PENGARUH APLIKASI INTEGRATED CURRICULUM MODEL NESTED TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI SISWA PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN-HADIST DAN FIQIH DI KELAS IX MTS…………………

PENGARUH APLIKASI INTEGRATED CURRICULUM MODEL NESTED TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI SISWA PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN-HADIST DAN FIQIH DI KELAS                                                                 IX MTS…………………

  1. A.    Kajian Tentang Integrated Curriculum Model Nested
    1. Pengertian Integrated Curriculum Model Nested
      1. Integrated Curriculum

Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok bahasan/sub pokok bahasan atau bidan studi, keterangan seperti ini disebut juga dengan kurikulum

Secara umum pembelajaran terpadu pada prinsip-prinsipnya terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuan siswa secara optimal. Oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaran terpadu, siswa dapat pengalaman langsung dalam proses belajarnya, hal ini dapat menambah daya kemampuan siswa semakin kuat tentang hal-hal yang dipelajarinya.

1

 

Pembelajaran terpadu juga suatu model pembelajaran yang dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna pada pembelajaran terpadu artinya, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami.

Pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan otentik.

  1. Model Nested

Merupakan perpaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Misalnya pada suatu jam tertentu seorang guru memfokuskan kegiatan pembelajaran pada pemahaman tata bentuk kata, makna kata, dan ungkapan dengan saran pembuahan keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya pikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat ungkapan dan menulis puisi. Pembelajaran berbagi bentuk penguasaan konsep dan keterampilan tersebut keseluruhannya tidak harus dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi dan berpikir logis dalam hal ini disikapi sebagai pembentuk keterampilan yang tergarap.[1]

Pembelajaran terpadu tipe Nested (tersarang) merupakan pengintegrasian kurikulum di dalam satu disiplin ilmu secara khusus meletakkan fokus pengintegrasian pada sejumlah keterampilan belajar yang ingin dilatihkan oleh seorang guru kepada siswanya dalam suatu unit pembelajaran untuk keterampilan materi pelajaran (conten). Keterampilan-keterampilan belajar itu meliputi keterampilan berfikir (thinking skill), keterampilan sosial (sosial skill) dan keterampilan mengorganisir (organizing skill) fogarty .[2]

  1. Tujuan Integrated Curriculum Model Nested
    1. Learn To Know, yaitu belajar dengan menentukan berbagai cara agar lebih mengetahui segala sesuatu, sehingga atau terjadi how to learn yang berlangsung terus menerus.
    2. Learn to do, yaitu belajar untuk berbuat sebagaimana mestinya, terutama dalam hal pemecahan berbagai masalah dalam lapangan hidup yang berguna bagi dirinya sendiri.
    3. Learn to live together atau live with other, yaitu belajar untuk menyesuaikan diri, adaptasi dengan sekitar sehingga yang bersangkutan dapat bekerjasama dengan pihak lain dan bersifat toleran
    4. Learn to be, yaitu belajar yang dapat mengembangkan segala aspek pribadinya atau potensi yang melekat pada dirinya sehingga manusia yang bulat dan utuh (the complete for fulfillment of men).[3]

Sesuai dengan tujuan pembelajaran integrated curriculum model nested, di dalam bukunya prof. H.M.Arifin juga dijelaskan bahwa system pendekatan metodologis yang dinyatakan dalam Al-qur’an adalah bersifat multi Approach yang meliputi antara lain:

1)      Pendekatan religious yang menitik beratkan pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berjiwa religious dengan bakat-bakat keagamaan.

2)      Pendekatan filosofis yang memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional atau “homo rationale”, sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembangannya di dasarkan pada sejauh mana kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan sampai pada titik maksimal perkembangannya.

3)      Pendekatan sosio cultural yang bertumpu pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berkebudayaan sehingga dipandang sebagai “homo sosius” dan “homo sapiens” dalam kehidupan barmasyarakat yang berkebudayaan.

Dengan demikian pengaruh lingkungan masyarakat dan perkembangan kebudayaannya sangat besar artinya bagi proses pendidikan individualnya.

4)       Pendekatan scientific dimana titik beratnya terletak pada pandangan bahwa manusia memiliki kemampuan menciptakan (kognitif), berkemauan (konatif) dan merasa (emosional atau affektif). Pendidikan harus dapat mengembangkan kemampuan analitis-sintesis reflektif dalam berpikir.

Bila kita pandang bahwa suatu metode adalah suatu sub sistem ilmu pendidikan Islam yang berfungsi sebagai alat pendidikan ,maka jelaslah seluruh firman Tuhan dalam Al-qur’an sebagai sumber ilmu pendidikan Islam yang mengandung implikasi-implikasi metodologis yang komprehensif mencakup semua aspek dari kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia.

Aspek-aspek kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan manusia pada hakikatnya tercermin dalam gaya bahasa kitab Tuhan yang bersifat direktif yaitu, Mendorong manusia untuk menggunakan akal pikirannya dalam menelaah dan mempelajari gejala kehidupannya sendiri dan gejala kehidupan alam sekitarnya. Dalam ruang lingkup pengembangan akal pikiran inilah, Tuhan mendorong manusia untuk berpikir analitis dan sintesis melalui proses berpikir deduktif induktif.

  1. Karakteristik Integrated curriculum  Model Nested

Menurut Depdikbud, pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa karakteristik atau ciri-ciri, yaitu: holistik, bermakna, otentik, dan aktif.

  1. Holistik

Suatu gejala atau fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari bidang kajian sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.

Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Pada gilirannya nanti, hal ini akan membuat siswa menjadi lebih arif dan bijak di dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada di depan mereka.

  1. Bermakna

Pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek seperti yang dijelaskan diatas, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan yang disebut skemata. Hal ini akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari.

Rujukan yang nyata dari segala konsep yang diperoleh, dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lainnya akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari. Selanjutnya hal ini akan mengakibatkan pembelajaran yang fungsional. Siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupannya.

  1. Otentik

Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung. Mereka memahami dari hasil belajarnya sendiri, bukan sekedar pemberitahuan guru. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh sifatnya menjadi lebih otentik. Guru lebih banyak bersifat sebagai fasilitator dan katalisator sedang siswa bertindak sebagai aktor pencari informasi dan pengetahuan. Guru memberikan bimbingan ke arah mana yang dilalui dan memberikan fasilitas seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.

  1. Aktif

Pembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna tercapainya hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan hasrat, minat dan kemampuan siswa sehingga mereka termotivasi untuk terus menerus belajar. Dengan demikian pembelajaran terpadu bukan semata-mata merancang aktivitas dari masing-masing mata pelajaran yang saling terkait. Pembelajaran terpadu bisa saja dikembangkan dari suatu tema yang disepakati bersama dengan melirik aspek-aspek kurikulum yang bisa dipelajari secara bersama melalui pengembangan tema tersebut.[4]

Di dalam sumber lain terdapat beberapa macam karakteristik, diantaranya:

1)      Berpusat pada anak (student Center)

2)      Memberi pengalaman langsung pada anak

3)      Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas

4)      Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran

5)      Bersifat luwes

6)      Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak

7)      Holistik

8)      Bermakna

9)      Otentik

10)  Aktif

  1. Prinsip-Prinsip  Integrated Curriculum Model Nested
    1. Prinsip penggalian tema

1)      Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak bidang studi

2)      Tema harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.

3)      Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologi anak.

4)      Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak

5)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar.

6)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta harapan dari masyarakat.

7)      Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

  1. Prinsip pelaksanaan terpadu diantaranya

1)      Guru hendaknya jangan menjadi “single actor” yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar

2)      Pemberian tanggung jawab dan individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok.

3)      Guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkandung sama sekali tidak terpikirkan dalam proses perencanaan.

  1. Prinsip evaluatif, diantaranya:

1)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan evaluasi diri disamping bentuk evaluasi lainnya.

2)      Guru perlu mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam kontrak.

  1. Prinsip Reaksi

Dampak pengiring (turunan efek) yang penting bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu, guru dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi siswa dalam semua “even” yang tidak diarahkan ke aspek yang sempit tetapi ke suatu kesatuan utuh dan bermakna.[5]

  1. Manfaat Integrated  Curriculum Model Nested

Pembelajaran terpadu memiliki manfaat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Antara lain:

  1. Dunia anak adalah dunia nyata

Tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dengan tahap berpikir nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak melihat mata pelajaran berdiri sendiri. Mereka melihat obyek atau peristiwa yang didalamnya memuat sejumlah konsep/materi beberapa mata pelajaran.

  1. Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/obyek lebih terorganisir

Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu obyek sangat bergantung pada pengetahuan yang sudah dimiliki anak sebelumnya. Masing-masing anak selalu membangun sendiri pemahaman terhadap konsep baru. Anak menjadi “arsitek” membangun gagasan baru. Guru dan orang tua hanya sebagai “fasilitator” atau mempermudah sehingga peristiwa belajar dapat berlangsung. Anak dapat gagasan baru jika pengetahuan yang disajikan selaku berkaitan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.

  1. Pembelajaran akan lebih bermakna

Pembelajaran akan lebih bermakna kalau pelajaran yang sudah dipelajari siswa dapat memanfaatkan untuk mempelajari materi berikutnya. Pembelajaran terpadu sangat berpeluang untuk memanfaatkan pengetahuan sebelumnya.

  1. Memberi peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan diri

Pengajaran terpadu memberi peluang siswa untuk mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara bersamaan. Ketiga ranah sasaran pendidikan itu meliputi sikap (jujur, teliti, tekun, terbuka terhadap gagasan ilmiah), keterampilan (memperoleh, memanfaatkan, dan memilih informasi, menggunakan alat, bekerja sama, dan kepemimpinan), dan ranah kognitif (pengetahuan).

  1. Memperkuat kemampuan yang diperoleh

Kemampuan yang diperoleh dari satu mata pelajaran akan saling memperkuat kemampuan yang diperoleh dari mata pelajaran lain.

  1. Efisiensi waktu

Guru dapat lebih menghemat waktu dalam menyusun persiapan mengajar. Tidak hanya siswa, guru dapat belajar lebih bermakna terhadap konsep-konsep sulit yang diajarkan.[6]

Disamping itu kalau pelaksanaannya dilaksanakan secara betul, akan mempunyai dampak pula pada peserta didik diantaranya adalah:

1)      Mendorong peserta didik untuk lebih mandiri, percaya diri, kreatif dan punya harga diri

2)      Karena dalam kegiatan dituntut laporan baik lisan maupun tulisan akan berdampak pada perkembangan pikir dan kemampuan berbahasa

3)      Menghargai perbedaan individual

4)      Peserta didik punya pengalaman yang luas dan fungsional.[7]

  1. Prosedur Pelaksanaan Integrated Curriculum Model Nested

Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran terpadu tipe nested (tersarang) mengikuti tahap-tahap yang dilalui dalam setiap pembelajaran terpadu yang meliputi tiga tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi.[8]

  1. Tahap Perencanaan

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu tergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini.

1)      Pemetaan kompetensi dasar

2)      Penentuan topik/tema

3)      Penjelasan (perumusan) kompetensi dasar ke dalam indikator sesuai topik/tema.

4)      Pengembangan silabus

5)      Penyusunan desain/rencana pelaksanaan pembelajaran

Langkah-langkah tersebut secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

1)      Pemetaan kompetensi dasar

Langkah pertama dalam pengembangan model pembelajaran terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua standar kompetensi dan kompetensi dasar bidang kajian al-qur’an-hadist dan Fikih per kelas yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh.

Beberapa ketentuan dalam pemetaan kompetensi dasar dalam pengembangan model pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut:

a)      Mengidentifikasi beberapa kompetensi dasar dalam berbagai standar kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan

b)      Beberapa kompetensi dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.

c)      Kompetensi dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua standar kompetensi yang ada pada mata pelajaran al-qur’an-hadist dan Fikih melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga kompetensi dasar saja.

d)     Kompetensi dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema lainnya.

2)      Penentuan topik/tema

Setelah pemetaan kompetensi dasar selesai, langkah selanjutnya dilakukan penentuan topik/tema. Topik/tema yang ditentukan harus relevan dengan kompetensi dasar yang telah dipetakan. Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran pada satu tingkatan kelas terpadu beberapa topik yang akan dibahas.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema pada pembelajaran al-qur’an-hadist dan Fikih terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut:

a)      Topik: dalam pembelajaran  al-qur’an-hadist dan Fikih terpadu, merupakan perekat antara kompetensi dasar yang terpadu dalam satu rumpun mata pelajaran PAI

b)      Topik yang ditentukan selain relevan dengan kompetensi-kompetensi dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas, juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi peserta didik, dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat.

c)      Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan keterkaitan antara kompetensi dasar pada satu rumpun yang telah dipetakan.

3)      Penjabaran kompetensi dasar ke dalam indikator

Setelah melakukan langkah pemetaan kompetensi dasar dan penentuan topik/tema sebagai pengikat keterpaduan, maka kompetensi-kompetensi dasar tersebut dijabarkan ke dalam indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk penyusunan silabus.

4)      Penyusunan silabus

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada langkah-langkah sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus pembelajaran terpadu. Komponen penyusunan silabus terdiri dari standar kompetensi al-qur’an-hadist dan Fikih  kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alokasi waktu dan penilaian.

5)      Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran/sekenario pembelajaran

Setelah teridentifikasi peta kompetensi dasar dan topik yang terpadu, selanjutnya adalah menyusun desain/rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada pembelajaran al-qur’an-hadist dan Fikih  terpadu, sesuai dengan standar isi, keterpaduan terletak pada strategi pembelajaran.

Rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut merupakan realisasi dari pengalaman belajar peserta didik yg telah ditentukan pada silabus pembelajaran terpadu.

  1. Model Pelaksana pembelajaran

1)      Kegiatan pendahuluan (awal)

Kegiatan pendahuluan (introduction) pada dasarnya merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu.

Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran ini diantaranya untuk menciptakan kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, melaksanakan kegiatan apersepsi (apperception), dan penilaian awal (pre-test). Penciptaan kondisi awal pembelajaran dilakukan dengan cara: mengecek atau memeriksa kehadiran peserta didik (presence, attendance), menumbuhkan kesiapan belajar peserta didik (readiness), menciptakan suasana belajar yang demokratis, membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan membangkitkan perhatian peserta didik.

2)      Kegiatan inti pembelajaran

Kegiatan ini merupakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu dan menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experiences).

Kegiatan inti dalam pembelajaran terpadu bersifat situasional, dalam arti perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat proses pembelajaran itu berlangsung. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu. Kegiatan paling awal yang perlu dilakukan guru adalah memberitahukan tujuan dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis-garis besarnya materi/bahan pembelajaran yang akan dipelajari.

Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan pembelajaran harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep dari mata pelajaran satu dengan konsep-konsep mata pelajaran lainnya. Dalam hal ini, guru harus berupaya menyajikan bahan pelajaran dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru. Kegiatan pembelajaran terpadu yang bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran secara klasikal, kelompok, dan perorangan.

3)      Kegiatan akhir (penutup) dan tindak lanjut

Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu diantaranya:

a)      Melaksanakan dan mengkaji penilaian akhir

b)      Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran melalui kegiatan pemberian tugas/latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi/bimbingan belajar

c)      Mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang, dan menutup kegiatan pembelajaran.[9]

  1. Tahap evaluasi

Tahap evaluasi dapat berupa evaluasi proses pembelajaran terpadu dan evaluasi hasil pembelajaran. Tahap evaluasi menurut departemen pendidikan nasional (1996: 6) hendaknya memperhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu.

1)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri disamping bentuk evaluasi lainnya

2)      Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang  akan dicapai.

Dalam tahap evaluasi ini ada beberapa macam evaluasi, diantaranya:

1)      Evaluasi Proses

a)      Ketepatan hasil pengamatan

b)      Ketepatan penyusunan alat dan bahan

c)      Ketetapan menganalisis data

2)      Evaluasi Hasil

Penguasaan konsep-konsep sesuai indikator yang telah ditetapkan

3)      Evaluasi Psikomotorik

Penguasaan penggunaan alat ukur[10]

  1. B.     Kajian Tentang Aktivitas Belajar Siswa

Aktivitas siswa dalam pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan aktif atau tidaknya suatu pembelajaran. Agar tercapai pembelajaran yang efektif, guru harus cermat memperhatikan tingkat aktivitas siswa dalam pembelajaran, sehingga dapat memilih metode yang paling tepat untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Menurut Nasution, diskusi, sosiodrama, pekerjaan di perpustakaan, laboratorium dan kerja kelompok banyak membangkitkan aktivitas siswa.[11]

Aktivitas adalah keaktifan kegiatan, kesibukan kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap-tiap bagian. Sedasngkan belajar menurut skinner adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif dan proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat.[12]

Jadi aktivitas belajar adalah suatu proses kegiatan untuk mengadakan perubahan terhadap tingkah laku dengan melibatkan jiwa dan raga secara aktif untuk mengikuti kegiatan belajar. Aktivitas merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar, sebab kegiatan belajar tidak akan terjadi bila tidak ada satu aktivitas. Aktivitas belajar siswa merupakan inti dari kegiatan belajar di sekolah sejak munculnya konsep belajar yang menekankan pada adanya aktivitas, maka keberadaan aktivitas menjadi semakin populer dan aktual.

Banyak macam-macam kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah, tidak hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh aktivitas belajar dalam beberapa situasi:[13]

  1. Mendengarkan
  2. Memandang
  3. Meraba, membau dan mencicipi/mengucap
  4. Menulis dan mencatat
  5. Membaca
  6. Membuat ikhtisar/ringkasan dan menggaris bawahi
  7. Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan
  8. Menyusun paper/kertas kerja
  9. Mengingat
  10. Berfikir
  11. Latihan/Praktek

Aktivitas belajar merupakan manivestasi dari kegiatan siswa dalam melibatkan diri secara aktif dan reaktif, baik secara jasmaniah maupun rohaniah untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai serta mengembangkan perolehannya dalam proses belajar dan dibimbing seorang guru dan diluar proses pengetahuan tanpa bimbingan guru secara langsung.

Dalam proses pembelajaran terhadap komunikasi antara pihak guru dan siswa untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dapat dicapai dengan mengikuti secara aktif proses pembelajaran tersebut. Secara tersirat proses itu mengandung aktivitas/keinginan yaitu keinginan guru mengajar, tapi tanpa ada didukung dengan adanya respon yang aktif pola dari siswa, mustahil keberhasilan pendidikan dapat dicapai.

Dari pernyataan diatas jelas bahwa aktivitas belajar menempati posisi yang penting dan sangat menentukan keberhasilan interaksi edukatif. Oleh karena itu, aktivitas belajar mempunyai peranan yang sangat strategis dalam kegiatan belajar mengajar. Dikatakan demikian karena aktivitas sangat menentukan ada tidaknya kegiatan-kegiatan pembelajaran.

Pada penelitian ini, aktivitas siswa di definisikan sebagai kegiatan siswa selama mengikuti proses pembelajaran terpadu pada mata pelajaran al-qur’an-hadist dan Fikih. Untuk melihat aktivitas siswa diperlukan suatu indikator, yaitu tanda-tanda, perilaku dan lain-lain untuk pencapaian kompetensi yang merupakan kemampuan bersikap, berpikir dan bertindak secara konsisten. Adapun indikator-indikator aktivitas siswa adalah sebagai berikut:

  1. Menjawab, menyampaikan pendapat/memberikan penjelasan
  2. Membaca/menyelesaikan tugas/soal secara individual
  3. Menyelesaikan tugas/soal dengan teman kelompok.
  4. mengajukan pertanyaan/meminta penjelasan guru atau temannya.
  5. Menulis hasil kerja kelompok
  6. Kegiatan lain dalam tugas

Adapun indikator aktivitas siswa yang termasuk dalam aktivitas tidak aktif adalah:

  1. Mendengarkan/Memperhatikan penjelasan dari guru atau temannya
  2. Kegiatan lain di luar tugas, seperti melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan KBM (mengantuk, tidur, melamun, mengobrol dsb), tidak memperhatikan penjelasan guru.
  1. C.    Kajian Tentang Prestasi Belajar
    1. Pengertian Prestasi Belajar

Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie, kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia “prestasi” yang berarti “hasil usaha”. Kata prestasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan, antara lain dalam kesenian, olahraga, dan pendidikan khususnya pengajaran. Dalam tulisan ini hanya dibatasi dalam bidang pendidikan khususnya pengajaran.[14] Sementara itu kalau mengadopsi dari kamus bahasa Indonesia, prestasi berarti hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya).[15]

Adapun pengertian belajar, terutama belajar di sekolah, perlu kiranya dirumuskan secara jelas pengertiannya. Berikut ini ada beberapa pengertian belajar, yaitu:

  1. Prof. Dr. Nasution Mengatakan bahwa belajar sebagai perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan.[16]
  2. Lester D. Crow dan Alice Crow yang dikutip oleh Dra. Roestiyan NK. Mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan individu dalam pengetahuan, kebiasaan dan sikap.[17]
  3. Menurut James O. Whittaker (79710:15), belajar dapat didefinisikan sebagaimana proses dimana tingkah laku ditimbulkan dan diubah melalui pelatihan dan pengalaman “learning may be difined as the process by wich behavior orginates or is attered through training of experience”. (whittaker, 1970: 157). Dengan demikian perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik dan kematangan, kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.[18]
  4. Menurut Slameto, belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[19]
  5. Menurut Muhibbin Syah, belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.[20]

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan yang terjadi karena belajar dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan (habit), kecakapan (skills), atau dalam ketiga aspek yakni pengetahuan (kognitif ), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor).

Dalam setiap perbuatan manusia untuk mencapai tujuan, selalu diikuti dengan pengukuran dan penilaian demikian pula hanya dalam proses belajar. Dengan mengetahui prestasi belajar anak, kita dapat mengetahui kedudukan anak di dalam kelas apakah anak termasuk kelompok anak pandai, sedang atau kurang, prestasi belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol dari tiap-tiap periode tertentu.

Dengan demikian penulis dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah penguasaan dan perubahan tingkah laku dalam diri sebagai hasil aktifitas belajar dan penilaiannya diwujudkan dalam bentuk nilai/angka.

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan agama Islam (PAI) adalah sebagai berikut:

  1. Menurut Zuharini dan Kawan-kawan, pendidikan agama Islam adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.[21]
  2. Zakiyah drajat berpendapat bahwa pendidikan Agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah, akan tetapi jauh lebih luas dari itu, ia pertama-tama bertujuan membentuk kepribadian anak sesuai dengan ajaran agama, pembinaan sikap, mental, dan akhlak.[22]
  3. Menurut Abdul Majid dan Dian Andyanai dalam bukunya “Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi” mengatakan bahwa pendidikan Agama Islam adalah untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukuan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[23]

Jadi, prestasi belajar siswa pada al-qur’an-hadist dan Fikih  memiliki pengertian “suatu bukti keberhasilan yang dicapai siswa setelah mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam yang dinyatakan/diwujudkan dalam bentuk angka/huruf.”

  1. Tolak Ukur Dalam Mengetahui Prestasi Belajar

Prestasi belajar dapat diketahui setelah adanya usaha penilaian tanpa penilaian maka prestasi belajar tidak akan terwujud.

  1. Obyek penilaian

Menurut Benyamin Bloom di dalam bukunya Nana Sudjana Menyatakan ada 3 prestasi belajar yaitu:

1)      Ranah kognitif obyek penilaian

2)      Ranah afektif

3)      Ranah Psikomotorik[24]

Untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan apa yang akan dicapai di dalamnya:

1)      Prestasi belajar aspek kognitif

Prestasi belajar siswa pada aspek kognitif ini hanya menitikberatkan pada bidang intelektual, sehingga kemampuan akal akan selalu mendapatkan perhatian yaitu kerja otak untuk dapat menguasai berbagai pengetahuan yang diterimanya.

Prestasi belajar pada aspek kognitif ini berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu:

a)      Aspek pengetahuan/Ingatan

b)      Aspek pemahaman

c)      Aspek aplikasi

d)     Aspek analisis

e)      Aspek sintesis

f)       Aspek evaluasi

Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.

2)      Prestasi belajar aspek afektif

Prestasi belajar aspek afektif berkenaan dengan sikap dan nilai sehingga prestasi belajar siswa khususnya mata pelajaran pendidikan Agama Islam (PAI), aspek afektif ini sudah barang tentu mempunyai nilai yang tinggi karena di dalamnya menyangkut kepribadian siswa. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial.

Ada beberapa jenis kategori aspek afektif sebagai hasil belajar, kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar/sederhana sampai tingkat yang kompleks. Adapun beberapa jenis kategori aspek afektif adalah:

a)      Kemampuan menerima

b)      Kemampuan menanggapi/menjawab

c)      Memberi nilai/menilai

d)     Mengorganisasi

e)      Pengkarakteristikan/internalisasi nilai

3)      Prestasi belajar aspek Psikomotorik

Belajar aspek psikomotorik dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu setelah ia menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ini sebenarnya tahap lanjutan dari hasil belajar afektif yang harus tampak lanjutan dari hasil belajar afektif yang harus tampak dalam kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku jika dituliskan, akan tampak sebagai berikut:

Ketiga proses belajar yang telah dijelaskan diatas, penting diketahui oleh guru dalam rangka merumuskan tujuan pengajaran dan menyusun alat penilaian.

  1. Fungsi Utama Prestasi Belajar

Prestasi belajar semakin terasa penting untuk dibahas karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain:

  1. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
  2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan (covsiosity) dan merupakan kebutuhan umum pada manusia., termasuk kegiatan anak didik dalam suatu program pendidikan.
  3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
  4. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari situasi pendidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dengan anak didik. Indikator ekstern dalam arti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan anak di masyarakat.
  5. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik. Dalam proses belajar mengajar anak merupakan masalah yang utama dan pertama, karena anak didiknya yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum

Adapun Cronbach mengatakan bahwa kegunaan prestasi belajar banyak ragamnya, bergantung pada ahli dan versinya masing-masing.

Namun diantaranya sebagai berikut:

  1. Sebagai umpan balik bagi pendidik dalam mengajar
  2. Untuk keperluan diagnostik
  3. Untuk keperluan bimbingan dan penyuluhan
  4. Untuk keperluan penempatan dan penjurusan
  5. Untuk keperluan seleksi
  6. Untuk menentukan isi kurikulum
  7. Untuk menentukan kebijaksanaan
  8. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal), dari luar (faktor external) individu, maupun faktor pendekatan pembelajaran. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pen ting sekali artinya dalam rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya.

  1. Yang tergolong faktor internal adalah:

1)      Faktor jasmaniah (psikologis) yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu jug akan cepat lelah, kurang bersemangat dan kelainan fungsi alat tubuh lainnya.

2)      Faktor-faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, yang terdiri atas:

Faktor intelektif yang meliputi:

a)      Faktor Potensial yaitu kecerdasan dan bakat

b)      Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki

Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti:[25]

a)      Perhatian

Untuk menjamin hasil belajar siswa yang baik, siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan sehingga ia tidak usah lagi belajar. Dan yang terjadi prestasi belajar siswa menurun karena bahan pelajaran yang disajikan kurang dalam dan menarik perhatian siswa.[26]

b)      Bakat

Adalah kemampuan untuk belajar, kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih karena ia senang belajar dan lebih giat lagi dalam belajarnya. Penting untuk mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar di sekolah yang sesuai dengan bakatnya.[27]

c)      Minat

Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai/memperoleh benda/tujuan yang diminati tersebut. Timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat/memperoleh pekerjaan yang serta hidup senang dan bahagia. Minat yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah.

d)     Motivasi

Dalam kegiatan belajar, berlangsungnya proses pembelajaran dan keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh faktor intelektual, tetapi juga faktor-faktor non intelektual termasuk motivasi.

Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turu mempengaruhi keberhasilannya dalam prestasi belajar, karena itu motivasi belajar perlu diusahakan terutama dari yang berasal dari diri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk menggapai cita-cita.

e)      Kebutuhan

Seseorang anak akan terdorong untuk melakukan sesuatu bila ia merasa membutuhkan/merasakan adanya kebutuhan. Kebutuhan ini menimbulkan keadaan yang tidak seimbang pada ketegangan yang meminta pemuasan agar kembali pada keadaan yang seimbang.[28]

  1. Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Adalah:

1)      Faktor sosial yang terdiri atas

a)      Lingkungan keluarga

Faktor orang tua sangat besar pengaruh terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, dan seterusnya. Semuanya itu turut mempengaruhi pencapaian prestasi belajar anak.

Disamping itu, faktor keadaan rumah tangga juga turut mempengaruhi keberhasilan belajar.

b)      Lingkungan sekolah

Keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar, kualitas guru, metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas sekolah dan sebagainya.

c)      Lingkungan Masyarakat

Keadaan masyarakat yang menentukan prestasi belajar, bila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi, moralnya baik. Hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar, dan begitupun sebaliknya.

2)      Faktor Budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian

3)      Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, dan sebagainya

4)      Faktor lingkungan spiritual/keagamaan

  1. Faktor pendekatan belajar

Pendekatan belajar yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi pelajaran. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah mencapai tujuan belajar tertentu.[29]

  1. D.    Pengaruh pendekatan pembelajaran Integrated Curriculum Model nested (pembelajaran terpadu model tersarang) Terhadap peningkatan prestasi belajar siswa 

Pengaruh yang dimakdudkan dalam penelitian ini adalah daya yang timbul dari sesuatu yaitu pembelajaran integrated curriculum model nested terhadap hasil prestasi siswa pada mata pelajaran fiqih dan qur’an-hadits di MA Raudlatul Muta’alimin Babad- Lamongan.

Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran, tersirat adaanya suatu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang bekerja dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan tersebut terjalin interaksi yang menunjang atas dasar timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tujuan yang dimaksud yaitu tujuan pembelajaran.

Mengajar dan belajar merupakan salah satu unsur yang tersusun dalam pembelajaran. Efektifitas mengajar guru dapat dilihat apabila pembelajaran berjalan dengan lancar dan sukses. Adapun kriteria mengajar sukses jikapengetahuan yang dperoleh anak didik tertanam dalam waktu yang lama, serta pengetahuan pengetahuan tersebut mengandung arti, berguna bagi hidup anak didik sehingga ikut membentuk kepribadian anak didik.

Untuk mencapai hasil belajar yang autentik, mengajar haruslah berdasar pada pelajaran yang mengandung makna bagi anak didik. Pernyataan ini merupakan pendapat para psikologi dewasa  ini, yaitu mengajar berhasil bila di beri pelajaran yang bermakna. Salah satu hasil penyelidikan yang paling berguna bagi pengajaran adalah bahwa hati dan hakikat belajar adalah menangkap, menjelaskan dan menggunakan pengertian.

Dengan demikian dalam mengajar haruslah ditekankan makna atau pengertian, karena belajar merupakan usaha mencari dan menemukan makna / pengertian. Hal inilah yang tidak dipahami oleh anak didik merupakan pembelajaran yang bertentangan dengan hakikat proses belajar mengajar. Sebaliknya guru harus selalu berusaha membantu anak didik agar mengerti, faham terhadap pengetahuan tertentu merupakan pengajaran yang sesuai dengan hakikat proses belajar.

Dari dasar tersebut diataslah peneliti mengangkat judul tentang integrated curriculum model nested, karena pada pendekatan pembelajaran ini mengacu pada  holistik, bermakna, otentik, dan aktif.

  1. Holistik

Suatu gejala atau fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari bidang kajian sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.

Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Pada gilirannya nanti, hal ini akan membuat siswa menjadi lebih arif dan bijak di dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada di depan mereka.

  1. Bermakna

Pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek seperti yang dijelaskan diatas, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan yang disebut skemata. Hal ini akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari.

Rujukan yang nyata dari segala konsep yang diperoleh, dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lainnya akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari. Selanjutnya hal ini akan mengakibatkan pembelajaran yang fungsional. Siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupannya.

  1. Otentik

Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung. Mereka memahami dari hasil belajarnya sendiri, bukan sekedar pemberitahuan guru. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh sifatnya menjadi lebih otentik. Guru lebih banyak bersifat sebagai fasilitator dan katalisator sedang siswa bertindak sebagai aktor pencari informasi dan pengetahuan. Guru memberikan bimbingan ke arah mana yang dilalui dan memberikan fasilitas seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.

  1. Aktif

Pembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna tercapainya hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan hasrat, minat dan kemampuan siswa sehingga mereka termotivasi untuk terus menerus belajar. Dengan demikian pembelajaran terpadu bukan semata-mata merancang aktivitas dari masing-masing mata pelajaran yang saling terkait. Pembelajaran terpadu bisa saja dikembangkan dari suatu tema yang disepakati bersama dengan melirik aspek-aspek kurikulum yang bisa dipelajari secara bersama melalui pengembangan tema tersebut.[30]

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan secara singkat bahwa indikator keefektifan suatu metode dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Siswa dapat menyerap dan menerima materi pelajaran dengan baik.
  2. Semua pelaksanaan kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik.
  3. Siswa aktif dalam proses belajar mengajar.

[1] http://veruy-bahasaindonesia.blogspot.com/2009/02/mengenal model-model pembelajaran terpadu.html

[2] Trianto, Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori Dan Praktek (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 35

[3] Dakir, Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004),  h. 51

[4] Ibid, h. 14

[6] Trianto, Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori Dan Praktek ….. h. 12

[7] Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004),  h. 51

[8] Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, h. 50

[9] Ibid, 132-144

[10] Ibid, 18

[11] S. Nasution, Didaktik Metodik Asas-Asas Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, (1995), h. 92

[12] Muhibin, Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 64

[13] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2004),  h. 132-137

[14] Zainal Arifin, Evaluasi Intruksional Prinsip-Teknik-Prosedru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 2-3

[15] Poerwodarminto , Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 768

[16] S. Nasution, Didatik, Asas-Asas, h. 34

[17] Roestiyan NK, Didatik Metodik (Jakarta, Bumi Aksara, 1994), h. 8

[18] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2004),  h. 126

[19] Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 2

[20] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 2006), h. 63

[21]H. Zuharini Dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1983),  h. 25

[22] Zakiyah Drajat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 107

[23] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT. Remaja Rosda karya, 2005), h. 130

[24] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), h. 22

[25] Abu Ahmadi, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 138

[26] Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 56

[27] Ibid, h. 57

[28] S. Nasution, Didatik Asas-Asas, h. 74

[29] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 155

[30] Ibid, h. 14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: