siswa inklusi………..

  1. A.    Siswa inklusi
  2. Pengertian siswa inklusi dan macam-macam siswa inklusi

Telah dijelaskan bahwa pendidikan inklusi adalah suatu program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi Anak Berkebutuhan Khusus bersekolah di sekolah umum dan belajar bersama – sama anak normal disertai dengan pemberian layanan pendidikan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Yang mana Anak Berkebutuhan Khusus tersebut meliputi:

  1. Tuna Netra atau Anak yang Mengalami Gangguan Pengelihatan

Di dalam pergaulan sehari – hari tidak dirasakan adanya urgensi untuk memahami benar – benar tentang hakikat anak tuna netra. Kebutuhan untuk membedakan arti kata tuna netra dan buta juga tidak dirasakan pentingnya. Tetapi bagi seorang pendidik atau guru bagi anak – anak tuna netra, pengertian tentang pengertian perbedaan arti antara kata tuna netra dan buta menjadi keutuhan mutlak. Kata tuna netra berasal dari kata – kata tuna dan netra yang masing – masing berarti rusak dan mata. Jadi tuna netra berarti rusak mata ata rusak pengelihatan. Jika tuna netra berarti pengelihatan yang rusak, maka anak tuna netra adalah anak yang rusak pengelihatannya.[1] Atau juga bisa diartikan, Tuna Netra adalah anak yang mengalami gangguan daya pengelihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat – alat bantu khusus.[2]

Dari keterangan di atas dapat penulis simpulkan bahwa anak tuna netra itu belum tentu buta, sedangkan orang buta itu pasti tuna netra. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa kebutaan adalah tingkat ketuna netraan yang paling berat.

1)      Ciri-ciri anak tuna netra

Anak Tunanetra dapat dikenali dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a)      Tidak mampu melihat,

b)      Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,

c)      Kerusakan nyata pada kedua bola mata,

d)     Sering meraba-raba atau tersandung waktu berjalan,

e)      Mengalami kesulitan mengambil benda kecil didekatnya,

f)       Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh atau bersisik atau kering,

g)      Pandangan hebat pada kedua bola mata,

h)      Mata bergoyang terus.

Nilai standar: 4, artinya 4 dari 8 ciri pada anak, mereka dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan khusus.

2)      Kebutuhan pembelajaran Anak Tuna Netra

Karena keterbatasan anak tuna netra, maka pembelajaran bagi anak tuna netra harus mengacu kepada prinsip-prinsip:

a)      Kebutuhan akan pengalaman konkrit

b)      Kebutuhan akan pengalaman memadukan

c)      Kebutuhan akan berbuat dan bekerja dalam belajar

3)      Media Pendidikan Anak Tuna Netra

Media bagi anak tuna netra dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a)      Kelompok buta dengan media pendidikannya adalah tulisan Braille.

b)      Kelompok low vision dengan medianya adalah tulisan awas yang di modifikasi (misal huruf diperbesar, penggunaan alat pembesar tulisan).[3]

  1. Tunarungu atau anak yang mengalami gangguan pendengaran.

Secara normal orang mampu menangkap rangsangan atau stimulus yang berbentuk suara secara luas baik dari segi kuatnya atau panjang pendek serta frekuensinya. Namun mengalami masalah pada indra pendengarannya berarti kemampuan dalam hal ini akan menurun, berkurang atau hilang sama sekali.

Kerusakan pada alat pendengar tersebut beragam ada yang karena bagian luar telinga yang rusak, bagian tengah atau bagian dalam. Dapat juga rusak satu telinga saja atau keduanya. Individu mungkin juga hanya berkurang sedikit pendengarannya (ini termassuk yang ringan), sedang, atau sama sekali tuli (berat). Adapun pengertian tunarungu akan dijelaskan di bawah ini.

Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendemgarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

1)      Ciri-ciri anak tunarungu

Anak tunarungu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a)      Secara nyata tidak mampu mendengarkan

b)      Terlambat perkembangan bahasa,

c)      Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,

d)     Kurang atau tidak tanggap bila diajak bicara,

e)      Ucapan kata tidak jelas,

f)       Kualitas suara aneh atau monoton,

g)      Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,

h)      Banyak perhatian terhadap getaran,

i)        Keluar cairan nanah dari kedua telinga.

Nilai standar: 6 artinya 6 dari 9 ciri pada anak, mereka dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan khusus.[4]

Adapun ciri-ciri yang dimiliki anak tunarungu menurut Nur’aeni dalam bukunya intervensi dini bagi anak bermasalah adalah:

a)      Sering tampak bengong atau melamun

b)      Sering bersikap tak acuh,

c)      Kadang bersifat agresif

d)     Perkembangan sosialnya terbelakang

e)      Kesimbangannya kurang

f)       Kepalnya sering miring

g)      Sering meminta agar orang mau mengulang kalimatnya.

h)      Jika bicara membuat suara-suara tertentu.

i)        Jika berbicara sering menggunakan juga tangan.

j)        Jika bicara terlalu keras atau sebaliknya, sering sangat monoton, tidak tepat dan kadang menggunakan suara hidung.[5]

2)      Tunadaksa atau kelainan anggota tubuh atau gerakan

Istilah tunadaksa merupakan istilah lain dari cacat tubuh atau tuna fisik yaitu berbagai kelainan bentuk tubuh yang mengakibatkan kelainan fungsi dari tubuh untuk melakkan gerakan-gerakan yang dibutuhkan.[6]

Dalam Ortopedagogik anak tuna daksa juga di jelaskan bahwa istilah tunadaksa berasal dari kata “tuna yang bearti rugi, kurang dan daksa berarti tubuh”. Tuna daksa ditujukan bagi mereka – mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna, misalnya buntu atau cacat. Demikian pula untuk istilah tuna tubuh.[7]

Kelainan itu disebabkan Karena sebab-sebab yang terjadi sebelum kelahiran (dalam kandungan), seperti penyakit atau kekurangan gizi pada ibu yang mengandung bayi, sebab-sebab yang terjadi pada saat kelahiran, seperti pertolongan melahirkan dengan menggunakan alat bantu tetapi salah satu pemasangan, sebab-sebab setelah lahir, seperti bayi yang lahir sehat, karena kurang perawatan, terkenal penyakit infeksi, dan sebab-sebab lainnya.

a)      Ciri-ciri anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:

1)      Anggota gerak tubuh kaku atau lemah atau, lumpuh.

2)      Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurnya, tidak lentur atau tidak terkendali),

3)      Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap atau tidak sempurna atau lebih kecil dari biasa.

4)      Terdapat cacat pada alat gerak,

5)      Jari tangan kaku dan tidak dapat menggemgam,

6)      Kesulitan pada saat berdiri atau berjalan atau duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,

7)      Hiperaktif tidak dapat tenang.

Nilai sandar: 5, artinya 5 dari 8 ciri pada anak, mereka dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan khusus.[8]

b)      Kebutuhan pembelajaran anak tunadaksa

Guru sebelum memberikan peleyanan dan pengajaran bagi anak tunadaksa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)      Segi medisnya

Apakah ia memiliki kelainan khusus seperti kencing manis atau pernah dioperasi, masalah lain seperti harus minum obat dan sebagainya.

 

2)      Bagaimana kemampuan gerak dan bepergiannya

Apakah anak bersekolah menggunakan transportasi, alat bantu dan sebagainya, ini berhubungan dengan lingkungan yang harus dipersiapkan.

3)      Bagaimana komunikasinya

Apakah anak mengalami kelainan dalam berkomunikasi, dan alat komunikasi apa yang digunakan (lisan, tulisan, isyarat) dan sebagainya.

4)      Bagaimana perawatan dirinya

Apakah anak dapat melakukan perawatan diri dalam aktivitas kegiatan sehari-hari.

5)      Bagaimana posisinya.

Di sini dimaksudkan tentang bagaimana posisi anak tersebut di dalam menggunakan alat bantu, posisi duduk dalam menerima pelajaran, waktu istirahat, waktu kekamar kecil, makan dan sebagainya. Dalam hal ini physical therapis sangat diperlukan.[9]

c)      Tuna grahita, atua keterbelakangan kemampuan intelektual

Tunagrahita adalah mereka yang kecerdasannya jelas di bawah rata-rata, di samping itu mereka mengalami kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak, yang sulit-sulit, dan yang berbelit-belt. Mereka kurang atau terbelakang atau tidak berhasil bukan untuk sehari dua hari atau sebelum dua bulan tetapi untuk selamanya-lamanya, dan bukan hanya dalam satu dua hal tetapi hamper segala-galanya, lebih-lebih dalam pelajaran seperti mengarang, menyimpulkan isi bacaan, menggunakan simbol-simbol, berhitung dan dalam semua pelajaran yang bersifat teoritis. Dan mereka juga kurang atau terhambat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.[10]

Untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang, secara umum biasanya diukur melalui tes intelgensi yang hasilnya disebut dengan IQ (Intelligence Quotient), yang dapat dibagi menjadi:

–          Tunagrahita ringan biasanya memliki IQ 70-55

–          Tunagrahita sedang biasanya memiliki IQ 55-40

–          Tunagrahita berat biasanya memiliki IQ 40-25

–          Tunagrahita berat sekali biasanya memiliki IQ <25

Para ahli Indonesia menggunakan klasifikasi sebagai berikut:

–          Tunagrahita ringan IQnya 50-75

–          Tunagrahita sedang IQnya 30-50

–          Tunagrahita berat dan sangat berat IQnya kurang dari 30.[11]

1)      Ciri-ciri anak tunagrahita antara lain

  1. Perkembangan senantiasa tertinggal disbanding teman sebayanya, bahkan kadang-kadang ada tahap perkembangan yang dilewati.
  2. Tidak mampu mengubah cara hidupnya, ia cenderung rutin, jika terjadi hal baru di lingkungan ia menjadi bingun dan riasu.
  3. Perhatiannya tidak adapt bertahan lama, samat singkat.
  4. Kemampuan berbahasa dan berkomonikasinya terbatas, umumnya anak-anak gagap. Bagi mereka yang cacatnya berat cenderung bisu.
  5. Sering tidak mampu menolong diri sendiri.
  6. Motif belajarnya rendah sekali
  7. Irama perkembangannya tidak rapi, suatu saat mungking meningkat tinggi, tetapi saat lain bahkan menurun kuat.
  8. Acuh tak acuh pada lingkungannya.
  9. Jarang menirukan tingkah laku orang tua.
  10. Penampilan fisiknya juga beda dengan teman sebayanya.
  11. Ia sering gagal menghadapi lingkungannya tetapi tidak pernah mau berusaha.[12]

2)      Upaya pendidikan dan mengatasi masalah

Pendidikan atau layanan anak harus senantiasa ditingkatkan dengan beberapa cara antara lain:

  1. Setiap hal yang baru harus diulang-ulang
  2. Tugas-tugas harus singkat dan sederhana
  3. Senantiasa menggunakan kalimat dengan kosakata yang sederhana
  4. Gunakan selalu peragaan dan mengulang prosesnya jika mengajar mereka.
  5. Pengalaman yang bersifat kerja seluruh alat indra harus selalu diupayakan.
  6. Mengajarkan sesuatu harus dipotong dipecah manjadi bagian yang kecil sehingga mudah ditangkap anak.
  7. Dorong dan bantu anak untuk bertanya dan mengulang.
  8. Beri selalu kemudahan hingga anak mau melatih motor halus dan kasarnya terus menerus.
  9. Sebelum melatihkan hal yang baru usahakan agar anak lebih dahulu meletakkan perhatian penuh.
  10. Beri senantiasa perhatian penuh.
  11. Dorong agar orang tua mengikutsertakan anaknya pada kelompok atau organisasi olahraga untuk anak cacat mental yang ada. Dan lain-lain.[13]

3)      Lamban belajar (slow learner)

Yang disebut anak lamban belajar adalah mereka yang mempunyai masalah bahasa, baik berupa bahasa ujaran maupun bahasa tulisan. Kita semua tahu bahwa bahasa adalah alat berpikir. Sehingga jika seseorang mempunyai masalah dalam berbahasa, maka berarti akan menghadapi masalah besar dalam kehidupan ini. Dan dia akan sulit memahami kosep, sulit menerima informasi, sulit mengutarakan isi hatinya, sulit berbicara, sukar membaca, menulis, dan susah menghitung.[14]

Lamban belajar (slow learner) juga bias diartikan anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita (biasanya memiliki IQ sekitar 70-90). Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikit, merespon rangasangan dan adaptasi social, tetapi masih jauh lebih baik disbanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibandign dengan normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, dan karenya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

a)      Ciri-ciri yang dapat diamati pada anak lamban belajar:

1-      Rata-rata prestasi belajarnya selalu rendah (kurang dari 6)

2-      Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya.

3-      Daya tangkap terhadap pelajaran lambat

4-      Pernah tidak naik kelas.

Nilai standar: 4 artinya 4 dari 4 ciri pada anak, mereka dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan khusus.

b)      Anak lamban belajar (slow learner) memeliki kebutuhan pembelajaran khusus antara lain:

1)      Waktu yang lebih lama disbanding anak yang normal,

2)      Ketelatenan dan kesabaran guru untuk tidak terlalu cepat dalam memberikan penjelasan.

3)      Diperbanyak latihan daripada pemahaman

4)      Menuntut digunakannya media pembelajaran yang variatif oleh guru.

5)      Diperbanyak kegiatan remedial.

c)      Anak berbakat (kemampuan dan kecerdasan luar biasa)

Dalam kenyataan sesungguhnya tidak hanya anak cacat atau berkelainan saja yang mempunyai masalah. Anak yang memiliki IQ diatas rata-rata pun akan menghadapi rumit jika mereka ini tidak mendapatkan perhatian dan penangangan khusus dan serius.

Indonesia mempunyai perumusan tersendiri tentang anak berbakat ini yang dicamtumkan dalam rencana tujuh tahun pelayanan pendidikan anak berbakat (1982-1989). Menjelaskan:

Bahwa yang dimaksud dengan (anak) yang berbakat ialah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan luar biasa unggul, mencapai prestasi yang tinggi. Di antaranya termasuk unggul secara konsisten dalam kapasitas intelektual umum, kapasistas akademik khusus, dalam bidang pemikiran kreatif-produktif, bidang kenestetik atau psikomotorik, dan dalam bidang psikososial. Mereka membutuhkan program pendidikan berorganisasi dan atau pelayanan pendidikan khusus di luar jangkauan, apa yang diberikan dalam program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan dirinya maupun sumbang-nya terhadap masyarakat materi pendidikan dan kebudayaan 1982.[15]

1.1.      Anak berbakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1.1.1.      Membaca pada usia lebih muda

1.1.2.      Membaca lebih cepat dan lebih banyak

1.1.3.      Memiliki perbendaharan kata yang banyak dan luas,

1.1.4.      Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat

1.1.5.      Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,

1.1.6.      Mempunyai inisiatif dan dapat bekerja sendiri

1.1.7.      Menunjukkan keasliaan (orisinilitas) dalam ungkapan verbal.

1.1.8.      Member jawaban-jawaban yang baik

1.1.9.      Dapat memberikan banyak gagasan

1.1.10.  Luwes dalam berpikir

1.1.11.  Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan.

1.1.12.  Mempunyai pengamatan yang tajam

1.1.13.  Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap atau bidang yang diminati.

1.1.14.  Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri.

1.1.15.  Senang mencoba hal-hal baru

1.1.16.  Mempunyai daya abstraksi, konseptualitas, dan sintesis yang tinggi.

1.1.17.  Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan-pemecahan masalah.

1.1.18.  Cepat menangkap hubungan sebab akibat

1.1.19.  Berperilaku terarah pada tujuan

1.1.20.  Mempunyai daya imajinasi yang kuat

1.1.21.  Mempunyai banyak kegemaran (hobi)

1.1.22.  Mempunyai daya ingat yang kuat,

1.1.23.  Tidak cepat puas dengan prestasinya

1.1.24.  Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi)

1.1.25.  Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.

Nilai santdar: 1.1.18 artinya 1.1.18 dari 1.1.25. ciri pada anak, mereka dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan khusus.

d)     Kebutuhan pembelajaran anak berbakat

Anak berbakat sering juga disebut sebagai “gified dan talented”. Untuk program pendidikan bagi anak “gifted dan talented” dikembangkan dalam bentuk:

1)      Program ke samping (horizontal program) yaitu:

a)      Mengembangkan kemampuan eksplorasi.

b)      Mengembangkan pengayaan dalam arti memperdalam hal-hal yang ada di luar kurikulum biasa

c)      Executive intensive dalam arti memberikan kesempatan untuk mengikuti program terntentu yang diminati sampai mendalam dalam waktu tertentu.

2)      Program ke atas (vertical program) yaitu:

a)      Acceleration, percepatan atau maju berkelanjutan dalam mengikuti program yang sesuai dengan kemampuannya, dan juga dibatasi oleh jumlah waktu, untuk tingkatkan kelas.

b)      Independen study, biarkan anak untuk belajar dan menjelajahi sendiri bidang yang diminati;

c)      Mentorship, paduan antara yang diminati dengan para ahli yang ada di masyarakat.

3)      Anak berskesulitan belajar spesifik

Anak yang berkesulitan belajar spesifik (specific learning disability) adalah anak yang secara nyata mengalami dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama hal kemampuan membaca, menulis dan beritung atau matematika), diduga disebabkan karena factor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena faktor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal), sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Anak belajar berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrfia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalamai kesulitan yang signifikan (berarti).

(a)    Ciri-ciri anak berkesulitan belajar spesifik:

1)      Perkembangan kemampuan membaca terlambat

2)      Kemampuan memahami isi bacaan rendah

3)      Kalau membaca sering banyak kesalahan

4)      Nilai standarnya

(b)   Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)

1)      Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai

2)      Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5,6 dengan 9, dan sebagainya,

3)      Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca

4)      Tulisannya jelek dan tidak terbaca

5)      Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris

Nilai standarnya: 4

(c)    Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkulia)

1)      Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, >, <, =

2)      Sulit mengoperasikan hitungan atau bilangan

3)      Sering salah membilang dengan urut

4)      Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8 dan sebagainya.

5)      Sulit membedakan bangun-bangun geometri

Nilai standarnya: 4

4)      Kebutuhan pembelajaran anak berkesulitan belajar spesifik

Anak berkesulitan belajar spesifik memiliki dimensi kelainan dalam beberapa aspek yang perlu diperhatikan merancang dan melaksanakan pembelajaran:

a)      Ketidak cocokan antara apa yang seharusnya anak bisa dengan apa yang secara kenyataan dikerjakan.

b)      Perwujudan dari tugas yang dapat dikerjakan, anak berkesulitan belajar tidak dapat melakukannya.

c)      Fokus terhadap satu atau beberapa proses psychologis dasar termasuk di dalamnya menggunakan atau mengerti bahasa.

d)     Keterpaduan mata dan telinga meskipun tidak ada kelainan atau terbelakang tetapi anak tidak mau belajar.[16]

e)      Anak yang mengalami gangguan komunikasi

Anak yang mengalami gangguan komunikasi adalah anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara, yang menyebabkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa, sehingga anak memerlukan pendidikan khusus. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan.

1-      Ciri-ciri anak yang mengalami gangguan komunikasi

a-      Sulit menangkap isi pembicaan orang lain.

b-      Tidak lancer dalam berbicara atau mengemukakan ide

c-      Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi

d-     Kalu berbicara sering gagap atau gugup

e-      Suaranya parau atau aneh

f-       Tidak fasih mengucapkan kata-kata tertentu atau cadel

g-      Organ bicanyanya tidak normal atau summing

Nilai standarnya: 5

2-      Kebutuhan pembelajaran

Anak yang mengalami gangguan komunikasi membutuhkan pembelajaran khsusus antara lain sebagai berikut:

a-      Pengaturan-pengaturan tempat duduk yang mudah dan dekat dengan posisi guru

b-      Guru menghindari membelakangi anak ketika berbicara

c-      Gerakan bibir dan isyarat guru sangat diperlukan dalam pembelajaran

d-     Penjelasan yang sulit dipahami anak, diperjelas dengan penjelasan tertulis.

e-      Suara guru diperkeras.

f-       Untuk bagian-bagian tertentu yang dianggap penting perlu diulang-ulang dalam menjelaskan atau mengucapkan.[17]

d)     Tuna laras (mengalami gangguan emosi dan perilaku)

Berbeda dengan jenis kecacatan lain seperti tunanetra, tunarungu wicara, tunagrahita, atau pun tuna daksa, tuna laras mencakup populasi yang sangat heterogen. Bagi sebagaian orang awam, istilah tunalaras umumnya diasosiasikan dengan anak dan remaja yang sering menimbulkan keresahan dan keonaran, baik di sekolah dan masyarakat, seperti mencuri, mabuk, penggunaan ganja, obat-obat terlarang, perkelahian dan lain-lain.[18]

Menurut direktorat pendidikan luar biasa tuna laras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu maka diperlukan suatu pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya mauapun lingkungannya.

Di dalam PLB dikenal dengan nama anak tuna laras (Behavioral Disorders). Kelainan tingkah laku ditetapkan bila mengandung unsur:

–          Tingkah laku anak menyimpang dari standar yang diterima umum

–          Derajat penyimpangan tingkah laku dari standar umum sudah extrim

–          Lamnya pola tingkah laku itu dilakukan

a)      Ciri-ciri anak tuna laras antara lain:

(1)   Cenderung membangkang

(2)   Mudah terangsang emosinya atau mudah marah.

(3)   Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu.

(4)   Sering bertindak melanggar norma social atau norma susilah atau hukum.

Nilai standarnya: 4

b)      Kebutuhan pembelajaran anak tuna laras

Kebutuhan pembelajaran bagi anak tuna laras yang harus diperhatikan guru antara lain adalah:

(1)   Mengingat kelainan tingkah laku ini banyak disebabkan oleh lingkungan maka penataan lingkungan merupakan salah satu pendekatan yang perlu diperhatikan oleh guru.

(2)   Kita setuju bahwa kelainan tingkah laku disebabkan oleh anak itu sendiri tetapi mungkin disebabkan oleh guru itu sendiri atau hasil interaksi antara guru dan anak.

(3)   Assessment dari masalah tingkah laku, situasi masalah, lingkungan anak, harus diselesaikan dahulu bila ingin mengatasi masalah kelainan tingkah laku pada anak.

c)      Alternatif kebutuhan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah regular (umum) dapat dilakukan dalam bentuk.

(1)   Kelas regular (inklusi penuh)

Anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas regular dengan menggunakan kurikulum yang sama.

(2)   Kelas regular dengan tambahan bimbingan dalam kelas (Cluster)

Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas regular dalam kelompok khusus.

 

(3)   Kelas regular dengan tambahan bimbingan di luar kelas (Pull Out)

Anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak lain (normal) di kelas regular, namun dalam waktu-waktu tertentu, anak berkebutuhan khusus dapat ditarik dari kelas regular dengan kebutuhan pembelajarannya.

(4)   Kelas regular dengan Cluster dan Pull Out

Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas regular dalam kelompok khsus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas regular ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

(5)   Kelas khusus dengan berbagai peingintegrasian

Anak berkebutuhan khsusu di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama-sama dengan anak lain (normal)

(6)   Kelas khusus penuh

Anak berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.

Dengan demikian pendidikan inklusi tidak mengharuskan semua anak berkebutuhan khusus berada di kelas regular setiap saat dengan semua mata pelajarannya (inklusi penuh). Karena sebagian anak berkebutuhan khusus dapat berada di kelas khusus atau ruang terapi sesuai dengan gradasi kelainannya. Bahkan bagi anak berkebutuhan khusus yang gradasi berat, mungkin akan lebih banyak waktunya berada di kelas khsusus pada sekolah regular (inklusi lokasi). Kemudian, bagin yang gradasi kelainannya sangat berat, dan tidak memungkinkan ditempatkan di sekolah regular, dapat disalurkan kesekolah khusus (SLB) atau tempat khusus (Rumah Sakit).

  1. Ciri – Ciri Siswa Inklusi
  2. Landasan Siswa Inklusi

a)      Landasan Filosofis

Bhineka Tunggal Ika yaitu pengakuan Kebhinekaan antar manusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

Bertolak dari filosofi Bhineka Tunggal Ika, kelainan (kecacatan) hanyalah satu bentuk Kebhinekaan seperti halnya perbedaan suku, ras, bahasa, budaya, atau agama. Di dalam individu berkelainan pastilah dapat ditemukan keunggulan-keunggulan tertentu, sebaliknya di dalam individu anak normal maupun anak berbakat pasti terdapat juga kecacatan tertentu, karena tidak ada makhluk yang diciptakan sempurna.[19] Kelainan tidak memisahkan peserta didik satu dengan yang lainnya. Hal ini harus diwujudkan dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam, sehingga mendorong sikap yang penuh toleransi dan saling menghargai.[20]

b)      Landasan Religi

1)      Manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.

2)      Manusia diciptakan sebagai makhluk yang individual differences agar dapat saling berhubungan dalam rangka saling membutuhkan, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)

 “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Qs. Al-Hujurat:13)

c)      Landasan Yuridis

1)      Declaration of Human Right (1948)

2)      Convention of Human Right of the Child (1989)

3)      Kebijakan global Education for All oleh UNESCO (1990)

4)      Kesepakatan UNESCO di Salamanca tentang Inclusive Education (1994). Deklarasi ini sebenarnyaj penegasan kembali atas Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948 dan berbagai deklarasi lanjutan yang berujung pada peraturan standar PBB tahun 1993 tentang kesempatan yang sama bagi individu berkelainan memperoleh pendidikan sebagai bagian dari sistem pendidikan yang ada.

5)      Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 (1) yang berbunyi: Bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh  pendidikan.

6)      Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal  4 (1) dinyatakan bahwa pendidikan di negeri inidiselenggarakan secara   diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai cultural, dan kemajemukan bangsa. Pasal 5 (2) menyatakan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Dalam penjelasan pasal 15 dinyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan khusus tersebut dilakukan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus. Pasal 11 menyatakan, bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara, tanpa diskriminasi.

d)     Landasan Paedagogis

Pada hakekatnya pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan anak didik di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Jelaslah melalui rumusan tersebut bahwa pada hakekatnya pendidikan itu perlu atau dibutuhkan oleh siapa saja dan dimana saja. Pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 3 disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


[1] DEPDIKBUD, Ortodidaktik Anak Tuna Netrai. 6

[2] Direktorat PLB, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, Alat Identifikasi Anak Bekebutuhan Khusus, 6 –7

[3] Direktorat PLB, Alat Identifikasi, 10.

[4] Direktorat PLB, Alat Identifikasi, 11

[5] Nur’aeni, Intervensi Dini Bagi Anak Bermasalah, (Jakarta: Rineka Cipta, cet. I 1997), 119

[6] Muhammad Toha Muslim. M. Sugiarmin, Ortopedi Dalam Pendidikan Anak Tunadaksa, (DEPDIKBUD, 1996), 6.

[7] Musjafak Assjari, Ortopedagogik Anak Tunadaksa, (DEPDIKBUD), 33

[8] Direktorat PLB, Alat Identifikasi, 14

[9] Ibid, 15-16

[10] Amin, Ortopedagogik Anak Tunagrahita, (Depdikbut, 1995) 11

[11] Amin, Ortopedagogik Anak Tunagrahita, (Dekdikbud, 1995), 11

[12] Nur’aeni, Intervensi Dini, 107-108

[13] Nur’aeni, Intervensi Dini, 108-109

[14] Ibid, 112-113

[15] Nur’aeni, Intervensi Dini, 130

[16] Direktorat PLB, Alat Identifikasi, 29

[17] Direktorat PLB, Alat Identifikasi, 31

[18] Sunardi, Ortopedagogik Anak Tunalaras I, (Depdikbud), 1

[19] Jerome S. Arcaro. Pendidikan Berbasis Mutu (Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah

Penerapan), (Yo gyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 64.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: