TAHAP-TTAHAP PENANGANAN SIM PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

Suatu lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan formal memiliki keinginan untuk menjelaskan, memaparkan serta menerapkan bentuk pendidikan yang menurutnya memilki kapabilitas dan layak untuk digunakan pada zaman sekarang.

Manajemen pendidikan untuk saat ini merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan, secara garis besar merupakan bentuk pendidikan yang harus memiliki karakter sehingga menghasilkan output yang diinginkan, ini disebabkan karena perkembangan pendidian semakin lama terus menurun dari segi kualitas maupun hasilnya, dari kenyataan yang ada, sekarang ini banyak institusi pendidikan yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya. Pendidikan harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk menghasilkan keluaran berkualitas dan mampu berorientasi secara maksimal di zaman sekarang. Agar ketercapaian dari keinginan lembaga pendidikan yang bisa menghasilkan output berkualitas, maka kualitas dan hasil dari lembaga pendidikan perlu pengorganisasian dalam lembaga tersebut, dimana didalamnya harus terdapat manajemen yang pasti.

Peranan informasi dalam pengelolaan suatu organisasi di lingkungan masyarakat informasional sangat penting karena makin majunya masyarakat dalamberbagai faktor seperti pendiidkan, demokratisasi politik, pembangunan ekonomi yang membawa serta berbagai macam permasalahan yang bentuk, jenis, dan intensitasnya berbeda dari masa-masa sebelumnya.

Sesungguhnya, makin pentingnya peranan informasi dalam pengelolaan suatu organisasi dalam lingkungan masyarakat informasional merupakan “produk” sebab-akibat. Faktor pemicunya ialah makin majunya masyarakat karena berbagai faktor seperti pendidikan, demokratisasi politik, pembangunan ekonomi yang membawa serta berbagai macam permasalahan yang bentuk, jenis, dan intensitasnya berbeda dari masa-masa sebelumnya. Akibatnya antara lain ialah respons yang diberikan oleh para pakar, ilmuwan, dan ahli teknologi yang berupaya untuk menciptakan berbagai instrumen lama dirasakan dan bahkan ternyata tidak ampuh lagi. Hasilnya ialah terobosan di bidang teknologi informasi, baik dalam arti perangkat kerasnya, perangkat lunaknya, dan “perangkat otak” nya (brainware-nya).

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Sistem Informasi Manajemen Sekolah

Menurut Turban, McLean, dan Wetherbe (1999) sistem informasi adalah sebuah sistem informasi yang mempunyai fungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik. Sedang menurut Bodnar dan HopWood (1993) sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna.[1]

Sistem informasi semakin dibutuhkan oleh lembaga pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kelancaran aliran informasi dalam lembaga pendidikan, kontrol kualitas, dan menciptakan aliansi atau kerja sama dengan pihak lain yang dapat meningkatkan nilai lembaga pendidikan tersebut.

Fungsi menajemen memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dan tingkat relasional yang kompleks antar fungsi operasi ketika harus menjalankan fungsi operasi tersebut yang di bangun dalam organisasi pendidikan. Ketika fungsi operasi dalam organisasi berjalan sesuai fungsi manajemen, maka akan terjadi lalulintas data dan informasi yang saling terkait dan saling membutuhkan sehingga tingkat kompleksitas relasional antar fungsi tersebut kelihatan sekali. Kompleksitas relasional data dan informasi tersebut meliputi tahap-tahap pengumpulan data, klasifikasi data, pengolahan data supaya berubah bentuk, sifat, dan kegunaan menjadi informasi, interpretasi informasi, penyimpanan informasi, penyampaian informasi atau transmisi kepada pengguna dan penggunaan informasi untuk kepentingan manajemen organisasi.

Tahapan kompleksitas relasional data dan informasi memungkinkan ditempuhnya delapan tahap penting dalam penanganan informasi, yaitu penciptaan informasi, pemeliharaan saluran informasi, transmisi informasi, penerimaan informasi, penyimpanan informasi, penelusuran informasi, penggunaan informasi dan penilaian kritis serta umpan balik. Tahap-tahap tersebut menjadi sebuah bentuk manajemen sistem informasi pendidikan.[2]

  1. Tahap-Tahap Penanganan Informasi
  2. Penciptaan Informasi

Teori informatika menekankan bahwa benar-benar mampu memberikan dukungannya kepada proses pengambilan keputusan manajerial dan agar aplikasinya tepat, informasi yang dibutuhkan oleh suatu organisasi harus memenuhi persyaratan kelengkapan, kemutakhiran, kehandalan, terolah dengan baik, tersimpan dengan rapi, dan mudah ditelusuri dari tempat penyimpanannya apabila diperlukan. Persyaratan-persyaratan tersebut hanya mungkin terpenuhi apabila data, yang merupakan bahan baku untuk informasi, digali dari sumber-sumber yang tepat dan dengan mutu yang timggi. Data yang dikumpulkan dari berbagai sumber memerlukan pengolahan lebih lanjut agar sifatnya berubah menjadi informasi yang memiliki nilai sebagai alat pendukung proses pengambilan keputusan. Dalam pengumpulan data ada tiga hal yang mutlak mendapat perhatian.

  1. Pentingnya menggali data dari sumber yang layak digali, baik secara internal maupun secara eksternal
  2. Pentingnya untuk menjamin bahwa data yang dikumpulkan relevan dengan permasalahan yang hendak diatasi.
  3. Mutu data yang dikumpulkan haruslah setinggi mungkin sehingga informasi yang dihasilkan akan bermutu tinggi pula

Tahap penciptaan informasi harus dilihat karena menciptakan informasi tidak terlepas dari identifikasi dan penggalian sumber-sumber yang tepat. Sumber-sumber informasi yang dapat dan layak digali sangat bervariasi dari satu organisasi ke organisasi lain karena sangat tergantung pada proses pengambilan apa yang akan didukungnya dan untuk kepentingan apa informasi tersebut dipergunakan. Sumber-sumber informasi tersebut dapat berada di dalam suatu organisasi seperti berbagai satuan kerja yang terdapat didalamnya akan tetapi dapat pula berada di luar organisasi yang bersangkutan. Instrumen untuk memperolehnya pun dapat beraneka ragam, seperti melalui penelitian, eksperimen baik eksperimen laboratorium maupun eksperimen lapangan dengan melakukan penyebaran kuesioner, wawancara, dan lain sebagainya.

Pentingnya identifikasi dan pengenalan sumber-sumber informasi yang pantas dan layak digarap semakin relevan untuk diperhatikan karena di samping lebih menjamin bahwa data yang dikumpulkan untuk diolah bermutu tinggi, juga karena proses penciptaan informasi tersebut diupayakan agar berlangsung dengan tingkat efisiensi yang tinggi.

  1. Pemeliharaan Saluran Informasi

Terjadinya perpaduan antara teknologi komunikasi dengan teknologi informasi mengakibatkan makin banyak saluran penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain, misalnya dari sumber informasi kepada penggunanya. Itulah yang dimaksud dengan saluran informasi multimedia. Baik secara internal maupun eksternal, saluran tersebut dapat berupa: (a) saluran melalui komunikasi lisan, (b) saluran dengan menggunakan tulisan, (c) komputer pada satuan-satuan kerja dalam organisasi yang on-line dengan komputer utama (mainframe), (d) saluran telepon, (e) teleks, (f) faksimile, dan (g) electronic mail.

Walaupun tidak semua organisasi mutlak menggunakan semua saluran tersebut, karena tergantung pada banyak faktor seperti jarak, lokasi, persyaratan kecepatan penyampaian informasi, dan berbagai faktor lainnya. Tergantung dari organisasi untuk memilih saluran maan yang dipilihnya.

 

  1. Seleksi dan Transmisi Informasi

Tidak semua satuan kerja dan tidak semua orang yang terdapat dalam satu organisasi memerlukan informasi yang sama. Misalnya, satuan kerja yang menangani kegiatan produksi memerlukan ionformasi ytang berbeda dengan informasi yang dibutuhkan oleh satuan kerja yang menangani sumber daya manusia.

Seleksi informasi daspat dilakukan melalui:

a)    Analisis Data

Analisis data harus mampu menunjukkan berbagai alternatif yang mungkin ditempuh, baik dalam upaya mengembalikan situasi ekuilibrium maupun dalam memecahkan masalah.

b)   Analisis Berbagai Alternatif.

Jika pengambil keputusan dihadapkan kepada hanya satu alternatif dan ia memutuskan untuk menggunakan alternatif tersebut, yang bersangkutan sudah mengambil keputusan.

c)    Pemilihan Alternatif.

Jika dilakukan dengan cermat, analisis berbagai alternatif akan memberi petunjuk tentang alternatif yang sebaiknya digunakan karena akan membuahkan solusi yang paling efektif

Dengan kata lain, informasi yang dimiliki oleh organisasi perlu diseleksi oleh berbagai pemakai informasi tersebut. Sehinga organisasi mengetahui informasi apa yang dikirim kepada siapa dan untuk kepentingan apa pengiriman informasi tersebut, sehingga informasi dapat dikatakan tepat sasaran. Yang perlu ditekankan disi adalah pentingnya kemampuan memilih dan menggunakan sarana transmisi informasi yang tepat.

  1. Penerimaan Informasi Secara Selektif

Kemampuan pengguna untuk melakukan seleksi juga sangat penting untuk :

  1. Hanya informasi yang relevan dengan misi, fungsi, dan tugas yang diambilnya
  2. Biaya transmisi dapat ditekan serendah mungkin
  3. pengguna tidak memikul beban pemeliharaan yang sesungguhnya tidak diperlukan.

Salah satu cara yang kini umum digunakan dalam kaitan ini ialah menciptakan data induk (data base) di mana semua jenis informasi yang diperkirakan akan dibutuhkan oleh semua komponen perusahaan disimpan dan dipelihara. Kebutuhan-kebutuhan spesifik berbagai satuan kerja atau orang-orang tertentu dalam organisasi dapat dipenuhi dengan mudah karena akses untuk kepentingan itu memang tersedia. Dengan kata lain, sejalan dengan penciptaaan data induk perlu diciptakan suatu sistem distribusi informasi sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh dengan mudah oleh pihak-pihak yang memerlukannya.

  1. Penyimpanan Informasi

Informasi yang telah terkumpul dan terolah dengan baik perlu disimpan dengan sebaik mungkin. Kegiatan penyimpanan informasi sangat penting karena pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua informasi yang digunakan segera. Oleh karena itu, informasi yang telah diolah dengan mengeluarkan biaya tertentu jangan sampai hilang atau sukar ditelusuri apabila diperlukan.

Perkembangan teknologi informasi menunjukkan bahwa disamping ingatan manusia, terdapat berbagai alat penyimpan informasi yang dapat digunakan, misalnya sistem kartu, tape, microfilm, harddisk, floppy disk, dan sebagainya. Salah satu manfaat dari berbagai alat penyimpanan informasi yang sarat teknologi ialah penghematan biaya penyimpanan, terutama karena tempat yang diperlukan tidak lagi merupakan ruangan yang besar. Disamping itu, dengan sarana berteknologi tinggi, kemampuan informasi pun lebih terjamin.

  1. Penggunaan Informasi

Sekarang ini umat manusia sudah berada pada era informasi, hal itu berarti bahwa informasi sudah menyentuh seluruh segi kehidupan dan penghidupan, baik pada tingkat individual, tingkat kelompok dan tingkat organisasi. Pada tingkat individu mkisalnya, aneka ragam informasi dibutuhkan termasuk informasi tentang pendidikan, kesehatan, situasi pasar berbagai produk yang diperlukannya untuk memuaskan kebutuhannya, lapangan pekerjaan, dan lain sebagainya. Berbagai kelompok dimasyarakat, mulai dari rumah tangga dan kelompok-kelompok lainnya juga memerlukan informasi untuk berbagai kepentingan termasuk untuk memperlancar proses pengambilan keputusan oleh kelompok tersebut.

Penggunaan informasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi alternatif yang dipilih merupakan pilihan terbaik atau tidak, hal ini diuji pada waktu digunakan dalam arti mampu tidaknya menghilangkan situasi disekuilibrium dan apakah permasalahan yang dihadapi dapat dipecahkan secara efektif atau tidak.

  1. Penilaian Kritis dan Sistem Umpan Balik

Sistem yang diperlukan dan yang digunakan adalah sistem yang mempunyai nilai aplikatif yang tinggi, artinya memberikan kontribusi nyata dalam memperlancar kegiatan manajemen operasi.

Serangkaian standar penilaian dilakukan agar penilaian yang dilakukan mencapai sasarannya. Sasaran penilaian antara lain sebagai berikut:

a)    validitas informasi yang diterima

b)   signifikansi informasi tersebut

c)    kegunaan spesifiknya, termasuk mendukung proses pengambilan keputusan

d)   hubungan informasi tersebut dengan informasi lain.

Hasil penilaian kritis yang dilakukan sangat bermanfaat bagi pimpinan organisasi dan berbagai pihak lain yang memerlukannya. Hasil penilaian harus merupakan penilaian yang objektif, rasional, dan berdasarkan tolak ukur yang baku. Oleh karena itu, hasil penilaian harus diumpan balik kepada berbagai pihak tersebut dan dengan bahan umpan balik tersebut diharapkan proses manajemen dalam organisasi dapat berlangsung dengan lancar-efisien, dan efektif yang pada gilirannya meningkatkan kinerja organisasi sebagai keseluruhan.

Secara skematis, bagan dari tahap-tahap penanganan informasi adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Sistem  Informasi

Kepemimpinan merupakan inti manajemen karena kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap efektifitas sistem informasi yang digunakan dalam organisasi, sebagaimana juga pengaruhnya terhadap efektifitas berbagai sistem organisasi lain. Salah satu peranan dari orang-orang yang menduduki jabatan pimpinan dalam organisasi ialah peranan informasional. Dalam memainkan perannya tersebut pimpinan dapat bertindak selaku :

  1. Pencipta sistem informasi
  2. Penerima informasi
  3. Penyalur informasi
  4. Pemakai informasi
  5. Penilai informasi

Dengan berbagai peranan tersebut terlihat bahwa peranan kepemimpinan dalam organisasi mempunyai pengaruh yang sangat luas untuk pencapaian keberhasilan tujuan organisasi, untuk lebih menunjang hal tersebut pimpinan organisasi mau tidak mau harus dapat terlibat dalam seluruh tahapan penanganan informasi.

Beberapa peranan pemimpin tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut:

Pertama: Pimpinan organisasi memahami, mungkin lebih dari siapapun dalam organisasi, bahwa penguasaan dan pemilikan sarana komunikasi sangat menentukan peranan informasi dalam kehidupan organisasional.

Kedua: Pimpinan organisasi sangat mungkin memiliki berbagai informasi tentang organisasi dan tentang lingkungan yang turut menentukan keberhasilan organisasi mencapai tujuan dan berbagai sasarannya yang tidak dimiliki oleh orang lain dalam organisasi bersangkutan.

Ketiga: Pimpinan organisasi menentukan filasafat organisasi untuk dijalankan oleh bawahan mereka, termasuk sistem informasi yang diciptakan, dipelihara, dan digunakan.

Keempat: Pimpinan organisasilah yang menentukan informasi apa yang akan disampaikan kepada siapa yang biasanya disertai petunjuk penggunaannya yang harus dikaitkan bukan hanya dengan tujuan dan berbagai sasaran yang ingin dicapai, akan tetapi juga dalam rangka peningkatan kinerja organisasi, berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi, efektifitas, dan produktifitas kerja.

Kelima: Pimpinan organisasi merupakan sasaran pengiriman informasi oleh orang lain-baik didalam maupun diluar oeganisasi- dan para pimpinan itu pulalah yang berperan sebagai sumber informasi yang diperlukan oleh orang lain yang dalam berbagai bentuk mempunyai kepentingan terhadap keberhasilan organisasi.

Keenam: Karena peranan informasionalnya, pimpinan organisasi mempengaruhi penciptaan sistem informasi dan cakupan penyebarannya.

Ketujuh: Pimpinan organisasi menggunakan informasi untuk mempengaruhi opini orang lain tentang organisasi yang dipimpinnya dengan berbagai cara, tergantung pada siapa yang ingin dipengaruhi dan apa tujuannya.

Pimpinan organisasi perlu terlibat dalam seluruh tahap penanganan informasi. Dua sisi yang menonjol dari peranan pimpinan dalam penerimaan dan transmisi informasi di satu pihak serta pengambilan keputusan untuk ditindak lanjuti oleh para bawahannya di pihak lain. Dari sudut pandang kacamata kepemimpinan dua sisi yang menonjol ialah peranan pimpinan dalam penerimaan dan transmisi informasi disatu pihak serta pengambilan keputusan untuk menindaklanjuti oleh para bawahannya dipihak lain. Kedua sisi tersebut dapat digambarkan dalam bagan dibawah ini:

Manajemen puncak dan informasi

Manajemen madya dan informasi

Manajemen rendah dan informasi

 

 

 

 

 

= Penerimaan dan transmisi informasi

= Keputusan dan tindak lanjut

Selain memahami pengaruh kepemimpinan terhadap informasi dalam organisasi, keterlibatan pimpinan dalam penciptaan, pemeliharaan, dan penggunaan informasi juga sangat penting meskipun keterlibatan tersebut tidak selalu berarti melaksanakan sendiri berbagai kegiatan tersebut. Langkah-langkah yang biasanya ditempuh dalam penciptaan, pemeliharaan, dan penggunaan sistem informasi ialah:

  1. Penelitian Dasar Yang Bersifat Ilmiah

Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat merupakan “produk” kegiatan penelitian baik yang sifatnya murni atau dasar maupun penelitian terapan. Masyarakat informasional merupakan mayarakat yang sadar benar pentingnya penelitian. Kesadaran tersebut terlihat pada 3 hal utama, yaitu: (a) kesediaan berbagai organisasi di masyrakatdi dalam dan di luar organisasi pemerintahan, meyediakan dana yang besar untuk penelitian, (b) kegiatan penelitian yang sudah membudaya, dan (c) peyebarluasan hasil penelitian melalui berbagai cara seperti publikasi dan pertemuan ilmiah dalam berbagai bentuk.

Penelitian dalam system informasi manajemen dimaksudkan antara lain untuk:

1)      mencari teori ilmiah yang baru

2)      mencari dan menemukan inovasi baru

3)      mengkaji ulang kebenaran dan aplikasi teori lama

4)      mencari dan menemukan cara kerja baru.

Supaya informasi yang diciptakan dapat digunakan untuk menunjang kegiatan manajerial, perlu dilakukan kedua jenis penelitian tersebut. Penelitian dasar perlu dilakukan untuk menggali hal-hal baru yang bersifat khas dan asli. Sebaliknya terapan diperlukan antara lain untuk mengkaji atau menguji berlaku tidaknya temuan-temuan oleh orang atau pakar lain, dalam arti di tempat lain atau masyarakat lain dengan pendekatan aplikatif mengiungat bahwa hasil penelitian tersebut tidak bebas nilai. Dengan kata lain, berbagai faktor budaya harus diperhitungkan. Walaupun ternyata dapat dipergunakan, tapi tetap diperlukan penyesuaian-penyesuaian tertentu.

  1. Eksperimentasi Atau Percobaan Laboratorium

Hasil-hasil yang ditemukan melalui penelitian tidak begitu saja dapat dikembangkan dan disebarluaskan. Percobaan-percobaan laboratorium perlu dilakukan terlebih dulu. Salah satu caranya ialah dengan uji coba dalam bentuk proyek. Jika uji coba ternyata membuahkan hasil yang diharapkan barulah aplikasinya dilakukan secara mnyeluruh. Hanya dengan demikianlah, hasil penelitian tersebut mempunyai nilai-nilai positif bagi pemakainya.

  1. Pengembangan

Hasil-hasil yang diperoleh dari percobaan-percobaan laboratorium menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung seluruh kegiatan organisasi, langkah selanjutnya yang biasa ditempuh ialah pengembangannya. Yang dimaksud dengan pengembangan ialah seluruh upaya produksi informasi dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan informasi yang memenuhi kebutuhan organisasi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

  1. Pelatihan Untuk Aplikasi

Nilai-nilai positif dari informasi bagi masyarakat/organisasi pemakainya, pada analisis terakhir teruji oleh dapat tidaknya informasi tersebut menunjang segala upaya oeganisasi untuk mencapai tujuan dan berbagai sasarannya. para calon pemakai informasi perlu adanya pelatihan agar menguasai teknik-teknik penggunaan atau aplikasi sistem baru itu. Pelatihan perlu diberikan karena: pertama ialah agar mereka memahami  dengan tepat bahwa sistem informasi yang baru “lebih baik” dari sistem informasi yang lama. Yang kedua ialah memberikan kepada mereka keterampilan yang diperlukan untuk mengaplikasikannya dengan tepat.

Pentingnya pelatihan tersebut menjadi lebih jelas apabila diingat bahwa penggunaan sesuatu cara baru memerlukan perubahan sikap dan mental.

Pengalaman banyak organisasi menunjukkan bahwa terdapat banyak kecenderungan di kalangan para anggota organisasi untuk menolak perubahan dengan berbagai alasan seperti:

a)      adanya ketakutan bahwa cara baru itu akan merugikannya

b)      sulitnya meninggalkan berbagai kebiasaan lama

c)      kemungkinan timbulnya keraguan bahwa mereka mampu menggunakan sistem baru tersebut. Suatu program pelatihan yang efektif dapat menghilangkan ketakutan dan/atau keraguan tersebut.

  1. Penggunaan

Menggunakan sistem informasi pada hakikatnya meninggalkan cara kerja yang lama. Berhasil tidaknya penerapan suatu sistem baru sangat tergantung pada lima hal, yaitu:

a)    efektif tidaknya komunikasi yang terjadi antara para inovator yang memperkenalkan perubahan dengan para pemakai sistem baru

b)   mantap tidaknya persiapan yang dilakukan untuk menggunakan sistem baru yang hendak diterapkan

c)    ada tidaknya pedoman aplikasi, berupa manual, yang disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh calon pemakai

d)   kesediaan pemakai untuk melakukan berbagai penyesuaian yang diperlukan, baik dalam arti sikap, etos kerja, disiplin kerja, dan cara kerja yang mungkin sangat berbeda dengan yang lama

e)    ada tidaknya usaha-usaha penyempurnaan yang dilakukan secara berkesinambungan atas sistem baru tersebut.

  1. Umpan Balik

Keberhasilan penggunaan sistem baru tergantung pada adanya usaha-usaha penyempurnaan yang berkelanjutan. Salah satu implikasinya ialah menciptakan suatu sistem umpan balik untuk menyampaikan masukan dari pemakai kepada:

a)      Kelompok manajemen dalam organisasi, termasuk manajemen puncak

b)      Para peneliti yang berperan selaku inovator

c)      Pimpinan laboratorium di mana uji coba pernah dilakukan

d)     Penanggung jawab kegiatan pelatihan.

Masukan tersebut sangat diperlukan guna menjamin bahwa sistem informasi baru itu benar-benar meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan produktifitas organisasi sebagai keseluruhan.

Dengan tahapan sistem informasi tersebut diatas campur tangan pimpinan organisasi merupakan keharusan mutlak, atau kelompok manajemen dalam organisasi harus terlibat aktif dalam seluruh tahap proses penciptaan dan penggunaan informasi.

Setiap proses penciptaan dan penggunaan informasi, keberadaan pimpinan organisasi merupakan keharusan mutlak untuk menangani informasi sehingga dapat berguna untuk pengambilan keputusan dan informasi tepat sasaran kepada pihak yang memerlukan informasi. Dengan kata lain, kelompok manajemen dalam organisasi harus terlibat aktif dalam seluruh tahap dan proses penciptaan dan penggunaan informasi.

Secara skematis, tahap-tahap yang dibahas dimuka terlihat pada bagan di bawah ini.

Bagan   Kepemimpinan dan Proses Penciptaan serta Penggunaan Informasi.

Umpan Balik

Penggunaan

Latihan untuk aplikasi

Pengembangan

Eksperimentasi laboratorium

Penelitian ilmiah dasar

Intervensi pimpinan

Pada umumnya dalam suatu organisasi atau perusahaan yang besar, terdapat satuan kerja/pemimpin untuk pengolahan data yang melayani seluruh perusahaan. Dilihat dari segi manajemennya, susunan organisasi yang umum digunakan terdiri dari :

  1. Pimpinan tertinggi yang bertanggung jawab atas seluruh fungsi pengolahan data
  2. Paling sedikit tiga orang manajer sebagai pembantu pimpinan tertinggi, yaitu :

a)    Manajer operasi yang membawahi operasi peralatan komputer, pemrosesan sistem, pengamanan komputer, dan penjadwalan penggunaan komputer;

b)   Manajer pengendalian masukan-luaran yang membawahi penelitian masukan, pengendalian pemrosesan, analisis dan pengendalian luaran, dan pengendalian koreksi kesalahan;

c)    Manajer pengembangan sistem yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pembuatan program baru, koreksi program yang sedang digunakan apabila ternyata diperlukan, dan dokumentasi sistem.

Penciptaan, pemeliharaan, dan penggunaan sistem informasi manajemen sangat penting karena dengan menyoroti penggunaan teknologi informasi elektronika sebagai instrumen utamanya, meskipun harus diakui bahwa pengolahan informasi dapat dilakukan dengan cara-cara lain yang tidak menggunakan teknologi elektronika seperti secara mekanis dan bahkan juga secara manual.

Sehubungan dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, enam hal mutlak mendapat mendapat perhatian para pemakainya dalam organisasi, termasuk organisasi pendidikan:

  1. Berbagai jenis komputer yang terdapat di pasaran ternyata memungkinkan para pengguna memilih jenis yang sesuai dengan kebutuhannya.
  2. Kemampuan komputer dewasa ini makin besar dan cara bekerjanya pun jauh lebih cepat dibandingkan dengan komputer yang diciptakan pada dekade tujuh puluhan.
  3. Berbeda dengan situasi di masa lalu, ketika pengambil keputusan dihadapkan kepada kelangkaan informasi sehingga proses pengambilan keputusan sering didasarkan pada intuisi dan pengalaman, dewasa ini para pengambil keputusan tersebut adakalanya memiliki terlalu banyak informasi.
  4. Karena perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat, “usia” atu generasi komputer ternyata semakin pendek.
  5. Teknologi informasi ternyata makin mudah penggunaannya atau user friendly, dengan konsekuensi bahwa makin banyak orang dalam perusahaan yang mempunyai akses kepada dan mampu melakukan sendiri pengolahan data bukan hanya untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang menyangkut bidang tugas sendiri, akan tetapi juga yang dapat digunakan oleh orang lain, termasuk para manajer pada eselon yang lebih tinggi. Salah satu konsekuensinya ialah bahwa pola pengambilan keputusan “bergeser” dari pola yang sentralistik menjadi pola yang desentralistik.
  6. Telah terjadi persatuan antara teknologi informasi dengan teknologi komunikasi. persatuan tersebut telah melahirkan alat-alat baru, seperti faksimile dan teleks, yang ternyata mempunyai implikasi dalam berbagai aspek kehidupan organisasi.

PENERAPAN TEKNOLOGI INTERNET UNTUK KEPENTINGAN INTRA (INTRANET)

Intranet adalah jaringan yang terdapat dalam satu organisasi atau perusahaan dengan menggunakan teknologi dan arsitektur Internet.

Sangat menarik bahwa saat ini internet dapat dipergunakan untuk kepentingan intern lembaga, atau sistem informasi manajemen. Kemudahan distribusi informasi dan pertukaran  informasi antar pemakai mengakibatkan adanya perubahan besar dalam dunia komunikasi termasuk dalam pendidikan yaitu E-learning. Kuliah tanpa kehadiran tatap muka langsung di kelas.

Saat ini adanya intranet yaitu jaringan yang terdapat suatu organisasi  dengan menggunakan teknologi atau arsitektur internet. Letak perbedaan antara internet dan intranet bukan pada teknologinya akan tetapi pada  cakupan akses,  cara penggunaan teknologi untuk berkomunikasi,  dan pemakainya.

Optimalisasi Pemanfaatan Intranet

Jika seseorang ingin membangun intranet, beberapa hal perlu diperhatikan.

  1. Identifikasi daerah-daerah penyebaran informasi sehingga diketahui dengan jelas daerah mana dalam oraganisasi atau perusahaan yang lalu lintas dokumennya paling “padat”.
  2. Manajemen organisasi atau perusahaan harus menentukan pula perangkat apa yang akan digunakan untuk menyediakan informasi bagi para pengguna, apakah melalui Web server, electronic mail, atau cara lain, tergantung pada sifat informasi tersebut apakah “umum dan terbuka” ataukah bersifat rahasia.
  3. Perlu dipertimbangkan oleh manajemen organisasi atau perusahaan apakah akan membangun interface Web sendiri untuk kepentingan penanganan informasi resmi sebagai aplikasi utama.
  4. Praktek memasang Intranet menunjukkan bahwa sebelum membangun Intranet secara permanen terlebih dahulu dilakukan proyek percontohan atau pilot project.
  5. Agar optimalisasi pemanfaatan teknologi Intranet dapat diwujudkan, Intranet mutlak perlu memperoleh dukungan dari semua komponen organisasi, baik komponen yang menyelenggarakan tugas pokok maupun komponen organisasi, baik komponen yang menyelenggarakan tugas pokok maupun komponen yang berfungsi memberikan dukungan.
  6. Keamanan dan kerahasiaan informasi.
  7. Sumber Daya Manusia.

Pemimpin dan pengambilan keputusan

System informasi telah membantu manajer untuk mengkomunikasikan dan mendistribusikan informasi, namun hanya memberi bantuan terbatas untuk pengambilan keputusan manajemen. Model pengambilan keputusan :

  • model rasional, model perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa orang-orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan niali, yang seacra mendasar konsisten
  • model organisasional, model-model pengambilan keputusan yang memperhitungkan karakteristik politik dan structural dari organisasi.

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

  • Sistem Informasi Manajemen Sekolah merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung kembali proses pengambilan keputusan bidang pendidikan.
  • Tahapan kompleksitas relasional data dan informasi memungkinkan ditempuhnya delapan tahap penting dalam penanganan informasi, yaitu penciptaan informasi, pemeliharaan saluran informasi, transmisi informasi, penerimaan informasi, penyimpanan informasi, penelusuran informasi, penggunaan informasi dan penilaian kritis serta umpan balik. Tahap-tahap tersebut menjadi sebuah bentuk manajemen sistem informasi pendidikan.
  • Pengaruh kepemimpinan terhadap sistem informasi manajemen, pimpinan dapat bertindak selaku : pencipta sistem informasi, penerima informasi, penyalur informasi, pemakai informasi dan penilai informasi.
  • Langkah-langkah yang biasanya ditempuh dalam penciptaan, pemeliharaan, dan penggunaan sistem informasi ialah penelitian dasar yang bersifat ilmiah, eksperimentasi atau percobaan laboratorium, pengembangan, pelatihan untuk aplikasi, penggunaan dan umpan balik.
  • Saat ini internet dapat dipergunakan untuk kepentingan intern lembaga, atau sistem informasi manajemen. Kemudahan distribusi informasi dan pertukatran  informasi antar pemakai mengakibatkan adanya perubahan besar dalam dunia komunikasi termasuk dalam pendidikan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: