peran kepala sekolah professional

PERAN KEPALA SEKOLAH PROFESIONAL

 

  1. A.    Kepala Sekolah Profesional
    1. 1.      Latar Belakang

Paradigma baru manajemen pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas secara efektif dan efisien, perlu didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam hal ini, pengembangan SDM merupakan proses peningkatan kemampuan manusia agar mampu melakukan pilihan-pilahan. Proses pengembangan SDM tersebut harus menyentuh berbagai bidang kehidupan yang tercermin dalam pribadi pimpinan, termasuk pemimpin pendidikan seperti kepala sekolah.

Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa: “Kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana”.

Kepala sekolah juga merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting karena kepala sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Karena kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.

  1. 2.      Pengertian

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagaimana dikutip oleh Wahjosumidjo (1999:83), kepala sekolah berasal dari dua kata yaitu “Kepala” dan “Sekolah” kata kepala dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga. Sedang sekolah adalah sebuah lembaga di mana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran. Jadi secara umum kepala sekolah dapat diartikan pemimpin sekolah atau suatu lembaga di mana tempat menerima dan memberi pelajaran.

Sedangkan Wahjosumidjo (1999:83) sendiri mengartikan bahwa kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah, tempat diselenggarakannya proses belajar mengajar, atau tempat terjadinya interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.

Kata ’memimpin’ dari rumusan tersebut mengandung makna luas, yaitu kemampuan untuk menggerakkan segala sumber yang ada pada suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam praktik lembaga, kata ’memimpin’ mengandung konotasi menggerakkan, mengarahkan, membimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan, memberikan bantuan, dan sebagainya.

Sementara Sri Damayanti mengutip pernyataan Rahman dkk mengungkapkan bahwa “Kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural (kepala sekolah) di sekolah” (http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses pada 6 Juni 2010).

Dan sebagaimana termuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/ Madrasah pada Bab I pasal 1 bahwa yang dimaksud dengan kepala sekolah/madrasah adalah guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin taman kanak-kanak/raudhotul athfal (TK/RA), taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA), sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK), atau sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) yang bukan sekolah bertaraf internasional (SBI) atau yang tidak dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah adalah jabatan pimpinan, yaitu tenaga fungsional guru yang diberi tugas dan tanggung jawab serta mempunyai kemampuan untuk memimpin segala sumber daya yang ada pada suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama.

Sedangkan profesional atau juga sering disebut profesionalisme banyak pakar yang mendefinisikannya. Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi (http://nuritaputranti.wordpress.com, diakses pada 20 Desember 2011). Hal ini juga pengaruh terhadap penampilan atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan di profesinya. Sementara Sudarwan Danin (2002:23) mendefinisikan bahwa: “Profesionalisme adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu. Kemudian Freidson (1970) dalam Syaiful Sagala (2005:199) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan profesionalisme adalah sebagai komitmen untuk ide-ide profesional dan karir.

Jadi dapat disimpulkan bahwa profesionalisme adalah suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya agar kualitas keprofesionalannya dapat tercapai secara berkesinambungan. Dalam tulisan ini, kepala sekolah profesional harus dapat mengkomunikasikan segala tugas pokok dan fungsinya dalam manajemen sekolah.

Secara tidak langsung keberhasilan manajemen pendidikan berimplikasi kepada peran sentral kepala sekolah sebagai inti dari pada manajemen (leadership is the key to management). Walaupun peranan profesionalisme secara keseluruhan tidak bermuara pada peranan kepala sekolah saja, namun Mc Ginn dalam Sudarwan Danim (2002) memberikan alasannya bahwa dalam sebuah sekolah memerlukan peranan seseorang dalam melakukan fungsi sebagai pemberi keputusan dan tanggung jawab.

Maka menyadari akan makna profesionalisme kepala sekolah yang harus dikuasai seorang pemimpin dalam upaya pemenuhan tuntutan tugas dan fungsi kepala sekolah dalam lembaga pendidikan maka diperlukan kualifikasi profesional yang jelas. Baik, ditentukan dari sifat atau karakteristik, ataupun dilihat dari segi institusional dan pendekatan legalistik sehingga menghasilkan nilai profesionalisme yang signifikan kepada peran dari kepala sekolah.

  1. 3.      Pengadaan Kepala Sekolah

Tidak mudah untuk menjadi kepala sekolah profesional, banyak hal yang harus dipahami, banyak masalah yang harus dipecahkan, dan banyak strategi yang harus dikuasai. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi dan profesionalisme yang memadai. Untuk meningkatkan kualitasnyapun perlu diadakan pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah serta sertifikasi kompetensi dan penilaian kinerja kepala sekolah. Maka, untuk melahirkan seorang kepala sekolah yang profesional dibutuhkan sistem yang kondusif, baik rekrutmen maupun pembinaan.

Selain itu, periodisasi masa jabatan kepala sekolah yang dilaksanakan secara konsisten dengan penilaian kinerja yang akuntabel serta transparan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan di sekolah-sekolah. Kepala sekolah akan bekerja keras untuk meningkatkan prestasi sekolahnya sebagai bukti prestasi kinerjanya, sehingga masa jabatannya bisa diperpanjang atau mendapat promosi jabatan yang lebih tinggi. Prestasi yang diraih sekolah-sekolah akan meningkatkan mutu pendidikan di daerah dan akhirnya meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Tidak ada lagi istilah berprestasi atau tidak berprestasi, bermasalah atau tidak bermasalah tetap aman. Hanya ada dua pilihan, turun dengan predikat tidak berprestasi atau turun dengan terhormat karena sudah menjalani periode maksimal bahkan mendapat promosi (http://www.facebook.com, diakses pada 7 November 2011).

Lalu bagaimana sesungguhnya pro­sedur pengangkatan seorang guru menjadi kepala sekolah? Untuk saat ini kita bisa merujuk kepada aturan atau regulasi yang berlaku. Setidaknya ada dua regulasi pokok yang menga­tur secara langsung tentang kepala sekolah, yaitu: pertama Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar kepala sekolah/madrasah, dan kedua Peraturan Menteri Pendidikan Nasioanal Nomor 28 tahun 2010 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah/madrasah.

Selanjutnya dalam Permen­dik­nas No. 13/2007 sebagai­mana juga termaktub dalam Permendiknas No. 28/2010 Pasal 2 ayat 1, 2 dan 3  juga ditetapkan persyaratan umum dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk bisa diangkat menjadi kepala sekolah. Adapun per­syaratan umum tersebut antara lain adalah: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kualifi­kasi akademik minimal sarjana (S1), berusia setinggi-tingginya 56  tahun pada waktu pe­ngang­katan pertama sebagai kepala sekolah, sehat jasmani dan rohani, tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat, me­miliki sertifikat pendidik, pengalaman menga­jar sekurang-kurangnya 5  tahun, memiliki golongan ruang serendah-rendahnya III/c bagi guru PNS dan bagi guru bukan PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan.

Sedangkan hal menarik dalam aturan baru penugasan guru sebagai kepala sekolah sesuai Permendiknas No. 28/2010, antara lain yaitu:  guru yang sudah lulus seleksi calon kepala sekolah harus mengi­kuti program pendidikan dan pe­latihan calon kepala se­kolah/ma­dra­­sah di lembaga terakreditasi minimal selama seratus (100) jam tatap muka (Pasal 6 dan 7).

Selain itu mereka juga harus mengikuti praktik penga­laman lapangan minimal selama tiga bulan (Pasal 7). Bagi mereka yang lulus akan diberikan sertifikat kepala sekolah yang dicatat dalam data base nasional dan diberi nomor unik oleh men­teri atau lembaga yang ditunjuk. Dengan demikian seorang calon kepala sekolah baru bisa diangkat menjadi kepala seko­lah setelah mengi­kuti “sekolah untuk calon kepala sekolah” serta memiliki “SIM” sebagai kepala sekolah.

  1. 4.      Ciri-ciri Kepala Sekolah Profesional

Kepala sekolah memiliki peran strategis dalam pengembangan sekolah. Untuk itu, kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi dan profesionalisme yang memadai. Saat ini, sebagai perwujudan dari demokratisasi dan desentralisasi pendidikan sekolah diberikan keleluasan dalam mendayagunakan sumber daya yang ada secara efektif.

Untuk itu lembaga pendidikan membutuhkan tenaga-tenaga profesional yang berkompeten dalam upaya mengelola sekolah. Secara implisit nilai dari profesionalisme menurut Tilaar, H.A.R. yang dikutip dalam (http://edukasi.kompasiana.com diakses pada 7 November 2011) dapat diketahui melalui:

a)      Memiliki keahlian khusus

b)      Merupakan suatu panggilan hidup

c)      Memiliki teori-teori yang baku secara universal

d)     Mengabdikan diri untuk masyarakat dan bukan untuk diri sendiri

e)      Dilengkapi kecakapan diagnostik dan kompetensi yang aplikatif

f)       Memiliki otonomi dalam melaksanakan pekerjaannya

g)      Mempunyai kode etik

h)      Mempunyai hubungan dengan profesi pada bidang-bidang yang lain

Sedangkan dalam konteks dimensi kompetensi, seorang kepala sekolah profesional dituntut memiliki sejumlah kompetensi. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah ditetapkan bahwa ada lima dimensi kompetensi yaitu: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.

Sementara itu, Robert W. Rihe (1974:87) yang dikutip oleh Alim Sumarno, M.Pd., (http://elearning.unesa.ac.id, diakses pada 20 Desember 2011) mengemukakan bahwa ciri-ciri profesionalisasi jabatan fungsional ada 7, antara lain: (1) Kepala sekolah bekerja sama dan tidak semata-mata hanya memberikan pelayanan kemanusiaan bukan usaha untuk kepentingan pribadi, (2) Memiliki pemahaman serta ketrampilan yang tinggi, (3) Memiliki lisensi hukum dalam memimpin sekolah, (4) Memiliki publikasi yang dapat melayani para guru sehingga tidak ketinggalan zaman, (5) Mengikuti aneka kegiatan seminar pendidikan (workshop), (6) Jabatannya sebagai suatu karier hidup, dan (7) Memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun lokal.

  1. 5.      Dampak Kepala Sekolah Profesional

Kepala sekolah yang profesional berdampak pada:

a)      Efektivitas proses pendidikan

Peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan memiliki efektivitas pendidikan yang tinggi, yang tampak dari sifat pendidikan yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik.

b)      Tumbuhnya kepemimpinan sekolah yang kuat

Kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah.

c)      Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif

Tenaga kependidikan terutama guru, merupakan jiwa dari sekolah. Oleh karena itu, peningkatan profesionalisme guru merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah.

d)     Budaya mutu

Budaya mutu tertanam di sanubari semua kepala sekolah, sehingga setiap perilaku didasari oleh profesionalisme.

e)      Teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis.

Kebersamaan merupakan karakteristik yang dituntut oleh profesionalisme kepala sekolah, karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah, bukan hasil individual.

f)       Kemandirian
Kepala sekolah memiliki kemandirian untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan

g)      Partisipasi warga sekolah dan masyarakat

Peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya.

h)      Transparansi manajemen

Dalam wacana demokrasi pendidikan, transparansi pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang harus diwujudkan dalam meningkatkan propesionalisme tenaga kependidikan.

i)        Kemauan untuk berubah

Perubahan harus menjadi kenikmatan bagi semua warga sekolah menuju peningkatan kearah yang lebih baik.

j)        Evaluasi dan perbaikan berkelanjutan

Evaluasi terhadap profesionalisme tenaga kependidikan harus dilakukan secara teratur.

k)      Tanggap terhadap kebutuhan

Sekolah tanggap terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu.

l)        Akuntabilitas
Sekolah dituntut untuk melakukan pertanggungjawaban terhadap semua pelaksanaan pendidikan.

m)    Sustainabilitas

Paradigma baru kepala sekolah profesional dalam konteks MBS memiliki sustainabilitas yang tinggi karena mengangkat mutu sekolah dan pendidikan (http://id.shvoong.com, diakses pada 7 November 2011).

 

  1. B.     Peran Kepala Sekolah

Peran kepala sekolah adalah mengelola penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin di bidang pendidikan haruslah mengetahui dan memahami serta mengaplikasikan fungsi dan tugasnya dengan baik. Secara lebih operasional tugas pokok kepala sekolah mencakup kegiatan menggali dan mendayagunakan seluruh sumber daya sekolah secara terpadu dalam kerangka pencapaian tujuan sekolah. Jika seorang kepala sekolah mengetahui secara jelas tugas pokok dan fungsinya, maka seterusnya juga harus mampu mengembangkan konsep pelaksanaan tugas tersebut secara baik, agar dinamika tugas yang dilakukan berlangsung secara variatif dan didasarkan pada situasi dan kondisinya. Namun demikian, semua tugas yang dilakukan selalu disusun melalui program yang baik, pelaksanaan yang terukur, dan dilandasi rasa pengabdian serta motivasi yang tinggi.

Kepala sekolah sebagai penentu kebijakan di sekolah harus memfungsikan perannya secara maksimal dan mampu memimpin sekolah dengan bijak dan terarah serta mengarah kepada pencapaian tujuan yang maksimal demi meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di sekolahnya yang tentu saja akan berimbas pada kualitas lulusan anak didik sehingga bisa membanggakan dan menyimpan masa depan yang cerah. Sebagaimana yang dikatakan mantan Mendiknas Bambang Sudibyo, bahwa kuantitas siswa lulusan suatu sekolah ditentukan oleh mutu proses pengajaran maupun pengelolaan sekolah secara keseluruhan (Trianto, 2008:35-36).

Sejumlah pakar sepakat bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman sebagai edukator, manajer, administrator dan supervisor serta mampu berperan sebagai leader, innovator dan motivator di sekolahnya, yang disingkat EMASLIM. Dan berkembang menjadi EMASLIM-F karena kepala sekolah juga sebagai pejabat formal (http://smpn29samarinda.wordpress.com, diakses pada 8 Juni 2010). Jika mengacu pada Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah, maka kepala sekolah juga harus berjiwa wirausaha. Dengan demikian, pekerjaan kepala sekolah semakin hari semakin meningkat dan akan selalu meningkat sesuai perkembangan pendidikan yang diharapkan.

  1. 1.      Kepala sekolah sebagai edukator

Menurut Wahjosumidjo (1999:122-124), memahami arti pendidik tidak cukup berpegang pada konotasi yang terkandung dalam definisi pendidik melainkan harus dipelajari keterkaitannya dengan makna pendidikan, sarana pendidikan dan bagaimana strategi pendidikan itu dilaksanakan. Untuk kepentingan tersebut kepala sekolah harus berusaha menanamkan, memajukan dan meningkatkan sedikitnya empat macam nilai, yakni pembinaan mental, moral, fisik, dan artistik.

Sebagai edukator kepala sekolah mempunyai tugas pokok melaksanakan proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Sedangkan fungsinya adalah menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada tenaga kependidikan, melaksanakan model pembelajaran yang menarik dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru.

Sebagai pendidik, kepala sekolah melaksanakan kegiatan perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi pembelajaran. Kegiatan perencanaan menuntut kapabilitas dalam menyusun perangkat-perangkat pembelajaran; kegiatan pengelolaan mengharuskan kemampuan memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien; dan kegiatan mengevaluasi mencerminkan kapabilitas dalam memilih metode evaluasi yang tepat dan dalam memberikan tindak lanjut yang diperlukan terutama bagi perbaikan pembelajaran. Sebagai pendidik, kepala sekolah juga berfungsi membimbing siswa, guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator, khususnya dalam peningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar anak didik yaitu:

a)    Mengikutsertakan para guru dalam penataran atau pelatihan untuk menambah wawasannya; memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

b)   Berusaha menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik agar giat bekerja, kemudian hasilnya diumumkan secara terbuka dan diperlihatkan di papan pengumuman. Hal ini bermanfaat untuk memotivasi para peserta didik agar lebih giat belajar dan meningkatkan prestasinya.

c)    Menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah dengan cara mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang ditentukan (http://smpn29samarinda.wordpress.com, diakses pada 8 Juni 2010).

  1. 2.      Kepala sekolah sebagai manajer

Kepala sekolah sebagai manajer mempunyai peran yang menentukan dalam pengelolaan manajemen sekolah, berhasil tidaknya tujuan sekolah dapat dipengaruhi bagaimana kepala sekolah menjalankan fungsi-fungsi manajemen. Fungsi-fungsi manajemen tersebut adalah planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), dan controlling (pengawasan) (Munir, 2008:16).

Sesuai Keputusan Mendiknas mengenai kompetensi manajerial, di antaranya kepala sekolah harus mampu dan terlihat kinerjanya dalam bidang-bidang garapan manajerial sebagai berikut: menyusun perencanaan sekolah mengenai berbagai tingkatan perencanaan; mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan kebutuhan; memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah secara optimal; mengelola perubahan dan pengembangan sekolah menuju organisasi pembelajar yang efektif; menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik; mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal; mengelola sarana dan prasarana sekolah dalam rangka pendayagunaan secara optimal; mengelola hubungan sekolah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar dan pembianaan sekolah; mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan serta pengembangan kapasitas peserta didik; mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional; mengelola keuangan sekolah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan dan efisien; mengelola ketatausahaan sekolah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah; mengelola unit layanan khusus sekolah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah; mengelola sistem informasi sekolah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan; memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah; melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjut.

Menurut Stoner sebagaimana dikutip oleh Wahjosumidjo (1991:97-99) menyatakan ada delapan macam fungsi manajer dalam suatu organisasi, yaitu kepala sekolah: bekerja dengan dan melalui orang lain; bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan; mampu menghadapi berbagai persoalan dalam kondisi yang terbatas; berpikir   secara   analistik   dan konsepsional; sebagai juru penengah; sebagai politisi; sebagai diplomat; dan berfungsi sebagai pengambil keputusan.

  1. 3.      Kepala sekolah sebagai administrator

Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah perlu memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi kearsipan, dan administrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah. Untuk itu, kepala sekolah harus mampu mengkoordinasikan penyelenggaraan administrasi sekolah dan menciptakan administrasi yang tertib lancar dan tepat waktu.

Dalam pengertian yang luas, kepala sekolah merupakan pengambil kebijakan tertinggi di sekolahnya. Sebagai pengambil kebijakan, kepala sekolah melakukan analisis lingkungan (politik, ekonomi, dan sosial-budaya) secara cermat dan menyusun strategi dalam melakukan perubahan dan perbaikan sekolahnya. Dalam pengertian yang sempit, kepala sekolah merupakan penanggungjawab kegiatan administrasi ketatausahaan sekolah dalam mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

  1. 4.      Kepala sekolah sebagai supervisor

Sebagai pemimpin pengajaran, kepala sekolah berfungsi melakukan pembinaan profesional kepada guru dan tenaga kependidikan. Untuk itu kepala sekolah harus mampu melaksanakan supervisi untuk memantau tenaga kependidikan agar tercapai proses belajar mengajar yang baik. Kepala sekolah juga harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih cermat melaksanakan pekerjaannya.

Peran penting kepala sekolah sebagai supervisor adalah memberikan bantuan yang bersifat membina, membimbing dan mengarahkan perkembangan para personel sekolah. Bantuan yang diberikan kepada personel pendidikan untuk mengembangkan proses pendidikan yang lebih baik dan upaya meningkatkan mutu pendidikan. Adapun tugas kepala sekolah sebagai supervisor dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 mencakup sebagai berikut: merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru; melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat; menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, di antaranya adalah bahwa tugas dan fungsi dari supervisi ini adalah untuk memberdayakan sumber daya sekolah termasuk guru.

Penggunaan teknik-teknik supervisi tergantung dari banyak hal misalnya: dari masalah, tempat, dana, waktunya, orang yang kita hadapi, baik jumlahnya muaupun sifatnya. Adapun teknik-teknik supervisi yang lazim dan secara teratur dapat dilakukan oleh setiap kepala sekolah ialah: rapat sekolah, kunjungan kelas, musyawarah atau pertemuan perseorangan.

  1. 5.      Kepala sekolah sebagai leader

Sebagai pemimpin, kepala sekolah berfungsi menggerakkan semua potensi sekolah, khususnya tenaga kependidikan bagi pencapaian tujuan sekolah. Dalam upaya menggerakkan potensi tersebut, kepala sekolah  hendaknya memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan kepemimpinan agar mampu mengendalikan, mempengaruhi dan mendorong bawahannya dalam menjalankan tugas dengan jujur, tanggung jawab, efektif dan efisien. Kepala sekolah juga harus memiliki sifat keteladanan, mampu menumbuhkan kreativitas, memotivasi dan mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap sekolah.

Wahjosumidjo (1999:110) juga mengemukakan bahwa kepala sekolah yang dikehendaki adalah pemimpin yang harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, diklat dan keterampilan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan.

Kemampuan kepala sekolah sebagai pemimpin dapat dianalisis dari aspek kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan berkomunikasi. Sedangkan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifatnya yang: jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil risiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, dan teladan.

Dalam implementasinya, kepala sekolah sebagai pemimpin dapat dianalisis dari tiga gaya kepemimpinan, yakni demokratis, otoriter dan bebas. Ketiga gaya tersebut sering dimiliki secara bersamaan oleh seorang pemimpin sehingga dalam melaksanakan kepemimpinannya gaya-gaya tersebut muncul secara situasional. Maka kepala sekolah sebagai pemimpin mungkin bergaya dengan ketiganya. Meskipun kepala sekolah ingin selalu bersifat demokratis, namun seringkali situasi dan kondisi menuntut untuk bersikap lain, misalnya harus otoriter. Dalam hal tertentu gaya kepemimpinan otoriter lebih cepat dan tepat digunakan dalam pengambilan suatu keputusan.

  1. 6.      Kepala sekolah sebagai inovator

Sebagai inovator, kepala sekolah bertugas melakukan pembaharuan di bidang proses pembelajaran, bimbingan konseling, ekstrakurikuler dan pengadaan, pembinaan guru dan karyawan, pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat. Dalam rangka melakukan peranan dan fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah perlu memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada tenaga kependidikan dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif serta harus mampu mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaruan di sekolah.

  1. 7.      Kepala sekolah sebagai motivator

Sebagai motivator kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada bawahannya dalam melakukan tugas dan fungsinya. Motivasi ini bisa melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar.

Untuk itu, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Dorongan dan penghargaan merupakan dua sumber motivasi yang efektif diterapkan oleh kepala sekolah. Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang datang dari dalam maupun datang dari lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut, motivasi merupakan suatu faktor yang cukup dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah keefektifan kerja, bahkan motivasi sering disamakan dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak dan pengarah.

  1. 8.      Kepala sekolah sebagai pejabat formal

Peranan kepala sekolah sebagai pejabat formal diangkat dengan surat keputusan oleh atasan yang mempunyai kewenangan dalam pengangkatan sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku: memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas serta hak-hak dan sanksi yang perlu dilaksanakan; secara hirarki mempunyai atasan langsung, atasan yang lebih tinggi dan memiliki bawahan; dan mempunyai hak kepangkatan, gaji dan karir.

Sebagai seorang pejabat formal, kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap atasan, sesama rekan kepala sekolah atau lingkungan terkait, dan kepada bawahan. Peter P. Dewson dalam  Wahjosumidjo (1999:93) menyatakan bahwa layaknya pemimpin-pemimpin formal lainnya, seorang pemimpin demikian pula kepala sekolah akan berhasil melaksanakan tugas-tugasnya apabila mereka selalu memperhatikan tujuh hal yang sangat berpengaruh. Yaitu:

a)      Perundang-undangan, kebijaksanaan serta peraturan yang berlaku

b)      Variabel-variabel yang terjadi di dalam maupun di luar sekolah

c)      Interaksi antara sumber daya manusia, sistem dan berbagai macam peralatan dan hal-hal yang lain

d)     Efektivitas

e)      Masalah untung dan rugi

f)       Terpercaya dan berpengalaman

g)      Kewibawaan, status, stres dan konflik.

  1. 9.      Kepala sekolah sebagai wirausahawan

Dari adanya pemberlakuan perundang-undangan dengan segala kebijakan mengenai otonomi daerah, menuntut kepala sekolah untuk mampu mengembangkan visi pendidikan dan kelembagaannya secara kontekstual. Kepala sekolah sewajarnya menjadi pihak yang lebih mengetahui kebutuhan-kebutuhan pendidikan di sekolahnya dan bagaimana segala potensi lembaga dan lingkungannya dapat dimanfaatkan secara produktif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Beberapa kondisi berikut menurut Permana dan Kesuma (2009:353), memperkuat kebutuhan mendesak bahwa kewirausahaan kepala sekolah sangat diperlukan dalam menghadapi kondisi krisis kehidupan bangsa terlebih di era pengaruh globalisasi, yaitu:

a)      Semakin tumbuh dan berkembangnya pesaing-pesaing sekolah, terutama sekolah yang memiliki beberapa keunggulan

b)      Ketidakpercayaan atas metode-metode tradisional dalam manajemen organisasi dan proses pendidikan yang dianggap masih tyipical

c)      Terdapat di antara guru-guru atau pegawai yang pintar dan memiliki ide-ide brilian lebih suka memilih menjadi seorang wirausaha.

Sebagai salah satu cara bagaimana sekolah mampu mewujudkan kemampuan dalam wirausahanya, maka kepala sekolah harus mampu menunjukkan kemampuan dalam menjalin kemitraan dengan pengusaha atau donatur, serta mampu memandirikan sekolah dengan upaya berwirausaha. Secara rinci kemampuan atau kinerja kepala sekolah yang mendukung terhadap perwujudan kompetensi kewirausahaan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, di antaranya mencakup: menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah; bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif; memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah; pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah; dan memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik.

 

  1. C.    Indikator Keberhasilan Kepala Sekolah

Kunci keberhasilan suatu sekolah pada hakikatnya terletak pada efisiensi dan efektivitas penampilan pemimpinnya, dalam hal ini kepala sekolah. Kepala sekolah dituntut memiliki persyaratan kualitas kepemimpinan yang kuat, sebab keberhasilan sekolah hanya dapat dicapai melalui kepemimpinan kepala sekolah yang berkualitas.

Kepala sekolah yang berkualitas yaitu kepala sekolah yang memiliki kemampuan dasar, kualifikasi pribadi, serta pengetahuan dan keterampilan profesional (http://www.slideshare.net, diakses pada 6 Juni 2010).

Kazt mengemukakan tiga keterampilan atau kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh tingkat pemimpin apapun, yang mencakup: human relation skill, technical skill dan conceptual skill (Rosmiati dan Kurniady, 2009:130).

  1. Human relation skill, yaitu kemampuan berhubungan dengan bawahan. Seperti kemampuan memahami perilaku, isi hati dan motif mereka, kemampuan berkomunikasi secara jelas dan efektif, dan kemampuan menciptakan kerjasama yang efektif, kooperatif, praktis dan diplomatis. Dengan begitu bisa menciptakan iklim kerja yang menyenangkan serta terjalin hubungan yang baik sehingga bawahan merasa aman dalam melaksanakan tugas.
  2. Technical skill, yaitu: kemampuan menerapkan ilmunya ke dalam pelaksanaan (operasional). Seperti menguasai pengetahuan tentang metode, proses, prosedur dan teknik dalam menganalisis hal-hal khusus dan kemampuan mendayagunakan sumber-sumber daya yang ada.
  3. Conceptual skill, yaitu kemampuan seorang pemimpin melihat organisasi sebagai satu keseluruhan. Seperti mengambil keputusan, menentukan kebijakan dan lain-lain.

Makna profesionalisme kepala sekolah yang harus dikuasai seorang pemimpin dalam upaya pemenuhan tuntutan tugas dan fungsi kepala sekolah dalam lembaga pendidikan maka diperlukan kualifikasi profesional yang jelas. Kualifikasi pribadi yaitu serangkaian sifat atau watak yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin termasuk kepala sekolah. Dengan kata lain seorang pemimpin yang diharapkan berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan harus didukung oleh mental, fisik, emosi, watak sosial, sikap, etika, dan kepribadian yang baik

Seorang pemimpin harus pula memiliki pengetahuan dan keterampilan profesional. Pengetahuan profesional meliputi:

  1. Pengetahuan terhadap tugas, kepala sekolah harus mampu secara menyeluruh mengetahui banyak tentang lingkungan organisasi atau sekolah di mana organisasi atau sekolah tersebut berada
  2. Harus memahami hubungan kerja antar berbagai unit, pendelegasian wewenang, sikap bawahan, serta bakat dan kekurangan dari bawahan
  3. Wawasan organisasi dan kebijaksanaan khusus, perundang-undangan dan prosedur
  4. Harus memiliki satu perasaan rill untuk semangat dan suasana aktivitas diri orang lain dan staf yang harus dihadapi
  5. Harus mengetahui layout secara fisik bangunan, kondisi operasional, berbagai macam keganjilan dan problema yang biasa terjadi
  6. Harus mengetahui pelayanan yang tersedia untuk dirinya dan bawahan, serta kontrol yang dipakai oleh manajemen tingkat yang lebih tinggi (http://www.slideshare.net, diakses pada 6 Juni 2010)

Sedangkan yang harus dimiliki kepala sekolah dalam keterampilan profesional, meliputi:

  1. Mampu berfungsi sebagai seorang pendidik
  2. Mampu menampilkan analisis tinggi untuk mengumpulkan, mencatat dan menguraikan tugas pekerjaan
  3. Mampu mengembangkan silabus rangkaian mata pelajaran dan program-program pengajaran
  4. Mampu menjadi mahkota dari berbagai macam teknik mengajar
  5. Mampu merencanakan dan melaksanakan penelitian dalam pendidikan dan mempergunakan temuan riset
  6. Mampu mengadakan supervisi dan evaluasi pengajaran, fasilitas, kelengkapan, dan materi pelajaran
  7. Mengetahui kejadian di luar sekolah yang berhubungan dengan paket dan pelayanan pendidikan
  8. Mampu menjadi pemimpin yang baik dan komunikator yang efektif (http://www.slideshare.net, diakses pada 6 Juni 2010).

Keberhasilan sekolah sebagai keberhasilan kepala sekolah merupakan pernyataan tentatif yang perlu dicermati mengingat kepala sekolah senantiasa dihadapkan pada tantangan dalam melakukan perubahan dan pengembangan sekolah secara berencana, terarah dan berkesinambungan untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya yang diterapkan dunia pendidikan, sehingga menuntut penguasaan kepala sekolah secara profesional. Untuk itu kepala sekolah dihadapkan pada tantangan untuk melaksanakan pengembangan pendidikan secara terarah dan berkesinambungan.

Peningkatan profesionalisme kepala sekolah perlu dilaksanakan secara berkesinambungan dan terencana dengan melihat permasalahan-permasalahan dan keterbatasan yang ada. Sebab kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang juga bertanggung jawab dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya. Kepala sekolah yang profesional akan mengetahui kabutuhan dunia pendidikan, dengan begitu kepala sekolah akan melakukan penyesuaian-penyesuaian agar pendidikan berkembang dan maju sesuai dengan kebutuhan pembangunan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Reaktualisasi fungsi dan peran kepala sekolah perlu dilakukan dalam kerangka EMASLIM-FW untuk mengarahkan perubahan dan pengembangan sekolahnya sebagai organisasi pembelajar yang efektif, sekolah unggulan yang bertaraf nasional atau internasional. Di samping itu, yang terpenting ialah melakukan tata kelola sekolah dengan baik (good school governance) sebagai bentuk dukungan terhadap desentralisasi penyelenggaraan pendidikan, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), benchmarking, broad basic education, life skill, contextual learning dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dan sebagainya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Akib, Haedar. Reaktualisasi Fungsi dan Peranan Kepala Sekolah, (Online), (http://smpn29samarinda.wordpress.com, diakses pada 8 Juni 2010).

Damayanti, Sri. 2008. Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses pada 6 Juni 2010).

Iwan, Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Online), (http://www.slideshare.net, diakses pada 6 Juni 2010).

Munir, Abdullah. 2008. Menjadi Kepala Sekolah Efektif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Permana, Johar, Drs. H. M.A. dan Kesuma, Darma, Drs. 2009. Kepemimpinan Pendidikan; dalam Riduwan, M.Pd. (Ed), Manajemen Pendidikan (hlm. 351-368). Bandung: Alfabeta.

Periodesasi Masa Jabatan Kepala Sekolah dan Peningkatan Mutu Pendidikan, (Online), http://www.facebook.com, diakses pada 7 November 2011.

Profesi, Profesional, Profesionalisme, Profesinalisasi dan Profesionalitas, (Online), (http://nuritaputranti.wordpress.com, diakses pada 20 Desember 2011).

Rosmiati, Taty, Dra. M.Pd. dan Kurniady, Dedy, Ahmad, M.Pd. 2009. Kepemimpinan Pendidikan; dalam Riduwan, M.Pd. (Ed), Manajemen Pendidikan (hlm. 125-162). Bandung: Alfabeta.

Sagala, Syaiful. 2002. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung : Alfabeta.

Sudarwan, Danim. 2002. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.

Sumarno, Alim, M.Pd. Definisi Konseptual Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Online), (http://elearning.unesa.ac.id, diakses pada 20 Desember 2011).

Trianto. 2008, Oktober. Branding Sekolah Yes, Komersial Sekolah No. Media, hlm. 35-36.

Wahjosumidjo. 1999. Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: Rajawali Pers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: