pengaruh manajemen marketing terhadap peningkatan kuantitas siswa

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manajemen merupakan suatu kegiatan mengelola atau mengatur suatu kegiatan untuk mencapai tujuan, pada dasarnya manusia itu tidak lepas dari kegiatan manajemen dalam kesehariannya atau dalam kehidupannya, manusia selalu melakukan pengelolaan waktu atau dirinya, keluarganya untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan yang diinginkan. Mengenai istilah marketing pada saat ini sudah sangat berkembang disegala sektor kegiatan, demikian pula pengertian marketing sudah lebih luas jika dibandingkan zaman dulu yang dikatakan layanan yang diterima konsumen sangat minim, karena para produsen dan penjual berkuasa. Sedangkan sekarang sudah berubah produsen berada pada posisi persaingan tajam. mereka bereburt pasaran, berusaha merayu konsumen, mulai menurunkan harga jual, memasang tarif murah, memberikan layanan yang memuasakan pada konsumen. Sekarang istilah marketing fokusnya ialah kepuasan konsumen. Lembaga pendidikan adalah sebuah kegiatan yang melayani konsumen berupa siswa dan masyarakat umum yang dikenal sebagai steakholder. Lembaga pendidikan pada hakikatnya bertujuan untuk membarikan layanan dan pihak yang dilayani ingin memperoleh kepuasan dari layanan tersebut, karena mereka sudah membayar cukup mahal kepada lembaga pendidikan. Marketing pendidikan disini diartikan bukan sebagai organisasi bisnis melainkan pendidikan tergolong dalam marketing jasa yang “non profit oriented” atau perusahaan nirlaba. Lembaga pendidikan adalah lembaga nirlaba. Keuntungan disini diperuntukkan untuk meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat atau steakholder sebagai upaya untuk meningkatkan calon atau jumlah siswa yang berminat mendaftarkan diri disekolah tersebut. Sebuah lembaga yang ingin sukses dimasa depan, dalam menghadapi persaingan era globalisasi harus mempratekkan marketing terus menerus agar mendapatkan jumlah sisiwa yang dikehendaki karena semakin meningkatnya jumlah atau calon siswa yang masuk dapat mengangkat citra positif pada sebuah lembaga dimata masyarakat. Apalagi sekarang ini manurunnya perekonomian nasional dapat berdampak memperburuk lingkungan pemasaran sehingga dapat menurunkan daya beli masyarakat yang akhirnya memperlemah permintaan pasar. Akibat dari adanya itu, maka sebuah lembaga pendidikan harus seaktif mungkin dalam memasarkan lembaganya untuk memperoleh peserta didik. Apabila kuantitas input berupa jumlah tenaga- tenaga kerja professional sumber daya selebihnya memadai, kuantitas output berupa jumlah tamatan berkualitas serta kuantitas siswa yang masuk dilembaga pendidikan pada setiap tahun ajaran baru lebih besar dari tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tersebut mampu memberikan kepuasan terhadap pelanggan. Persaingan ketat diantara lembaga pengahasil jasa mengakibatkan merosotnya jumlah siswa yang masuk di SMP Bina Bangsa Surabaya, sementara itu masyarakat bebas memilih jasa yang ditawarkan oleh lembaga yang ada di sekitar wilayah wonocolo. Demi perkembangan suatu lembaga, SMP Bina Bangsa Surabaya yang dulunya henya menyelenggarakan program reguler (sesuai dengan kurikulum yang berlaku) maka pada tahun ajaran 2010-2011 membuka program kelas baru yaitu program integral (sebuah program pembelajaran fullday school dengan mengembangkan kurikulum nasional dan kurikulum plus), program tersebut diselenggarakan atas dasar SMP Bina Bangsa Surabaya ingin memberikan yang terbaik pada konsumen (steakholder), termotivasinya masyarakat dengan program-program yang dicanangkan oleh sekolah tersebut merupakan bagian terpenting dari manajemen marketing sebagai alternatif dalam memasarkan pendidikan. SMP Bina Bangsa Surabaya memiliki tenaga SDM lulusan S1 dan S2 yang professional. Program regular dan program integralnya membekali siswa dengan life skill melalui pengembangan bahasa inggris, matematika, keterampilan computer. Dengan pendekatan joyfull learning sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan 9 kecerdasan siswa dan membangkitkan semangat belajar yang tinggi. Saat ini SMP Bina Bangsa Surabaya merupakan salah satu lembaga pendidikan yang dianggap banyak menjadi rujukan masyarakat khususnya di kecamatan wonocolo dalam menuntut ilmu karena kualitas dan kuantitas pendidikannya yang tidak diragukan lagi. Betapapun besar suatu lembaga yang bergerak di bidang jasa, jika tidak diperkenalkan kepada masyarakat, maka lembaga tersebut tidak akan berkembang maka untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan manajemne marketing yang baik untuk menarik jumlah peserta didik pada tahun ajaran yang akan datang. Berdasarkan latar belakanag tersebut diatas betapa pentingnya marketing disebuah lembaga pendidikan untuk menghadapai persaingan era globalisasi, mendorong penulis mengadakan penelitian mengenai “Dampak Manajemen Marketing Pendidikan Terhadap Peningkatan Kuantitas Siswa Di Smp Bina Bangsa Surabaya”

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana manajemen marketing pendidikan di SMP Bina Bangsa Surabaya?

2. Bagaimana peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya?

3. Seberapa besar dampak manajemen marketing pendidikan terhadap peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya?

C. Tujuan Penelitian

Dengan penelitian ini diharapkan menjadi masukan dan pengetahuan baru bagi strategi marketing di SMP Bina Bangsa Surabaya dan bagi peneliti khususnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah debagai berikut: 1. Untuk mengukur bagaimana manajemen marketing pendidikan di SMP Bina Bangsa Surabaya 2. Untuk mengukur peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya 3. Untuk mengukur seberapa besar dampak manajemen marketing pendidikan terhadap peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya

D. Kegunaan Penelitian 1. Bagi sekolah yang bersangkutan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi pihak sekolah SMP Bina Bangsa Surabaya, mengenai dampak manajemen marketing pendidikan terhadap peningkatan kuantitas siswa di SMP Negeri 1 Plumpang-Tuban 2. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan khasanah intelektual pada umumnya, terutama bagi para manajer/ kepala sekolah dalam memaksimalkan kinerja personil sekolah dalam rangka manajemen marketing.

E. Hipotesis Setelah memperhatikan rumusan masalah di atas, maka untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut dibutuhkan hipotesis, adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah: Hipotesisi Kerja / Hipotesisi Alternatif (Ha) Yang menyatakan “Ada pengaruh yang positif antara manajemen marketing pendidikan terhadap peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya”

F. Sistematika Pembahasan Agar lebih mudah memahami maka penulis membagi manjadi lima bab yang saling berkaitan. Adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

Bab I Membahas tentang latar belakang masalah yang menjadi penyebab mengapa penelitian ini dilakukan, rumusan masalah dan batasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, hipotesis, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab II Merupakan landasan teori yang membahas tentang pengertian manjemen marketing, jenis-jenis marketing, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam manajemen marketing, tujuan manajemen marketing, dan peningkatan kuantitas yang memuat tentang pengertian peningkatan kuantitas dari para ahli dan pengukuran kuantitas, serta dampak manajemen marketing pendidikan terhadap peningkatan kuantitas siswa.

Bab IV Laporan hasil penelitian yang berisikan latar belakang obyek penelitian yang memuat sejarah berdirinya, visi, misi dan tujuan, serta penyajian data yang telah diperoleh dari angket yang disebarkan pada responden, dan analisis data. Bab VI Merupakan penutup yang menjelaskan tentang kesimpulan dari skripsi yang berawal dari rumusan masalah dan dilengkapi dengan saran-saran yang membantu dalam perbaikan Tesis ini.

BAB II LANDASAN TEORI

A. MANAJEMEN PEMASARAN

1. Pengertian Manajemen Pemasaran.

Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah : a. pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajemrial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. b. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. c. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. d. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan. e. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial. 2. Fungsi Marketing Pendidikan Marketing dapat berfungsi sebagai media penyalur barang/jasa dari tangan produsen (orang/lembaga dan sebagainya) ke tangan konsumen melalui kegiatannya. Fungsi marketing ini secara luas akan dijabarkan dalam bauran pemasaran yaitu merupakan sarana mencapai tujuan pemasaran.

3. Tujuan Marketing Pendidikan

Tujuan marketing menurut peter drucker ahli teori manajemen menyatakan bahwa tujuan marketing adalah membuat agar tenaga penjualan menjadi berlebih dan mengetahui serta memahami konsumen dengan baik sehingga produk/pelayanan cocok dengan konsumen tersebut dan laku dengan sendirinya. Dengan kegiatan marketing akan dapat membantu perguruan tinggi/lembaga sekolah menengah menghadapi masa depan yang lebih baik. Ada dua usaha yang hendak dicapai oleh organisasi nirlaba dalam kegiatan marketingnya yaitu mencari konsumen dan mencari dana Dario donator. 4. Konsep Kemasyarakatan Konsep ini menyatakan bahwa dunia pendiidkan harus bertanggung jawab kepada masyarakat terhadap segala perilaku bisnisnya. Perusahaan harus menghasilkan produk yang dapat diandalkan, tidak cepat rusak, tidak berbahaya, jika digunakan oleh konsumen dan turut manjaga kelestarian alam, dunia bisnis harus hemat dalam menggunakan sumber-sumber alam, dan turut mengadakan penghijauan. Demikian juga disekolah harus bertanggung jawab terhadap masyarakat luas, mulai dari mmutu lulusan yang dihasilkan. Jangan sampai lulusan yang dihasilkan malah membawa dampak negative dimasyarakat. lembaga pendidikan harus benar-benar bertanggung jwab sehingga betul-betul memberikan hasil maksimal buat masyarakat. 5. Strategi Bauran Pasar (Marketing Mix) Untuk keberhasilan sebuah lemabga dalam jangka panjang maka, lembaga tersebut harus menciptakan layanan yang memuaskan kebutuhan keinginan pelanggannya. Maka lembaga menciptakan bauran pasar diantaranya: a) Produk Dalam hal ini strategi bauran produk diterjemahkan dalam variable strategi akademik dan strategi sosio cultural yang keduanya memperlihatkan hubungan korelatif positif terhadap daya tarik calon mahasiswa/siswa. Elemen produk lainnya yang cukup berpengaruh ialah produk yang membuat layanan pendidikan lebih bervariasi seperti adanya kegiatan olehraga, kesenian, keagamaan, kursus-kursus. b) Price (harga) Elemen ini berjalan sejajar dengan mutu produk. Apabila mutu produk baik maka calon mahasiswa/siswaberani membayar lebih tinggi. Ada perguruan tinggi yang mahal sekali tetapi peminatnya tetap banyak. Hal ini disebabkan karena situasi kelangkaan penyediaan jasa pendidikan yang bermutu, melihat siapa dibelakang pengelola jasa pendiikan tersebut. Taktik “Skimming price” yang terkenal dalam marketing, diimbangidengan bayangan mutu menyakinkan. Skimming price berarti memasang harga seti8nggi-tingginya pada saat mulai dipasarka. Tentu dengan suatu jaminan bahwa produk yang diatwarkan emmang berkualitas tinggi, sehingga tidak mengecewakan konsumennya. c) Place (Tempat) Pada upara pimpinan lembaga pendiidikan sependapat bahwa lokasi letak lembaga yang mudah dicapai kendaraan umum, cukup berperan sebagai pertimbangan calon siswa untuk memasuki lemabag tersebut. Para siswa menyenangi lokasi di kota dan mudah dijangkau kendaraan umum, atau ada fasilitas alat transporttasi dari lembaga atau bis umum yang disediakan oleh pemerintah daerah d) Promosi Promosi merupakan daya tarik teknik-teknik yang digunakan untuk menarik pelanggan. Kegiatan promosi dapat dilakukan melalui media komunikasi massa, misalnya Koran, majalah, televise radio, bioskop, papan reklame, dan gambar temple. Kegiatan promosi dengan menggunakan media komunikasi disebut kegitan periklanan. Disamping itu dapat juga dilakukan dengan kegiatan promosi pendukung atau disebut promosi penjualan, yang dapat berbentuk kombinasi dari promosi langsung dan melalui media komunikasi.pameran merupakan salah satu contoh dari kegiatan promosi penjualan, karena dlama pameran dipasang berbagai macam gambar papan reklame, dan contoh produk. e) People (Sumber daya manusia) People ini menyangkut perilaku unsur pimpinan, tenaga edukatif, dan karyawan pada lemabga. Pada umumnya pimpinan lembaga berpendapat bahwa yang sebaiknya manjadi kepala lkemabaga dan sebagai pengurus tyayasan diangkat tokoh masyarakat. Orang yang menyediakan jasa adalah elemen yang sangat penting. 6. Konsep Pemasaran Konsep-konsep inti pemasaran meluputi: kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi, utilitas, nilai dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan hubungan pasar, pemasaran dan pasar. Kita dapat membedakan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan. Kebutuhan adalah suatu keadaan dirasakannya ketiadaan kepuasan dasar tertentu. Keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuas yang spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendalam. Sedangkan Permintaan adalah keinginan akan produk yang spesifik yang didukung dengan kemampuan dan kesediaan untuk membelinya. 7. Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Menurut Kotler dan Armstrong pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (organizing) penggerakan (Actuating) dan pengawasan. Jadi dapat diartikan bahwa Manajemen Pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi. Analisa peluang pasar Adalah suatu bidang kebutuhan dimana perusahaan dapat beroperasi secara menguntungkan. Kemungkinan sukses perusahaan bergantung pada kekuatan usahanya yang tidak hanya harus sesuai dengan persyaratan berhasil dalam sasaran pasar tersebut. Namun juga harus unggul dari pesaingnya. Analisis situasi suatu perusahaan yang lengkap. Perusahaan harus menganalisis kekuatan dan kelemahannya tentang bagaimana kondisi pemasaran sekarang dan yang akan datang dalam rangka untuk menentukan peluang yang cukup menarik dan yang baik. Kalau ingin bertahan dalam usaha berkesinambungan tentunya setiap perusahaan perlu memiliki kemampuan untuk mengenal kesempatan-kesempatan baru secara dini terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen pada masa yang akan datang dan tidak tergantung kepada produk dan pasar yang dimiliki sekarang. Bagi perusahaan yang selalu melihat dan menggunakan kesempatan pasar adalah perusahaan-perusahaan yang selalu hidup dan berkembang sesuai dengan tuntutan konsumen. Begitu pula sebaliknya bagi perusahaan yang tidak menggunakan kesempatadan tidak selalu berantisipasi terhadap tuntutan konsumen, cepat atau lambat dia akan tenggelam bersama mimpi lalunya. Perencanaan strategik dalam kaitannya dengan pemasaran diartikan sebagai proses untuk mengembangkan dan menjaga kecocokan strategi diantara tujuan dan kemampuan organisasi dengan peluang pemasaran yang selalu berubah. Perencaan strategik bersandar pada pengembangan misi perusahaan yang jelas dan terarah, tujuan-tujuan pendukung yang sesuai dengan pengembangan misi perusahaan, portofolio usaha yang sehat serta strategi strategi fungsional yang terkoordinasi: 1. Mendefinisikan misi perusahaan. Pernyataan misi (misi statement) adalah pernyataan yang memuat tujuan suatu organisasi tentang apa yang ingin dicapai organisasi tersebut dalam skala yang lebih global Pernyataan misi yang berorientasi pada pasar mendefinisikan usaha dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dasar konsumen. Manajemen sebaiknya mencegah penciptaan misi yang terlalu sempit atau terlalu luas. Pernyataan misi sebaiknya spesifik dan realistik. 2. Menetapkan tujuan dan sasaran. Tujuan ada dimaksudkan sebagai penjabaran dari misi-misi sekolah yang perlu dijelaskan secara gamblang ke dalam tujuantujuan pendukung yang terperinci untuk setiap tingkat managemen. Setiap organisasi penting menetapkan tujuan dan sasaran organisasi karena beberapa alasan, pertama, mempermudah perencanaan terpadu oleh semua departemen. Kedua, memberikan landasan dan arahan bagi motivasi kerja karyawan. Ketiga, memungkinkan bagi pemimpin untuk melakukan fungsi kontrol. Dalam memililih sasaran terhadap konsumen ada tiga proses yang harus dilakukan oleh manajemen pemasaran. Pertama, segmentasi pasar yaitu proses pengelompokan pelanggan dalam kelompok dengan kebutuhan, karakteristik dan perilaku yang sama. Kedua, penetapan pasar sasaran yaitu proses untuk mengevaluasi setiap daya tarik segmentasi pasar dan memilih satu atau lebih segmen yang akan dimasuki. Ketiga, penentuan posisi pasar yaitu mengatur sebuah produk untuk menempati tempat yang jelas. Sesuai yang diinginkan pasar, relatif terhadap produk-produk saingan di dalam pikiran konsumen sasaran. 3. Merancang porto folio usaha. Portofolio usaha adalah kumpulan data tentang usaha dan produk yang menunjang perusahaan. Portofolio usaha yang terbaik merupakan usaha yang paling cocok dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan terhadap peluang-peluang didalam lingkungan. Dalam merancang poprtofolio usaha ini yang harus dilakukan oleh perusahaan antara lain : pertama, menganalisis portofolio usaha sekarang. Analisis merupakan sebuah alat yang digunakan oleh managemen untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi berbagai usaha yang menunjang perusahaan (lembaga pendidikan). Kedua, mengembangkan strategi-strategi pertumbuhan. Selain mengevaluasi usaha yang sedang berjalan merancang portofolio adalah usaha yang mencakup penemuan usaha baru dan produksi jasa masa depan yang sebaiknya dipertimbangkan perusahaan. Sedangkan untuk mengidentifikasi peluang pertumbuhan adalah jaring ekspansi produk/pasar (product/market exspansion grid) yaitu sebuah alat perencanaan strategik untuk mengidentifikasi peluang-peluang pertumbuhan perusahaan melalui penetrasi pasar, pengembangan produk atau diversifikasi. 4. Perencanaan strategik fungsional. Rencana strategik perusahaan adalah upaya untuk membangun jenis-jenis usaha yang akan dilakukan perusahaan dengan tujuan masing-masing usaha. Perencanaan yang lebih rinci harus dijalankan dan diterapkan dalam setiap usaha unit usaha pemasaran, keuangan, akuntansi, pembelian dan produksi memainkan peranan penting didalam proses perencanaan statistik. 5. Implementasi. Mengenai implementasi pemasaran, dalam merencanakan strategi yang baik hanyalah sebuah langkah awal menuju pemasaran sukses. Strategi pemasaran yang brilian kurang berarti jika perusahaan gagal mengimplementasikannnya dengan tepat. Implementasi pemasaran adalah proses yang mengubah strategi dan rencana menjadi tindakan pemasaran dalam rangka mencapai tujuan pemasaran stratejik. Apabila perencanan pemasaran mengarahkan apa dan mengapa dari kegiatan pemasaran maka implementasi mengarahkan siapa, dimana, kapan dan bagaimana. Profesionalisme yang berdasarkan keterbukaan dan kebijakan terhadap ide-ide pembaruan itulah yang akan mampu melaksanakan profesinya (pemasar). Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-‘An’am ayat 135 sebagai berikut : Artinya : Katakanlah “hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu. Sesungguhnya akupun berbuat pula masing-masing usaha. Perencanaan yang lebih rinci harus dijalankan dan diterapkan dalam setiap usaha unit usaha pemasaran, keuangan, akuntansi, pembelian dan produksi memainkan peranan penting didalam proses perencanaan statistik. 6. Pengendalian. Pengendalian Pemasaran Adalah proses pengukuran dan evaluasi hasil-hasil strategi dan rencana pemasaran dan pengambilan tindakan tindakan perbaikan untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan pemasaran dicapai. Pengendalian operasi mencakup pemeriksaan kinerja yang sedang berjalan dibandingkan rencana tahunan dan melakukan tindakan-tindakan perbaikan bila diperlukan. Tujuannya untuk menjamin bahwa perusahaan telah mencapai penjualan, laba, dan tujuan-tujuan lainnya yang telah ditetapkan. Pengendalian stratejik mencakup mengawasi apakah strategi dasar- strategi dasar perusahaan sangat sesuai dengan peluang-peluangnya. Strategi dan program pemasaran dapat kembali usang dan setiap perusahaan sebaiknya secara berkala menilai kembali seluruh pendekatannya ke pasar. 8. Macam-Macam Konsep Pemasaran Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasaan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing. Konsep pemasaran yang telah diungkapkan dengan berbagai cara: 1. Temukan keinginan pasar dan penuhilah. 2. Buatlah apa yang dapat dijual dan jangan berusaha menjual apa yang dapat dibuat. 3. Cintailah pelanggan, bukan produk anda. 4. Lakukanlah menurut cara anda (Burger king) 5. Andalah yang menentukan (United Airlines) 6. Melakukan segalanya dalam batas kemampuan untuk menghargai uang pelanggan yang sarat dengan nilai, mutu dan kepuasan (JC. Penney). Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran sosial, dan konsep pemasaran global. a. Konsep produksi. Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efesiensi produk tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena konsumen dianggap akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka. b. Konsep produk. Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas manajemen disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen dianggap menyukai produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan ciri – ciri terbaik c. Konsep penjualan. Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan promosi yang agresif. d. Konsep pemasaran. Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing. e. Konsep pemasaran sosial. Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif dan efisien daripasda para pesaing dengan tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat. f. Konsep Pemasaran Global. Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya adalah berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan. 9. Macam-Macam Sistem Pemasaran 1. Sistem pemasaran dengan saluran vertikal Pada sistem ini produsen, grosir, dan pengecer bertindak dalam satu keterpaduan. Tujuannya adalah : A) Mengendalikan perilaku saluran B) Mencegah perselisihan antara anggota saluran 2. Sistem pemasaran dengan saluran horizontal Pada sistem ini, ada suatu kerjasama antara dua atau lebih perusahaan yang bergabung untuk memanfaatkan peluang pemasaran yang muncul. 3. Sistem pemasaran dengan saluran ganda Pada sistem ini beberapa gaya pengeceran dengan pengaturan fungsi distribusi dan manajemen digabungkan, kemudian dari belakang dipimpin secara sentral 10. Lingkungan Sebuah Sistem Pemasaran 1. Lingkungan makro ekstern. Lingkungan makro tersebut ialah: a. Demografi (kependudukan) b. Kondisi ekonomi c. Teknologi d. Kekuatan sosial dan budaya e. Kekuatan politik dan legal f. Persaingan. 2. Lingkungan mikro eksternal a. Pasar (market) b. Pemasok c. Pialang (marketing intermediaries) 3. Lingkungan Non- – Pemasaran Intern Kekuatan non – pemasaran lainnya adalah lokasi perusahaan, ketangguhan bagian penelitian dan pengembangan. Kekuatan intern bersifat menyatu (interest) dalam organisasi dan dikendalikan oleh manajemen 11. Pendidikan Sebagai Usaha Penawaran Jasa Dalam buku-buku pengantar teori ekonomi sering disebutkan bahwa ada dua hal yang diperjua-belikan: barang dan jasa (goods and services). Usaha pendidikan yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai usaha penawaran (penjualan) jasa (service industry) seperti halnya usaha pelayanan telepon, hotel, pariwisata, pelayanan dokter, rumah sakit, bank, dsb. Ciri khas jasa yang diperjual-belikan, antara lain, adalah jasa tidak berujud, tidak tahan lama (tidak dapat disimpan). Dalam hal usaha pendidikan, yang diperjual-belikan adalah jasa layanan pendidikan. Ini mungkin kedengarannya menyakitkan telinga, tetapi semua unsur usaha bisnis (dagang) ada di situ. Usaha pendidikan juga memerlukan modal awal (tanah, sumber daya manusia, uang untuk dana operasional). Modal itu kemudian diramu dan dikelala (manajemen) sehingga menjadi produk yang siap untuk ditawarkan kepada konsumen, yaitu layanan pendidikan tingkat SD, SLTP, SLTA, atau kursus bahasa Inggris. Konsumennya adalah masyarakat yang menggunakan jasa layanan pendidikan itu (siswa atau orang tuanya). Untuk itu mereka harus mengeluarkan uang (uang gedung atau SPP). Agar calon konsumen itu mau menggunakan jasa layanan pendidikan kita, mereka perlu dibangkitkan minatnya terhadap jasa yang kita tawarkan. Yang mungkin agak menyejukkan adalah bahwa, walaupun sama-sama usaha bisnis, usaha pendidikan berbeda dari usaha dagang biasa. Perbedaannya terletak pada orientasinya. Usaha dagang biasa lebih berorientasi pada keuntungan (laba atau profit) sedang usaha pendidikan tidak. Oleh karena itu, di beberapa negara, usaha pendidikan (dan usaha sosial lainnya) dimasukkan ke dalam kategori lembaga usaha yang tak berorientasi pada keuntungan (non-profit organization), walaupun ada juga lembaga pendidikan yang, secara sadar atau tidak, lebih berorientasi pada keuntungan daripada layanan masyarakat (public service).

B. PENINGKATAN KUANTITAS SISWA

1. Pengertian peningkatan kuantitas siswa Peningkatan kuantitas siswa adalah proses perbuatan, cara meningkatkan usaha dansebagainya . Sedangkan kuantitas adalah jumlah jadi peningkatan kuantitas siswa adalah proses perbuatan, cara meningkatkan jumlah siswa denganmendorong calon pembeli untuk membeli, karena telah dipengaruhi olehinformasi-informasi melalui teknik-teknik komunikasi dan publikasi yangmeyakinkan dan dapat dipercaya. 2. Faktor-faktor Peningkatan Kuantitas Siswa Untuk memilih suatu barang atau dalam hal ini memilih jasapendidikan yang akan dimasuki, maka seorang calon siswa akan di pengaruhi oleh beberapa unsur lingkungan, diantaranya: 1. Orang tua famili, teman dekat, teman sekolah, para siswa suatu lembaga pendidikan dan sebagainya. Apabila ingin mencari calon siswa, maka lembaga tidak saja mempengaruhi langsung calon tersebut, akan tetapi juga harus memberikan informasi kepada keluarganya, teman dekat,teman sekolah dan sebagainya. Seseorang yang membeli barang, atau yang masuk kedalam suatu sistem lembaga, bermula dari adanya perhatian, timbul minat, muncul keinginan, lalu masuk dan berakhir dengan adanya kepuasan. ini adalah yang idealnya sehingga konsumen yang telah menikmati pendidikan itu betul-betul merasakan puas, dan kelak ia akan turut menginformasikan kepuasan yang telah diperoleh dilembaga yang bersangkutan. 2. Lembaga membenahi sekolah terutama bagian yang menghadap jalanraya, sehingga setiap orang yang lewat di depan sekolah merasa tertarikdan suatu waktu ingin masuk ke kampus. Kemudian di gerbang sekolah terutama yang berada di jalan raya yang sibuk, dapat di pasang lampu kuning berkedap kedip, pasang rambu- rambu yang jelas dan terbaca. 3. Kerjasama dengan masmedia, mereka diundang dan kepada mereka ditawarkan jika memerlukan berita-berita mengenai pendidikan silahkan berhubungan sewaktu-waktu. Percetakan dan penerbitan majalah, juga akan menambah meningkatkan nama baik sekolah terhadap pandangan dunia luar. 4. Pimpinan perguruan tinggi (Kepala sekolah) gencar mengadakan pidato, sambutan-sambutan dan seminar dimana-mana kemudian menginformasikan kepada publik dengan yakin dan bangga. Serta memberi konsultasi dan nasehat-nasehat yang diperlukan publik sebagai layanan masyarakat. Adanya hubungan yang harmonis antara pimpinan dan yayasan serta hubungan lembaga baik pemerintah ataupun non pemerintah. 5. Mengadakan peringatan hari besar keagamaan dengan mengundang masyarakat luar, tokoh masyarakat dan even- even lainya. 6. Pandangan siswa terhadap pengajar, dalam hal pengajar adalah masalah yang sangat peka, yang sangat mudah menyentuh rasa simpati siswa danakan memberikan cap tersendiri pada lembaga. Mulai dari kompetensi keilmuwan, penguasaan metode mengajar, pengendalian emosi sampai pada kedisiplinan pengajar. Di samping sebagai tenaga pengajar, guru juga merangkap sebagai pembangkit image siswa, karena pelayanan atauproduk yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh tenaga pengajar dan pegawai akademik, pelayanan yang mereka rasakan akan sebandingdengan biaya yang dikeluarkan. 7. Adanya pola segmentasi pasar dari lembaga yang telah menyusun sejenis pemetaan dari mana asal siswa tersebut dapat diklasifikasikan antara lain:asal etnis, agama, sekolah, kelas sosial ekonomi orangtua, daerah kota,pedesaan dan sebagainya. Dengan adanya pemetaan tersebut ini memudahkan lembaga yang bersangkutan mengarahkan penarikan calonsiswa, karena calon siswa membutuhkan teman sepergaulan dalam suasana lembaga yang masih asing bagi mereka. 8. Keberhasilan lembaga membekali siswanya dan sukses dalam menghadapi ujian di masyarakat. Bagaimanapun juga sukses di masyarakat ini merupakan trade mark indikator formal yang tampak bagi penilaian bagisuatu lembaga. 9. Jenis program yang dimiliki oleh suatu lembaga sangat berpengaruh dalam menarik calon siswa karena program tersebut akan memberikan bekal pengetahuan yang punya arti tersendiri untuk memasuki lapangan kerja. 10. Adanya kelompok alumni yang menguasai lapangan kerja tertentu, baik dibawah pembinaan lembaga ataupun tidak. Masyarakat mengetahui jalurlapangan kerja ini, sehingga mereka menyimpulkan alumni mudah untukmencari pekerjaan. Citra ini memberikan daya tarik tersendiri bagi calon siswa. 3. Citra (Image) lembaga dalam upaya meningkatkan kuantitas siswa Citra merupakan impresi, perasaan atau konsepsi yang ada pada public mengenai lembaga. Citra ini tidak dapat dicetak. Citra adalah kesan yang diperoleh sesuai dengan pengetahuan dna pemahaman seseorang tentang sesuatu.

C. DAMPAK MANAJEMEN MARKETING TERHADAP PENINGKATAN KUANTITAS SISWA Persoalan yang dihadapi oleh sebuah lembaga pendidikan sebenarnya banyak, tergantung dari keadaan sekolah itu sendiri. Umumnya, yang dikeluhkan adalah kalahnya sekolah dalam bersaing dengan sekolah lainnya untuk memperebutkan calon siswa berprestasi. Siswa berprestasi umumnya lebih memilih sekolah unggulan daripada sekolah biasa karena mereka beranggapan bahwa sekolah unggulan lebih menjanjikan harapan bahwa prestasi mereka akan lebih baik di sana. Sekolah biasa dianggap kalah mutunya jika dibandingkan dengan sekolah unggulan. Adanya sekolah unggulan tentu sebelumnya telah dikenal masyarakat terlebih dahulu dan ternyata mutu dari lulusannya sesuai dengan harapan masyarakat. Untuk mengenalkan sebuah lembaga pendidikan pada masyarakat dibutuhkan suatu alat yang bisa membuat masyarakat tertarik dan mengetahui kualitas lembaga tersebut. Karena manajemen marketing pendidikan sangat sentral fungsinya, apalagi dengan adanya pemasaran pendidikan, maka sebuah lembaga dapat dengan cepat mempromosikan lembaganya. Promosi dalam pendidikan dimaksudkan agar sekolah tersebut dikenal oleh masyarakat sehingga masyarakat bisa ikut andil dalam pembangunan lembaga tersebut. Masyarakat akan menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah yang telah mereka kenal dan mungkin yang kualitasnya sudah dipahami sebelumnya sehingga masyarakat perlu mengetahui terlebih dahulu sebuah lembaga, kemudian akan memasukkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan tersebut. Di sinilah, saya kira, perlunya sekolah menetapkan strategi pemasaran untuk menarik minat calon konsumen/siswa yang diharapkan itu. BAB III METODE PENELITIAN 1. Rancangan penelitian Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yeng pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Penelitian ini menggunakan analisis statistik sedangkan sifatnya korelasi yaitu mencari hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Dalam penelitian ini ada variabel bebas dan variabel terikat (variabel tak bebas). a) Variabel independent (variabel bebas) yakni variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab perubahan pada variabel dependent (variabel tak bebas). Variabel independent dalam penelitian ini adalah manajemen marketing pendidikan di SMP Bina Bangsa Surabaya. b) Variabel dependent (variabel tak bebas) adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat dari variabel dependent. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya. 2. Populasi dan sampel Menurut Arikunto, populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang masuk pada tahun 2010/2011 yakni kelas VII yang berjumlah 186 di SMP Bina Bangsa Surabaya. Sampel sebagaimana yang dijelaskan oleh Arikunto adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Menurut suharsimi arikunto, apabila subjeknya kurang dari 100% lebih baik diambil semua sehingga penulisannya merupakan penelitian populasi, jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%” dalam penelitian ini penulis menggunakan sampel random yaitu 20% dari jumlah siswa yang masuk pada tahun 2010/2011 yakni kelas VII yang berjumlah 186 di SMP Bina Bangsa Surabaya, maka sampel yang diambil adalah 37 siswa. Selain itu penulis juga mengambil data dari kepala sekolah, guru yang ditugaskan sebagai staf marketing dan wali murid siswa kelas VII di SMP Bina Bangsa Surabaya. 3. Instrumen penelitian Dalam penelitian ini, penulis menggunakan angket sebagai instrument penelitian. Koesioner/angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahui. Sedangkan instrument pendukungnya yaitu interview dengan kepala sekolahuntuk mendukung validitas data yang diperoleh dari angket. Dsedangkan observasi terhadap lembaga yang bersangkutan untuk mengamati situasi dan kondisi sebenarnya. 4. Sumber data Ada tiga objek yang dijadikan sumber informasi yaitu dokumen, person dan place. Obyek penelitian ini adalah 37 siswa SMP Bina Bangsa Surabaya, kepala sekolah, guru yang ditugaskan sebagai staf marketing dan wali murid siswa kelas VII di SMP Bina Bangsa Surabaya. 5. Pengumpulan data a. Metode observasi yaitu metode pengumpulan data yang dilaksanakan dengan pengamatan secara langsung di lapangan.dalam metode ini penulis akan mengadakan pengamatan dan pecatatan terhadap data-data yang ada di laporan penelitian yang ada kontekstualisasinya dengan permasalahan yang di teliti yaitu media dan bentuk marketing pendidikan di SMP Bina Bangsa Surabaya. b. Metode interview adalah metode pengumpulan data dalam bentuk komunikasi dan Tanya jawab secara langsung. Data yang akan diperoleh adalah pellaksanaan manajemen marketing pendidikan di SMP Bina Bangsa Surabaya.Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas terpimpin. Yaitu perpaduan antara wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Hal ini dilakukan agar teknik wawancar tidak kaku dan lebih terarah dalam memper oleh informasi.responden dalam memperoleh wawancara ini adalah kepala sekolah dan guru yang ditugaskan serta wali murid sebagai marketing di SMP Bina Bangsa.sedangan data yang akan diperoleh dalam metode ini adalah manajemen marketing pendidikan dan peningakatan kuantitas bangsa c. Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang diperoleh dari benda-benda tertulis separti dokumen, brosur, dan buku. Data yang diperoleh dalam peneliian ini yaitu data-data mengenai sejarah, letak geografis, sarana prasarana yang ada, kuantitas guru, karyawan dan siswa setiap tahun serta media dan bentuk manajemen marketing pendidikan yang dad di SMP Bina Bangsa Surabaya. d. Metode angket adalah suatu alat pengumpul data mengenai suatau masalah dengan jalan mengedarkan daftar pertanyaan kapada sejumlah besar individu yang harus dijawab secara tertulis. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah angket tertutup yakni angket yang menghendaki jawaban pendek yang digunakan dnegan mencantumkan tanda tertentu. Dengan demikian melalui metode ini data yang ingin diperoleh adalah dampak manajemen marketing pendidikan terhadap peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya. Dalam penelitian ini penulis menyebarkan angket 20 item pertanyaan, untuk setiap item pertanyaan mendapat tiga alternative jawaban dengan penilaian sebagai berikut: a) Jawaban A skornya 3 b) Jawaban B skornya 2 c) Jawaban C skornya 1 6. Teknik analisis data Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan setelah data dari seluruh responden terkumpul. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif. Apabila data telah terkumpul maka diklasifikasikan menjadi dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka-angka dan data kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau symbol. Data yang diperoleh dari angket kemudian dijumlahkan/diklasifikasikan sesuai dengan bentuk minstrumen yang digunakan dan menggunakan rumus prosentase: Keterangan : P = angka porsentase F = Frekuensi jawaban N = Jumlah Responden Kemudian hasilnya dapat disimpulkan dengan criteria yang diungkapkan suharsimi arikunto sebagai berikut : a. 76% – 100% = Baik b. 56% – 75% = Cukup Baik c. 40% – 50% = Kurang Baik d. Kurang dari 40% = Tidak Baik Berkaitan dengan judul penelitian ini maka penulis dalam menganalisa data dengan menggunakan metode statistic. Metode statistic adalah teknik analisa dengan cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk penyelidikan angka-angka. Dalam teknik analisa statistik ini penulis gunakan untuk mengetahui dampak manajemen marketing pendidikan, sebagai upaya peningkatan kuantitas siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya. Menggunakan rumus Product Moment: Keterangan: rxy : Angka indeks korelasi ‘r’ product moment. N : Number of case. ∑xy : Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y. ∑x : Jumlah seluruh Skor. ∑ y : Jumlah seluruh skor y Setelah dihitung dengan rumus Product Moment kemudian nilai yang sudah dapat diinterpretasikan ke nilai “r” sebagaimana yang terlihat pada tabel berikut:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: