengorganisasian ini ditempatkan sebagai fungsi kedua sesudah perencanaan.

3)      Actuating (penggerakan)

Fungsi manajemen yang ketiga yakni fungsi penggerak. Penggerak juga merupakan bagian yang vital dalam proses manajemen, karena berhubungan langsung dengan orang – orang yang menggerakan organisasi yang bersangkutan.

Pengertian penggerak itu sendiri adalah segala tindakan untuk menggerakan orang – orang dalam suatu organisasi berlandaskan pada perencanaan dan pengorganisasian yang telah ada.[7]

4)      Controlling (pengawasan)

Pengawasan adalah fungsi manajer yang merupakan pengukuran dan perbaikan dari pelaksanaan kegiatan – kegiatan para bawahannya agar supaya yakin bahwa sasaran – sasaran organisasi dan rencana – rencana yang telah dirancang dapat dicapai.[8] Pengawasan ini merupakan fungsi terakhir yang harus dilaksanakan dalam manajemen. Adapun fungsi pengawasan ini meliputi empat kegiatan, yaitu:

a)      Menentukan standar prestasi

b)      Mengukur prestasi yang telah dicapai

c)      Membandingkan prestasi yang telah dicapai dengan standar prestasi, dan

d)     Melakukan perbaikan jika ada penyimpangan dari standar prestasi yang telah ditentukan.

Pada dasarnya pengawasan merupakan tindak lanjut dari ketiga fungsi manajemen terdahulu yakni planning, organizing, dan actuating. Tanpa adanya ketiga fungsi tersebut, maka tidak perlu adanya pengawasan.

Dengan definisi tersebut manajemen tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan tersebut.

  1. Pengertian perubahan
    1. Pengertian perubahan

Perubahan itu sendiri adalah membuat sesuatu menjadi berbeda, perubahan merupakan pergeseran dari keadaan sekarang suatu organisasi menuju pada keadaan yang diinginkan dimasa depan.[9] Perubahan sering terjadi dengan sendirinya, bahkan sering terjadi tanpa kita sadari bahwa perubahan tersebut sedang berlangsung.

Perubahan dalam pendidikan ini mencakup dua komponen utama perubahan yang saling terkait karena organisasi pendidikan atau sekolah harus dilihat sebagai satu keutuhan yang harus senantiasa diupayakan untuk meningkatkan output pendidikan. Yang pertama adalah perubahan dalam pengelolaan yang meliputi:

  1. Kepemimpinan
  2. Komunikasi
  3. Hubungan internal dan eksternal organisasi

Kedua; perubahan dalam sekolah untuk mendukung terwujudnya perubahan  tersebut meliputi:

  1. Tim manajemen supervise.
  2. Peran guru.
  3. Para staf pendukung professional.
  4. Metodologi perbaikan berkelanjutan.
  5. Rancang bangun kurikulum.
  6. Monitoring terhadap kemajuan siswa.
  7. Program penilaian.

Perubahan di sekolah hanya dapat terjadi apabila kepala sekolah dan guru memiliki dan memahami visi, misi, dan isi, mampu menciptakan kondisi yang kondusif, kemampuan untuk mengantisispasi dan proaktif terhadap perubahan, memelihara dan menumbuhkan nilai-nilai keyakinan, sikap dan budaya sekolah yang baik.[10]

 

 

  1. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Perubahan

Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan, yaitu factor internal dan eksternal. Kedua faktor ini sering kali berinteraksi sehingga saling memperkuat satu sama yang  lainnya.

  1. Faktor internal

Faktor ini merasakan adanya kebutuhan akan perubahan yang dirasakan. oleh karena itu, setiap organisasi mengahadapi pilihan antara berubah atau mati tertekan oleh kekuatan perubahan. Faktor internal di dalam organisasi dapat pula menjadi pendorong untuk perlunya perubahan.

Adapun faktor internal sebagai berikut:

  1. Perubahan ukuran dan struktur organisasi

Perubahan yang terjadi menyebabkan banyak organisasi melakukan restrukturisasi, dan biasanya diikuti dengan downsizing dan outsourcing. Restrukturisasi cenderung membentuk organisasi yang lebih datar dan berbasis team. Outsourcing dimaksudkan untuk menarik tenaga professional guna meningkatkan kinerja organisasi.[11]

  1. Perubahan dalam sistem administrasi

Perubahan sistem administrasi dimaksudkan untuk memperbaiki efisiensi, merubah citra sekolah, atau untuk mendapatkan kekuasaan dalam organisasi. Perubahan sistem administrasi dimaksudkan agar organisasi menjadi lebih kompetetif.[12]

 

  1. Introduksi teknologi baru

Perubahan teknologi baru berlangsung secara cepat dan mempengaruhi cara bekerja orang-orang dalam organisasi. Teknologi baru diharapkan membuat organisasi semakin kompetitif. Teknologi telah merubah pekerjaan dan organisasi. Pernggantian pegawasan dengan menggunakan computer menyebabkan rentang kendali manejer semakin luas dan organisasi semakin yang lebih datar.[13]

  1. Sifat tenaga kerja

Tujuan organisasi yang menjadi ukuran kinerja, tidak selalu dapat dicapai. setiap organisasi harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang bersifat multicultural. Kebijaksanaan dan pratek sumberdaya manusia harus berubah agar dapat menarik dan mempertahankan tenaga kerja yang semakin beragam. Organisasi harus dapat mengakomodir kepaentingan pekerja sebagai akibat keberagaman tersebut.

  1. Perilaku dan keputusan kepala sekolah

Kekuatan untuk perubahan dapat datang dari adanya konflik, kepemimpinan yang jelek, system penghargaan yang tidak adil, dan perlunya reorganisasi structural.

Apabila terdapat konflik antara atasan dan bawahannya merupakan tanda bahwa perubahan diperlukan. Baik kepala sekolah maupun pegawai mungkin memerlukan pelatihan interpersonal, atau sekedar dengan cara memisahkan kedua orang tersebut.

 

  1. faktor eksternal

Faktor ini cenderung merupakan kekuatan yang mendorong terjadinya suatu perubahan. Faktor ini merupakan faktor pendorong bagi perlunya perubahan sebagai kekuatan yang bersumber dari luar organisasi, sehingga relative tidak dapat dikendalikan.[14] Di dalam lingkungan eksternal ini terdapat banyak kekuatan, tetapi boleh dikatakan bahwa kekuatan-kekuatan utama berupa: tekhnologi Komputer, persaingan global dan lokal, dan faktor-faktor demografis. [15]

Selain itu menurut Mc Calman dan paton ada 10 macam faktor pokok dalam manajemen perubahan secara efektif, yaitu:[16]

  1. perubahan bersifat pervasive (menyebar) secara menyeluruh
  2. perubahan efektif, memerlukan bantuan manjemen senior secara aktif.
  3. Perubahan merupakan sebuah kegiatanyang bersifat multidisipliner.
  4. Perubahan berhubungan dengan persoalan manusia.
  5. Perubahan berhubungan dengan keberhasilan.
  6. Perubahan merupakan sebuah proses yang berkelanjutan.
  7. Perubahan efektif memerlukan agen perubahan yang berkompeten.
  8. Ditinjau dari sisi pandang metodologi , maka tidak ada cara satu-satunya yang terbaik.
  9. Perubahan menyangkut kepemilikan.
  10. Perubahan menyangkut persoalan kegembiraan, tantangan, dan peluang.
  11. Target Dan Memulai Perubahan

Sejumlah target perubahan yang terencana normal ditunjukan kearah upaya memperbaiki kinerja pada salah satu diantara tingkatan berikut (yang berbeda-beda):

a)      Tingkat sumber daya manusia

Kegiatannya meliputi: mempersiapkan karyawan / guru daloam melakukan perubahan, menjadikan SDM yang cerdas, mencapai keunggulan, pelibatan dan pemberdayaan karyawan/ guru, dan mengubah pola pikir.[17]

b)      Tingkat kemampuan tekhnologi

Salah satu rumus yang berlaku dalam perkembangan tekhnologi mutakhir dan canggih adalah perkembangan tersebut harus bisa dimanfaatkan oleh manajemen dalam proses menghasilkan sesuatu yang bermutu tinggi. Akan tetapi hal tersebut tidak mudah karena disamping rumit mungkin juga mahal. Meskipun demikian, tampaknya tidak ada pilihan lain bagi manajemen kecuali memanfaatkan dalam batas-batas kemampuan adalah menguasai satu bentuk atau jenis tekhnologi tertentu yang terjangkau oleh sekolah dikaitkan dengan factor keberhasilan sekolah yang bersifat kritikal.

c)      Tingkat kemampuan keorganisasian.[18]

Organisasi didirikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan sesuai dengan perjalanan waktu organisasi pembelajaran. Dalam lingkungan yang makin kompetitif, organisasi harus melakukan perubahan dan selalu melakukan inovasi untuk mencapai keunggulan bersaing.[19]

Sedangkan untuk memulai suatu perubahan dilakukan dengan sebagai berikut:

  1. a.      Analisis turnaround (putar haluan) adalah istilah yang banyak digunakan dalam change management untuk memperbaiki suatu institusi yang sedang sakit. Istilah turnaround disini dipakai untuk menjelaskan strategi yang dapat dipakai oleh pemimpin perubahan yang menghadapi banyak kendala, namun ia masih punya cukup waktu dan masih ada resources yang memadai untuk mencari solusi.

Ada beberapa indikator yang dapat dipakai untuk melihat seberapa jauh sekolah dapat diputar haluannya. Indikator-indikator tersebut antara lain adalah:

  1. Dukungan yang kuat dari stakeholder, termasuk para pegawai, guru dan siswa, dan komunitas. Dan sekolah juga membutuhkan dukungan dari Diknas dan kabupaten wilayah Sidoarjo.
  2. Adanya team manajemen yang solid dan tangguh untuk mengendalikan operasional perusahaan.
  3. b.      Menghilangkan kompleksitas

Untuk membuat organisasi kompleks bergerak simple dan cepat, pertama – tama dibutuhkan orang – orang yang berani berpikir dan bertindak simple. Dengan demikian, salah satu agenda penting dalam manajemen perubahan agar organisasi bisa bergerak lincah yaitu dengan menyederhanakan hal – hal yang kompleks supaya menjadi jelas dengan membuang hal – hal yang kurang penting.

  1. c.       Orientasi pada tindakan

Sehebat apapun angan – angan anda dalam menciptakan perubahan, belum tentu anda mampu menjalankannya bila tidak berorientasi pada tindakan dan berani mengambil resiko. Namun sebaliknya, tindakan yang hebat bila tidak dilandasi dengan strategi yang benar, maka akan sia – sia. Strategi dan tindakan sangat penting dalam menciptakan perubahan.

 

  1. Factor-faktor pemicu perubahan

a)      Perkembangan ilmu pengetahuan

Banyak masyarakat yang mengakui bahwa ilmu pengetahuan dan tekhnologi dapat berkembang dengan pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang berkembang pesat itu mempunyai pengaruh yang sangat luas seperti halnya:

–          ilmu pengetahuan harus merupakan instrument untuk membantu manusia dalam memecahkan suatu masalah yang sedang dihadapi.

–          Umat manusia memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dalam bentuk penggunaan akses yang makin mudah terjangkau oleh masyarakat kepada peningkatan pendidikan formal, mulai dari tingkat yang paling rendah hingga ke sastra yang paling tinggi.

–          Kesadaran yang semakin tinggi akan adanya berbagai hak, termasuk yang bersifat asasi sebagai bagian dari pengakuan atas harkat dan martabat manusia, dibarengi oleh pengetahuan yang makin tepat tentang berbagai kewajiban yang harus ditunaikannya.[20]

b)      Perkembangan tekhnologi

Perkembangan tekhnologi merupakan salah satu “produk” perkembangan ilmu pengetahuan. Artinya, berbagai terobosan tekhnologikal memang selalu berangkat dari berbagai temuan ilmiah, terutama kegiatan ilmiah yang bersifat penelitian dengan berbagai bentuk eksperimen dan pengembangan.

  1. Pengertian Manajemen Perubahan
    1. Pengertian manajemen perubahan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

a)      Menurut Wibowo, dalam bukunya Manajemen Perubahan,  Manajemen perubahan adalah suatu proses secara sistematis dalam menerapkan pengetahuan, sarana dan sumber daya yang diperlukan untuk mempengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak dari proses tersebut.[21]

b)      Menurut Prof. Dr. J. Winardi, manajemen perubahan adalah upaya yang ditempuh manajer untuk memanajemen perubahan secara efektif, dimana diperlukan pemahaman tentang persoalan motivasi, kepemimpinan, kelompok, konflik, dan komunikasi.[22]

c)      Manajemen perubahan adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengelola akibat-akibat yang ditimbulkan karena adanya perubahan dalam organisasi. Organisasi dapat terjadi karena sebab-sebab yang berasal dari dalam maupun dari luar organisasi tersebut.[23]

Manajemen perubahan ditujukan untuk memberikan solusi yang diperlukan dengan sukses dengan cara yang terorganisasi dan dengan metode melalui pengelolaan dampak perubahan pada orang yang terlibat didalamnya.

 

  1. Tahapan dalam manajemen perubahan

Untuk melakukan suatu proses dalam perubahan atau transformasi secara berhasil membutuhkan sejumlah tahapan antara lain sebagai berikut:[24]

a)      Membangun kebutuhan untuk melakukan perubahan. artinya suatu perubahan tidak akan berhasil tanpa ditopang oleh sebuah kebutuhan yang jelas. Dalam tahap ini kita perlu memberikan sejumlah alasan untuk bisa menumbuhkan kesadaran untuk berubah.

b)      Menciptakan visi dan tujuan perubahan. Kita sadar bahwa perubahan merupakan suatu kebutuhan yang perlu dilakukan, maka untuk itu dalam fase berikutnya kita mesti membangun tujuan dari perubahan itu sendiri secara jelas. Karena visi dan tujuan dari perubahan ini akan memberikan arahan yang jelas bagi proses transformasi yang tengah dilakukan.

c)      Mengelola implementasi proses perubahan. Tekad dan tujuan perubahan yang sudah dideklarasikan hanya akan sia-sia jika tidak didukung dengan implementasi yang jelas dan sistematis.

d)     Memelihara momentum perubahan. Hal ini perlu dilakukan agar proses perubahan yang telah dijalankan tetap berada on track, dan tidak mundur lagi kebelakang. Beberapa tindakan konkrit yang dapat dilakukan disini antara lain adalah membangun support system bagi para change agent. Selain itu juga perlu dikembangkan kompetensi dan perilaku baru yang lebih sesuai dengan tujuan perubahan yang hendak diraih.

  1. Model Manajemen Perubahan

a)      Model perubahan Kurt Lewin

Kurt Lewin mengembangkan model perubahan terencana yang disebut force-field model yang menekankan kekuatan penekanan. Model ini dibagi menjadi tiga tahap, yang menjelaskan cara-cara mengambil inisiatif, mengelola dan menstabilkan proses perubahan. Yaitu: unfreezing, changing, atau moving dan refreezing. Tahap unfreezing adalah tahap dimana pemimpin perubahan mengintensitaskan perasaan tidak puas para pengikutnya terhadap situasi kini. Ketika perasaan tidak puas terhadap situasi kini sudah cukup kuat, tahap berikutnya yakni moving (perubahan), dapat dimulai.perubahan dalam hal ini adalah berpindah dari keadaan yang tidak memuaskan menuju situasi baru yang diinginkan.[25]

Dasar Asumsi:

  1. Proses perubahan terhadap hal yang baru, seperti misalnya untuk tidak melanjutkan sikap, perilaku, atau praktik organisasi yang masih berlaku.
  2. Perubahan tidak akan terjadi sampai ada motivasi untuk berubah.
  3. Resistensi untuk perubahan ditemukan.
  4. Perubahan yang efektif memerlukan penguatan perilaku, serta sikap yang baru.

b)      Model Perubahan Kreitner dan Kinicki

Pendekatan system ini merupakan kerangka kerja perubahan organisasional yang terdiri dari tiga komponen yaitu: Inputs, target element of change, dan outputs.

–          Inputs ini merupakan masukan dan sebagai pendorong bagi terjadinya proses perubahan. Semua perubahan organisasional harus konsisten dengan visi, misi, dan rencana strategis.

–          Target element of change ini mencerminkan elemen didalam organisasi yang dilakukan dalam proses perubahan. Sasaran perubahan diarahkan pada pengaturan organisasi, penetapan tujuan, factor social, metode, desain kerja dan tekhnologi, dan aspek manusia.

–          Outputs merupakan hasil akhir yang diinginkan dari suatu perubahan. Hasil akhir ini harus konsisten dengan rencana stratejik organisasi.

c)      Model Tyagi

Model ini beranggapan bahwa model Lewin tersebut diatas belum lengkap karena tidak menyangkut beberapa masalah penting, proses perubahan ini tidak hanya menyangkut perilaku SDM. Pendekatan system dalam perubahan akan memberikan gambaran menyeluruh dalam perubahan organisasi. Model ini menggunakan pendekatan system, dan model perubahan dalam organisasi.

  1. Teori Manajemen Perubahan

a)      Teori Motivasi

Beckhard dan Harris menyimpulkan perubahan akan berubah bila ada sejumlah syarat, yaitu:

  1. Manfaat-biaya, bahwa manfaat yang diperoleh harus lebih besar dari pada biaya perubahan.
  2. Persepsi hari esok, manusia dalam organisasi melihat hari esok dpersepsikan lebih baik.
  3. Ketidakpuasan, bahwa adanya ketidakpuasan yang menonjol terhadap keadaan sekarang yang diatasi pimpinan.
  4. Cara yang praktis, bahwa ada praktis yang dapat ditempuh untuk keluar dari situasi sekarang. [26]

b)      Teori Poses Perubahan Manajerial

Teori ini mengadopsi pula pentingnya upaya-upaya mengurangi stress dalam perubahan dan desain pekerjaan yang lebih memuaskan. Menurut teori ini, untuk menghasilkan perubahan secara manajerial perlu dilakukan hal-hal berikut ini:

  1. Memobilisasi energy para stakeholders untuk mendukung perubahan.
  2. Mengembangkan visi dan strategi untuk mengelola dan menghasilkan daya saing yang positif.
  3. Mengkonsolidasi perubahan melalui kebijakan strategi yang diformalisasikan, struktur, system dan sebagainya.

c)      Teori perubahan Alfa, Beta, dan Gamma

Teori ini merupakan perkembangan dari teori OD (Organization Development) yang dianjurkan oleh Gollembiewski et al. salah satu bentuk intervensi atau pendekatan yang dilakukan dalam OD adalah team-building yang bertujuan untuk merekatkan nilai-nilai sebuah organisasi, khususnya kepercayaan dan komitmen.

d)     Teori contingency

Teori ini dikembangkan oleh Tannenbaum dan Shmid pada tahun 1973. Teori ini berpendapat bahwa tingkat keberhasilan pengambilan keputusan sangat ditentukan oleh sejumlah gaya yang dianut dalam mengelola perubahan. [27]Teori kontingensi juga dikenal orang sebagai teori situasional. Mengingat kompleksitas lingkungan-lingkungan dan organisasi-organisasi. Menurut teori ini, strategi yang dipilih guna menghadapi situasi tertentu, tergantung pada tipe situasi yang dihadapi, atau ia bersifat kontingen pada situasi yang ada.

  1. Tinjauan Tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
    1. Pengertian RSBI

Sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang – undang Dasar 1945 (UUD 1945), bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan kehidupan bangsa meskipun merupakan karunia illahi juga sebagian besar dipengaruhi oleh hasil pendidikan.  Oleh karena itu, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pembangunan di bidang pendidikan memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Konsekuensinya, pemerintah berkepentingan sekaligus berkewajiban menyediakan berbagai jalur, jenjang dan satuan pendidikan dalam kerangka system pendidikan nasional.

Sekolah bertaraf internasional  ini adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dengan kualitas bertaraf internasional dan bercirikan budaya Indonesia serta menghasilkan peserta didik atau lulusannya berkemampuan setara dengan peserta didik atau lulusan dari Negara yang sudah maju.

RSBI merupakan sebuah wadah dalam upaya peningkatan mutu sekolah yang harus dilaksanakan sesuai dengan amanat undang- undang. Menurut Dr.Sungkowo, untuk menjadikan sekolah yang bertaraf internasional ini, setiap sekolah harus mengetahui lebih dahulu mengenai konsep-konsep dari RSBI itu sendiri. Salah satunya adalah sekolah-sekolah harus mencapai standar nasional pendidikan.

Rintisan Sekolah Bertaraf  Internasional ini merupakan kelas standart nasional pendidikan yang ditunjukan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek intensitas dan kualitas layanan yang ditata secara efektif, professional untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan karakteristik seperti penggunaan bahasa inggris atau bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar secara aktif  ICT (information and communication technologi) dalam pembelajaran.[28]

Untuk itu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) ini merupakan sekolah yang diharapkan sudah memenuhi seluruh standar nasional pendidikan yang diperkaya dan di kembangkan dengan mengacu pada standart pendidikan lembaga internasional dan atau Negara maju sehingga memiliki daya saing di forum internasional.

Criteria Rintisan sekolah bertaraf  internasional meliputi:

  1. Criteria awal bagi SMP Negeri
    1. Nilai kinerja sekolah minimal “baik” dari hasil ME SSN
    2. Di kabupaten atau kota yang bersangkutan belum ada RSBI
    3. Di kabupaten atau kota yang bersangkutan baru ada satu RSBI
    4. Criteria hasil verifikasi
      1. Nilai kinerja sekolah minimal “ baik”
      2. Di dukung oleh profil sekolah yang relevan (dilihat dari 8 aspek SSN) dan memiliki ciri keinternasionalan
      3. Criteria hasil Monitoring dan Evaluasi
        1. Nilai kinerja sekolah minimal “ baik”

Didukung profil sekolah yang memadai (ada peningkatan aspek SNP) dan ciri – ciri keinternasionalan.[29]

  1. Tujuan RSBI

Dalam membuat atau merumuskan tujuan sekolah ada tiga ketentuan yaitu:

  1. Tujuan dibuat untuk jangka waktu empat tahun
  2. Tiap misi bisa dibuat lebih dari satu tujuan
  3. c.       Tujuan mengandung ABCD (Audience-Behaviour- Conditions-Degree).

Adapun tujuan penyelenggaraan RSBI adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan umum

a)      Meningkatkan kinerja sekolah agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional secara optimal dalam mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan memiliki daya saing pada taraf internasional.

b)      Memberi peluang pada sekolah yang berpotensi untuk mencapai kualitas bertaraf nasional dan internasional.

c)      Menyiapkan lulusan yang mampu berperan aktif dalam masyarakat global.

d)     Memberi layanan kepada siswa berpotensi untuk mencapai prestasi bertaraf nasional dan international.

  1. Tujuan khusus

Menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi yang tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan yang diperkaya dengan standar kompetensi lulusan yang berciri internasional.

a)      Meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta berakhlak mulia.

b)      Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani

c)      Meningkatkan mutu lulusan dengan standar yang lebih tinggi dari pada standar kompetensi lulusan nasional.

d)     Menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

e)      Mampu memecahkan masalah secara efektif.

f)       Siswa termotifasi untuk belajar mandiri, berfikir kreatif, serta inovatif.

g)      Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

h)      Mengikuti sertifikasi internasional,

i)        Dapat bekerja pada lembaga internasional, dll.

Sedangkan untuk tujuan khusus dari SMP – SBI adalah “ untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi berkelas nasional dan internasional secara bersamaan”. Sehingga tujuan SMP ini bisa dirinci dalam bentuk standar kompetensi lulusan sebagaimana yang tercantum dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI (permendiknas) No. 23 tahun 2006. Tentang standart kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.

  1. Prinsip penyelenggaraan RSBI

Penyelenggaraan RSBI mengacu pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

a)      Telah memenuhi criteria “kategori mandiri”

b)      Menggunakan kurikulum sekolah berdasarkan standar isi dan kompetensi lulusan yang diperkaya dengan kerangka kurikulum Negara maju, bertaraf internasional, atau berbagai sumber lainnya.

c)      Menggunakan information communication and technology (ITC) dalam pembelajaran.

d)     Melakukan inovasi – inovasi di bidang pengelolaan sekolah dan proses pembelajaran untuk menciptakan lulusan yang dapat bersaing secara global.

e)      Memberi kebebasan kepada peserta didik untuk memilih program internasional agar dapat melanjutkan studi ke luar negeri.

  1. Model-model penyelenggaraan RSBI

Berdasarkan kenyataan dilapangan, maka terdapat model penyelenggaraan RSBI, dimana suatu daerah atau sekolah penyelenggara dapat memilih salah satunya sesuai dengan kebutuhan, kekhasan, keunikan, dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap sekolah, baik untuk sekolah baru atau pengembangan. Model – model penyelenggaraan RSBI antara lain:

  1.  Model terpadu atau satu atap satu system (SATAP – SATEM)

Yaitu penyelenggaraan RSBI pada jenjang SMP didalam satu lokasi dengan system pengelolaan pendidikan yang sama. Model ini bisa dipimpin oleh seorang direktur / manajer yang mengkoordinasikan tiga kepala sekolah pada tiap satuan pendidikan (SD – SMP – SMA) dalam satu lokasi / tempat, syaratnya prasarana dan sarana tetap sesuai dengan IKKM (indicator kerja kunci minimum), khususnya tanah minimal 6 ha, 1 ha untuk SD dan SMP 5 ha.

  1. Model terpisah – satu system – beda atap

Yaitu penyelenggaraan RSBI SMP dilokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan system pengelolaan pendidikan yang sama.

  1. Model terpisah – beda system – beda atap

Yaitu penyelenggaraan RSBI SMP dilokasi yang berbeda – beda (terpisah) dengan system pengelolaan pendidikan yang berbeda – beda juga.

  1. Model Entry Exit

Yaitu penyelenggaraan RSBI pada  jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan cara mengelola kelas – kelas regular dan kelas bertaraf internasional.

  1. Model Newey Developed SBI – SMP

Yaitu model adopsi dengan asumsi bahwa untuk menjadikan Rintisan sekolah Bertaraf internasional (RSBI) segala –galanya yang bertaraf internasional, mulai dari siswa, kurikulum, guru, kepala sekolah, sarana prasarana, dana dan sebagainya

  1. Model pengembangan (existing Developed) RSBI

Yaitu dengan mengembangkan sekolah yang telah ada, khususnya sekolah yang mutunya bagus.

  1. Model Kemitraan

Model ini bisa sekolah yang sudah ada atau sekolah baru dengan menjalin kerjasama / mitra dengan salah satu sekolah diluar negeri / Negara maju yang telah memiliki reputasi internasional.

Mengingat SMP Negeri 1 Sidoarjo yang berstatus negeri dan berdiri sendiri dalam satu instansi maka dalam penyelenggaraannya menggunakan system pengembangan (existing developed) dari dulunya SMP Negeri 1 Sidoarjo yang berstatus Sekolah Standar Nasional (SSN) dengan berbagai fasilitas, prestasi dan keunggulan maka SMP Negeri 1 Sidoarjo dijadikan pilot project RSBI

  1. Visi dan Misi Program RSBI

Sekolah RSBI adalah tahap awal untuk menuju SBI. Oleh karena itu perlu dipahami terlebih dahulu visi dan misi SBI.

Mengacu pada visi pendidikan nasional dan visi Depdiknas, visi SBI perlu dirancang agar mencirikan wawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi kecerdasan dan meningkatkan daya saing global.

Visi tersebut memiliki implikasi bahwa penyiapan manusia bertaraf internasional memerlukan upaya – upaya yang dilakukan secara intensif, terarah, terencana, dan sistematik agar dapat mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, damai, dihormati, dan diperhitungkan oleh bangsa – bangsa lain.

Visi SBI, yaitu mencirikan wawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi kecerdasan dan meningkatkan daya saing global yang perlu dijabarkan kedalam misi SBI.

Misi yang telah dijabarkan tersebut akan dijadikan dasar rujukan dalam menyusun dan mengembangkan rencana program kegiatan yang memiliki indicator SMART, yaitu  spesifik (spesific), dapat diukur (measurable), dapat dicapai (achievable), realistic (realistic), dan memiliki kurun waktu jangkauan yang jelas (time Bound). Misi ini direalisasikan melalui kebijakan, rencana program, dan kegiatan SBI yang disusun secara cermat, tepat, futuristic, dan berbasis demand – driven.

Visi dan misi SBI secara nasional yang bersifat umum dengan maksud sebagai rujukan dan kebijakan atau rambu – rambu, agar tiap sekolah yang menjadi project RSBI bisa mendapat ruang gerak yang luas sesuai dengan keunggulan dan potensi yang bisa dikembangkan, namun juga tetap berpijak pada rambu – rambu yang di berikan Departemen Pendidikan Nasional.

Rumusan Visi, Misi, dan Tujuan sekolah misalnya:

Visi : Memiliki SDM Berakhlaq, Kreatif, dan Berprestasi

Misi : Mengembangkan sumber daya secara optimal dalam rangka mempersiapkan siswa berkompetensi di era global

Tujuan :

  1. Membina berkembangnya akhlaq siswa
  2. Mengembangkan kreativitas siswa
  3. Meningkatkan prestasi siswa sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Penyelenggaraan RSBI bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berstandart nasional dan internasional sekaligus. Lulusan yang berstandart nasional secara jelas telah dirumuskan dalam UU Nomor 20/2003 dan dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005, dan lebih dirincikan lagi dalam Permendiknas no.23/2006 tentang standart kompetensi lulusan ( SKL).

 

  1.   Implementasi Manajemen Perubahan Dalam Mewujudkan Rintisan Sekolah Bertaraf  Internasional (RSBI)

Manajemen perubahan adalah  suatu proses secara sistematis dalam menerapkan pengetahuan, sarana dan sumberdaya yang diperlukan untuk mempengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak dari proses tersebut.[1] Perubahan ini dapat terjadi karena sebab – sebab yang berasal dari luar organisasi tersebut.   Perubahan dapat dipercaya karena dapat dipicu lewat sebuah rencana. Sebuah rencana yang baik, yang didukung oleh target – target yang terkendali dapat menggerakan seluruh energi ke titik yang sama. Rencana yang dimaksud dapat terdiri atas dua atau tiga jenis rencana strategis yang berisi arah dan tujuan jangka panjang, dan yang kedua adalah rencana strategis tindakan (action plan), tanpa action plan perubahan akan gagal. Rencana ini harus dibuat tertulis, menyeluruh, lengkap, dengan perincian sasaran, waktu, serta resources yang diperlukan.[2] Tanpa resources yang memadai, kita akan frustasi. Seorang pimpinan yang cemerlang, bertangan dingin dan berhati bersih saja kemungkinan besar belum cukup untuk menggerakan perubahan. kecuali ia seorang pemimpin yang datang membawa kunci emas, yaitu kunci yang dapat membuka sumber – sumber daya baru untuk mengembangkan organisasi.

Manajemen perubahan di SMP Negeri 1 Sidoarjo untuk menuju Sekolah Bertaraf  Internasional ini adalah upaya pengelolaan dan penggunaan segala sumberdaya dan potensi (delapan aspek SNP) dalam rangka mewujudkan menjadi sekolah yang segala aspeknya bertaraf dan diakui secara Internasional.[3]

Delapan aspek SNP (Standart Nasional Pendidikan) ini meliputi : standart input, standart proses, standart kompetensi lulusan, standart pendidikan dan tenaga kependidikan, standart sarana prasarana, standart pengelolaan, standart pembiayaan, dan standart penilaian.

Selanjutnya 8 aspek unsur SNP diperkaya, diperkuat, dikembangkan, diperdalam, diperluas melalui adaptasi atau adopsi standart pendidikan dari salah satu Negara maju yang mempunyai keunggulan tertentu dibidang pendidikan serta diyakini memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.

Jadi untuk mengetahui bagaimana sebuah lembaga atau sekolah mengimplementasikan menajemen perubahan secara efektif dan efisien, dapat kita lihat pada usaha sekolah dalam pencapaian mutu pendidikan, sedangkan upaya untuk mewujudkan Rintisan Sekolah Bertaraf  Internasional ini adalah sekolah harus mengetahui terlebih dahulu mengenai konsep – konsep dari RSBI itu sendiri.  Salah satunya adalah sekolah – sekolah harus mencapai standart nasional pendidikan


[1] Wibowo, Managing Change Pengantar Manajemen Perubahan, (Bandung: Alfabeta,2006)hlm. 37

[2] Data SMP Negeri 1 Sidoarjo, Meningkatkan Kualitas Sekolah Berbasis Manajemen Perubahan, (januari 2010)hlm.4

[3] Depdiknas, panduan Pelaksanaan Pembinaan SMP – RSBI,(Jakarta: Dirjen Diknasmen, 2009)hlm.13


[1][1] Mamduh M.Hanafi, Manajemen (Jogjakarta: UUP AMP YKPN,1997)hlm.7

[2] Hani Handoko, Manajemen (Yogyakarta: BPFE, 1984)hlm.8

[3] M. Manulang, Dasar – dasar Manajemen (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1990)hlm.17

[4] Rachmat, Manajemen Suatu Pengantar (Bandung: Remadja Karya,1986)hlm.23

[5] Husaini Usman, Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,2008)hlm.60

[6] Rachmat, Manajemen Suatu Pengantar………..hlm.41

[7] Susilo Martoyo, Pengetahuan Dasar Manajemen dan Kepemimpinan, (Yogyakarta: BPFE,1988)hlm.116

[8] Rachmat, Manajemen Suatu Pengantar………..hlm.131

 

 

[9] Wibowo, Managing Change Pengantar Manajemen Perubahan (Bandung: Alfabeta, 2006)hlm.9

[10] Abdul Aziz Wahab, Anatomi Organisasi dan Kepemimpinan Pendidikan (Bandung: AlfaBeta,2008)hlm. 294-295

[11] Wibowo, Managing change Pengantar Manajemen Perubahan,(Bandung: AlfaBeta,2006)hlm.53

[12] Ibiid,.h.53

[13] Wibowo, Managing Change Pengantar Manajemen Perubahan, (Bandung: Alfabeta,2006)hlm.53

[14] Wibowo, Managing Change Pengantar Manajemen Perubahan, (Bandung: Alfabeta,2006)hlm.47

[15] Winardi, Manajemen Perubahan Manajemen of change, (Bandung: kencana,2004)hlm.71

[16] Winardi, Manajemen Perubahan Manajemen of change……………hlm.103-107

[17] M.Nur Nasution, manajemen perubahan, (Bogor: Ghalia Indonesia,2010).hlm132

[18] J.Winardi, manjemen Perubahan, (Jakarta: Kencana,2005)hlm.8

[19] M.Nur Nasution, manajemen perubahan, (Bogor: Ghalia Indonesia,2010).hlm144

[20] Sondang P. Siagian, Manajemen Abad 21, (Jakarta: Bumi Aksara,1998)hlm. 3-4

[21] Wibowo, Manajemen Perubahan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2006 )hlm.193

[22] J. Winardi, manajemen perubahan (management of change) (Jakarta: Kencana, 2008) hlm. 61

[23] Pelatihan Ketrampilan Manajerial SPMK Januari-2003

[24] http://Tahapan dalam change Management – Proses Perubahan Manajemen , Rabu 2 februari 2011

[25] File:///F:/1166-manajemen-perubahan .htlm. (8 Januari 2011 10:58 AM)

[26] Rhenald Kasali, Change Manajemen Perubahan dan Manajemen Harapan, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama,2005)hlm.100

[27] Rhenald Kasali, Change Manajemen Perubahan dan Manajemen Harapan, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama,2005)hlm.105

 

[29] Depdikbud, Sekolah Potensial – sekolah Standar Nasional – Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, (Jakarta,2007)hlm.3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: