Dampak Pencemaran Udara

Dampak Pencemaran Udara

Seperti yang kita ketahui saat ini banyaknya bangunan pabrik, kendaraan, atau pun seringnya terjadi letusan gunung, membuat terjadinya polusi udara. Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran udara ternyata sangat merugikan. Pencemaran tersebut tidak saja berakibat langsung terhadap manusia, tapi berpengaruh juga terhadap lingkungan alam. Semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak menyebabkan udara yang kita hirup disekitar kita tercemar oleh gas-gas buangan hasil pembakaran. Otomatis di dalam diri kita sudah tercemar gas-gas yang berbahaya secara tidak kita sadari. Menurut World Bank, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar hampir berlipat-lipat jumlahnya. Dan tidak kita pungkiri lagi, kita pun juga menggunakannya. Sebab itulah, polusi udara juga berdampak pada pemanasan global atau bahasa kerennya Global Warming. Selain itu, pencemaran udara berhubungan erat dengan penurunan kualitas produk yaitu : produk pertanian, peternakan dan perikanan sehingga daya saing untuk keperluan ekspor di pasar internasional menjadi menurun. Pencemaran udara juga mengakibatkan kualitas kesehatan penduduk yang tinggal di daerah lingkungan yang tercemar akan menjadi buruk dan berdampak pada menurunnya daya kreativitas penduduk.

Dan berikut ini dampak yang ditmbulkan karena pencemaran udara :

A. Bagi kesahatan masyarakat.
Pencemaran yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Zat-zat yang masuk ke dalam tubuh kita dapa menimbulkan penyakit, seperti gangguan pernapasan. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik. memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015. Dan dampak bagi kesehatan lainnya adalah : pencemaran udara mengganggu perkembangan janin, pencemaran udara perberat gangguan pembuluh darah dan diabetes, polusi udara sebabkan mandul, hingga kanker paru, dan polusi udara bikin IQ anak rendah.

B. Dampak terhadap tanaman.
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

C. Hujan asam.
pH biasa air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain : Mempengaruhi kualitas air permukaan, Merusak tanaman, Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan dan Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan.

D. Dampak Pencemaran oleh Belerang Oksida
Sebagian besar pencemaran udara oleh belerang oksida berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, terutama batubara serta berasal dari alat-alat transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Apabila kadar belerang oksida SO3 tinggi diudara akan menyebabkan timbulnya hujan asam yang dapat merusak tanaman, dimana kerusakan hutan berawal dengan terjadinya pengikisan lapisan tanah yang subur. Hal ini menyebabkan menurunnya daya dukung alam bagi manusia. Sehingga menimbulkan kerusakan tanah yang permanen belum lagi penebangan liar yang seringkali terjadi, maka timbullah tanah longsor yang membahayakan bagi penduduk yang bermukim di wilayah tersebut. Bukan itu saja, dalam jumlah besar diudara gas SOx dapat menyebabkan kanker, karena seharusnya walaupun jumlah gas tersebut relatif kecil, sebaiknya tidak terdapat diudara.

E. Dampak Pencemaran Udara dari Segi Ekonomi Masyarakat
Jelas saja, masyarakat yang terkena penyakit akibat polusi udara bias mengurangi kondisi perekonomian mereka karena harus membayar biaya berobatnya, apalagi golongan masyarakat kelas rendah. Dari sisi ekonomi pembiayaan kesehatan akibat polusi udara di Jakarta diperkirakan mencapai hampir 220 juta dolar pada tahun 1999. Perawatan di rumah sakit, kunjungan ke Unit Gawat Darurat atau kunjungan rutin dokter, akibat penyakit yang terkait dengan respirasi (pernapasan) dan kardiovaskular. Akibatnya masyarakat harus membayar perawatan di rumah sakit, kunjungan ke Unit Gawat Darurat atau kunjungan rutin dokter, akibat penyakit yang terkait dengan respirasi (pernapasan) dan kardiovaskular . Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia serta ekosistem telah menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Dan berdasarkan studi Bank Dunia tahun 1994 dinyatakan bahwa kerugian ekonomi yang disebabkan polusi udara di Jakarta sebesar Rp. 500 milyar yang diperhitungkan dari 1.200 kematian prematur, 32 juta masalah pernapasan, dan 464 kasus asma.
Ketua Umum Barisan Muda Partai Amanat Nasional, Yahdil Abdi Harahap, mengungkapkan besar kerugian yang diderita Indonesia dalam masalah lingkungan. Dia menyebutkan data WHO (Badan Kesehatan Dunia), akibat pencemaran udara yang sangat hebat, Indonesia menanggung kerugian ekonomi sebesar US$424,3 juta pada 1990 dan meningkat menjadi US$634 juta pada 2000. Data dari hasil penelitian JUDP III (Jakarta Urban Development Project) menunjukkan biaya yang dipikul masyarakat akibat menurunnya IQ anak akibat dampak pencemaran udara diperkirakan sebesar Rp 176 miliar pada 1990 dan diperkirakan 2005 akan meningkat menjadi Rp 254,4 miliar. Kerusakan lingkungan semakin parah dan hampir merata di seluruh Indonesia mulai dari permasalahan sampai di kota-kota besar, pembakaran dan penebangan hutan secara liar pembuangan limbah dan berbagai kerusakan lainnya. Keadaan tersebut bertambah parah mengingat beberapa perangkat dan permasalahan pendukung yang juga masih belum dapat kita selesaikan antara perundangan-undangan dan penegakannya, rendahnya kesadaran dan budaya masyarakat, perhatian yang tidak proporsional dari pemerintah dan lainnya.

F. Dampak pencemaran udara terhadap pemanasan global.
Mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Pemanasan global merupakan peningkatan secara gradual dari suhu permukaan bumi yang sebagian disebabkan oleh emisi dari zat-zat pencemar seperti karbondioksida (CO2), metan (H4) dan oksida nitrat (NO2). Zat-zat pencemar tersebut berkumpul di atmosfir membentuk lapisan tebal yang menghalangi matahari dan menyebabkan pemanasan planet dan efek rumah kaca. Pembangkit listrik, industri, dan kendaraan bermotor merupakan sumber utama penghasil CO2. Pendapat ahli menambahkan bahwa pemanasan global bersumber dari emisi gas rumah kaca (GRK) yang disebabkan kenaikan konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) karena kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan emisi GRK adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan chloro fluoro karbon (CFC).

Pencemaran udara dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu faktor alam dan perilaku manusia. Faktor alam yang dapat menyebabkan pencemaran udara antara lain gunung meletus yang dapat menyemburkan debu dan gas sejauh berkilo-kilo meter serta kebakaran hutan akibat dari kemarau yang berkepanjangan. Faktor yang kedua adalah perbuatan manusia yang secara langsung juga dapat meningkatkan pencemaran seperti peningkatan pertumbuhan penduduk dan laju urbanisasi yang mendorong pertumbuhan kendaraan bermotor. Pendapat ahli menambahkan bahwa pencemaran udara akan terus meningkat karena bertambahnya populasi manusia dan meningkatnya permintaan bahan bakar. Faktor lain yang dapat menyebabkan meningkatnya pencemaran udara adalah penurunan ruang terbuka untuk penghijauan, perubahan gaya hidup yang mendorong pertumbuhan konsumsi energi, ketergantungan kepada minyak bumi sebagai sumber energi, kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pencemaran udara dan pengendaliannya serta kebakaran hutan dalam skala besar, yang secara langsung menyebabkan degradasi hutan dan dapat memberikan efek pada ekosistem, keanekaragaman hayati, peningkatan emisi karbon, dan kesehatan manusia. Laporan FWI pada tahun 2002 menyatakan bahwa laju kerusakan hutan mencapai 1,7 juta hektar pertahun bahkan pada tahun 2003 Departemen Kehutanan mengatakan bahwa laju kerusakan hutan mencapai 3,4 juta hektar per tahun yang diakibatkan oleh berbagai sebab (Minangsari, dkk., 2005).

Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran Udara

i. Pencegahan pencemaran udara pada :
- Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik
b) Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala
c) Memasang filter pada knalpot.

- Sumber Tidak Bergerak
a) Memasang scruber pada cerobong asap.
b) Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala.
c) Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur, CO rendah.
d) Memodifikasi pada proses pembakaran.
e) Pembersihan ruangan dengan sistem basah.

- Manusia
Apabila kadar SO2, CO, NO2, kadar oksidan, khlorin, dan timah hitam dalam udara ambien telah melebihi baku mutu (365mg/Nm3 , 10.000 ug/Nm3, 150 mg/Nm3, 235 mg/Nm3, 150 mg/Nm3, dan 2 ug/Nm3 dengan rata-rata waktu pengukuran 24 jam) maka untuk mencegah dampak kesehatan, dilakukan upaya-upaya :
a) Menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas diluar rumah.
c) Menutup / menghindari tempat-tempat yang diduga mengandung CO seperti sumur tua , Goa , dll.
ii. Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh pemeritah pusat untuk mencegah dan mengendalikan pencemaran udara antara lain :
1. Penetapan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pencemaran udara seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
2. Penentuan pengelola pengawasan dan penanggungjawab pengendalian pencemaran udara serta dampaknya, yaitu:
• Kementerian Negara Lingkungan Hidup bertanggungjawab terhadap regulasi emisi dan pemantauan dampak lingkungan yang terjadi;
• Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertanggungjawab terhadap pengawasan dan pengendali mutu bahan bakar;
• Departemen Perindustrian bertanggungjawab mengawasi produk komponen kendaraan yang ramah lingkungan dan mengawasi dan sertifikasi bengkel dalam rangka meningkatkan kualitas udara di perkotaan;
• Departemen Perhubungan bertanggungjawab pengujian tipe untuk kendaraan bermotor produksi baru termasuk uji emisi gas buang dan pengadaan dan pemasangan converter kit;
• Pemerintah Daerah bertanggungjawab terhadap pengujian kendaraan bermotor yang sedang berjalan.

3. Melaksanakan kegiatan pengendalian pencemaran udara antara lain dengan pencanangan Program Langit Biru.yaitu : Menetapkan regulasi tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor baik yang sedang diproduksi maupun kendaraan lama. Regulasi ini mengacu kepada standar emisi kendaraan EURO-II yang mensyaratkan bahwa kandungan timbal dan sulfur dalam bahan bakar bensin adalah di bawah angka 500 ppm (parts per-million).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: