strategi pembelajaran

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Strategi Practice Rehearsal Pairs (Praktek Berpasangan)

  1. Latar Belakang Strategi Practice Rehearsal Pairs (Praktek Berpasangan)

Latar belakang dari munculnya strategi practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) adalah berasal dari strategi pembelajaran active learning, pembelajaran aktif berasal dari dua kata, active dan learning, kata active artinya aktif dan learning artinya pembelajaran.[1]

13

Hakekat proses belajar bertitik tolak dari suatu konsep bahwa belajar merupakan perubahan perbuatan melalui aktifitas, praktik, dan pengalaman dua factor utama yang menentukan proses belajar adalah hereditas, dan lingkungan,[2] menurut Melvin L. Silberman, belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyempaian informasi ke kepala seorang peserta didik, belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan belajar itu sendiri. Kejelasan dan keragaan oleh mereka sendiri tidak akan menuju kea rah belajar yang sebenarnya dan tahan lama. Pada saat kegiatan belajar aktif, peserta didik mempelajari gagasan-gagasan memecahkan berbagai masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenagkan, mendukung, dan menarik hati.[3]

Pembelajaran aktif adalah proses belajar yang membutuhkan dinamika belajar bagi peserta didik, dinamika untuk mengartikulasikan dunia idenya dan mengkontrotir ide itu dengan dunia realitas yang dihadapinya.[4] Menurut Hisyam Zaini dkk mengemukakan bahwa, pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif, ketika peserta didik dengan aktif, berarti mereka mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dan materi yang dipelajari, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang adal dalam kehidupan nyata. Belajar aktif sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif atau hanya meneria dan mengajar, adan kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan, factor yang menyeleraskan informasi cepat dilupakan adalah factor kelemahan otak manusia itu sendiri, oleh sebab itu dengan belajar aktif informasi yang baru didapat akan disimpan dalam memori otak.[5]

Pembelajaran aktif hanya bisa terjadi bila ada partisipasi aktif peserta didik. Demikian dengan peran serta aktif peserta didika tidak akan terjadi bilamana guru tidak aktif dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran, cara untuk melakukan proses pembelajaran yag memicu dan melibatkan peran serta aktif peserta didik dan mengalah ranah kognitif, afektif, psikomotorik dan ranah imaniah-transendental. Proses pembelajaran aktif dalam memperoleh informasi, ketrampilan, dan sikap serta prilaku positif dan terpuji akan terjadi melalui suatu proses pencarian dari diri peserta didik.[6]

Cara lain mengaktifkan belajar siswa adalah dengan memberikan berbagai pengalaman belajar bermakna yang bermanfaat bagi kehidupan siswa dengan memberikan rangsangan tugas, tantangan, memcahkan masalah, atau mengembangkan pembiasaan agar dalam dirinya tumbuh kesadaran bahwa belajar menjadi kebutuhan hidupnya, alas an lain mengaktifkan belajar siswa adalah setiap siswa perlu memperoleh pelayanan bimbingan belajar yang berbeda pula sehingga seluruh siswa dapat berkembang sesuai dengan tingkat kemampuannya.[7]

Belajar aktif berlaku bagi siapa saja baik yang berpengalaman atau pemula, yang mengajarkan inforamsi-informasi dan keterampilan teknis dan non teknis, walaupun banyak strategi-strategi dan tips-tips yang diterapkan kepada para pengajar pada berbagai tingkatan. Dalam bukunya Hisyam Zaini yang berjudul strategi pembelajaran aktif menyatakan empat puluh empat cara belajar aktif yang hampur dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran salah satunya adalah strategi pembalajaran practice rehearsal pairs (praktek berpasangan).

  1. Pengertian Strategi Practice Rehearsal Pairs (Praktek Berpasangan)

Strategi practice rehearsal pairs (praktek berpasangan) adalah salah satu strategi yang berasal dari active learning, yang menjelaskan bahwa strategi ini adalah strategi yang digunakan untuk mempraktekkan suatu ketrampilan atau prosedur dengan teman belajar dengan latihan praktek berulang-ulang mengunakan informasi untuk mempelajarinya[8]

  1. Tujuan Strategi Practice Rehearsal Pairs (Praktek Berpasangan)

Adapun tujuan dan strategi practice rehearsal pairs (praktek berpasangan) adalah untuk melibatkan peserta didik aktif sejak dimulainya pembelajaran, yakni untuk meyakinkan dan memastikan bahwa kedua pasangan dapat memperagakan keterampilan atau prosedur, selain itu juga dengan praktek berpasangan dapat meningkatkan keakraban dengan siswa  dan untuk memudahkan dalam mempelajari materi yang bersifat psikomotor.[9]

 

 

  1. Langkah-Langkah Strategi Practice Rehearsal Pairs (Praktek Berpasangan)

Strategi practice rehearsal pairs (praktek berpasangan) dalam penerapannya mempunyai langkh-langkah atau prosedur, antara lain:

1.      Guru memilih satu keterampilan yang akan dipelajari oleh peserta didik.

2.      Guru membentuk pasangan-pasangan dalam setiap pasangan buat dua peran.

a.       Penjelas atau pendemonstasi

b.      Pengecek atau pengamat

3.      Setelah guru membetuk pasangan-pasangan, guru meminta kepada penjelas atau demonstrator menjelaskan atau mendemontrasikan cara megerjakan keterampilan yang telah ditentukan, pengecek/pengamat bertugas mengamati dan menilai penjelasan atau demontrasi yang dilakukan temanya.

4.      Guru meminta kedua pasangan untuk bertukar peran, yaitu demonstrator kedua diberi keterampilan yang lain.

5.      Guru meminta siswa untuk melakukan keterampilan atau prosedur tersebut dilakukan sampai selesai dan dapat dikuasai oleh peserta didik.

6.      Untuk menambah variasai guru yang dapat menambahkan dengan membagi dengan beberapa kelompok.

 

  1. Kelebihan dan Kekurangan Strategi practice rehearsal Pairs (Praktek Berpasangan)

Dalam metode atau strategi pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, seperti strategi practice rehearsal pairs (praktek berpasangan). Strategi ini mempunyai kelebihan yaitu cocok jika diterapkan untuk materi-materi yang bersifat psikomotorik atau materi-materi yang bersifat seperti materi sholat, tetapi kelemahannya strategi ini tidak cocok degunakan pada materi yang bersifat teoritis.[10]

Dalam buku Cooperative learning dalam praktek berpasangan mempunyai kelebihan diantaranya adalah dapat meningkatkan partisipasi antar peserta didik, interaksi lebih mudah dan lebih banyak kesempatan untuk konstruksi masing-masing pasangan. Sedangkan kekurangannya adalah jika anta pasangan tidak aktif maka akan sedikit ide yang muncul dan jika pasangannya banyak maka akan membutuhkan waktu yang banyak.[11]

 

B. Tinjuan Tentang Hasil Belajar Siswa

1.   Pengertian Hasil Belajar

Untuk memperoleh pengertian yang objektif tentang hasil belajar, perlu dirumuskan dengan jelas dari kata di atas, karena secara etimologi hasil belajar terdiri dari dua kata yaitu hasil dan belajar.

Menurut kamus bahasa Indonesia hasil adalah sesuatu yang ada (terjadi) oleh suatu kerja, berhasil sukses[12], sementara menurut R. Gagne hasil dipandang sebagai kemampuan internal yang menjadi milik orang serta orang itu melakukan sesuatu[13], sedangkan pengertian belajar secara etimologis belajar dari kata ajar yang mendapatkan arti berusaha memperoleh kepandaian.

Adapun secara umum belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku yang relative menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau tingkah laku.[14] Secara terminologis banyak pakar pendidikan yang mendefinisikan belajar sebagaimana yang akan penulis uraikan dibawah ini.

Menurut Hilgord belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan, perubahan tersebut tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan sementara seseorang seperti kelelahan atau disebakan obat-obatan.[15]

Kemudian menurut James O. Withaker mendefinisikan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman, disamping itu juga diartikan sebagai proses sebagian tingkah laku melalui pendidikan atau lebih khusus melalui proses pelatihan.[16]

Dan beberapa definisi yang penulis paparkan diatas, terdapat dua sudut pandang mengenai belajar yaitu belajar sebagai suatu hasil dan dengan dipandang sebagai proses. Berdasarkan dari definisi-definis di atas dapat disimpulkan bahwa dalam belajar terkandung bebarapa hal yaitu:

a.       Adanya perubahan tingkah laku pada diri seorang yang mengalami proses belajar.

b.      Perubahan tersebut sebagai suatu hasil respon siswa terhadap stimulus yang diterima, jadi harus dibedakan dengan perubahan yang tidak dihasilkan dan pengalaman.

c.       Usaha-usaha yang dilakukan sekarang baik melalui latihan, pengalaman, interaksi dan pengalamannya.

d.      Lingkup perubahan tersebut meliputi aspek kogniitf, afektif, dan psikomotor.

Dari definisi yang telah dipaparkan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai setalah mengevaluasi proses belajar mengajar atau setelah mengalami interaksi dengan lingkungannya guna memperoleh ilmu pengetahuan dan akan menimbulkan perubahan tingkah laku yang relative menetap dan tahan lama.

2.   Arti Penting Belajar

Belajar adalah fungsi utama dan vital bagi pendidikan, belajar memainkan peranan yang penting dalam mempertahankan kehidupan. Pada umat manusia banyak sekali perubahan yang terdapat dalam diri manusia yang bergantung pada belajar, belajar membutuhkan bimbingan baik secara langsung oleh guru maupun secara tak langsung melalui bantuan pengalaman.[17]

Meskipun ada dampak negative dari hasil belajar kelompok manusia seperti hasil belajar pengetahuan dan teknologi tinggi yang digunakan untuk membuat senjata pemusnah sesama umat manusia, kegiatan pelajar tetap memiliki arti penting dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif agama, belajar adalah kewajiban bagi setiap muslim dalam ranghka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupannya meningkat, sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Al-Mujadalah ayat 11.

kš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[18]

 

 

 

Dalam ayat lain juga disebutkan

šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $ygç/ΎôØnS Ĩ$¨Z=Ï9 ( $tBur !$ygè=É)÷ètƒ žwÎ) tbqßJÎ=»yèø9$# ÇÍÌÈ

Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.[19]

 

Dua ayat diatas telah mengambarkan bahwa begitu pentingnya untuk belajar ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan orang banyak, untuk mencapai itu semua sebagai muslim tentunya harus selalu semangat dalam mencari ilmu agar hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

3.   Prinsip-prinsip Belajar

Sebagaimana diketahui bahwa belajar merupakan kegiatan yang berlangsung didalam suatu proses dan terarah kepencapaian tujuan tertentu. Adapun rinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut.

Pertama, prinsip belajar adalah perubahan perilaku, perubahan perilaku sebagai berikut memiliki ciri-ciri:

1.      Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu perubahan yang disadari.

2.      Kontinu atau berkesinambungan.

3.      Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup.

Kedua, belajar merupakan proses, belajar terjadi keran didorong kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai, belajar adalah proses sistematika yang dinamis, konstruktif dan organic.

Ketiga, belajar merupakan bentuk pengalaman, pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.[20]

Keempat, belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam dirinya sendiri.

Kelima, cara belajar kelompok, asalkan masalah-masalah tersebut disadari bersama.[21]

4. Ciri-ciri Belajar Mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan, belajar memiliki cirri-ciri diantaranya adalah:

a.       Belajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.

b.      Ada prosedur yang direncakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan.

c.       Ditandai dengan aktifitas anak didik.

d.      Dalam kegiatan belajar membutuhkan disiplin.

e.       Evaluasi.[22]

 

5. Jenis-jenis Hasil Belajar

Hasil belajar berupa prsetasi belajar atau kinerja kademik yang dinyatakan dengan skor atau nilai. Pada prinsipnya pengungkapannya hasil belajar ideal itu meliputi segenap ranah psikologis yang berupa akibat pengalaman dan proses belajar mengajar.

Dalam tujuan pendidikan yang ingin dicapai kategori dalam bidang ini yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor, ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan karena sebagai tujuan yang hendak dicapai dengan kata lain tujuan pengajaran dapat dikuasai siswa dalam mencapai tiga aspek tersebut, dan ketiganya adalah pokok dari hasil bejalar. Menurut taksonomi bloom, dilkasifikasikan pada tiga tingkatan domain yaitu:

a.       Jenis hasil belajar pada bidang kognitif.

Dalam hubungan dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peranan paling utama. Istilah kognitif berasal dari lognitif yang bersinonim dengan kata knowing yang berarti pengetahuan, menurut para ahli psikologi kognitif, aspek ini merupakan sumber sekaligus sebagai pengendali aspek-aspek yang lain, yakni aspek afektif dan aspek psikomotorik.

Dengan demikian jika hasil belajar dalam aspek kognitif tinggi maka dia akan mudah untuk berfikir sehingga ia akan mudah memahami dan meyakini materi-materi pelajaran yang diberikan kepadanya serta mampu menangkap pelan-pelan moral dan nilai-nilai yang terkadung didalam materi sebaliknya, jika hasil belajar kognitif rendah maka ia akan sulit untuk memahami materi tersebut untuk di internalisasikan dalam dirinya dan diwujudkan dalam perbuatannya.

Jenis hasil belajar aspek kognitif ini memiliki enam kemampuan atau kecakapan antara lain:[23]

1.      Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi bloom, seringkali disebut dengan aspek ingatan, dalam jenjang kemampuan ini seorang dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah-istilah dan lainnya tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya.

2.      Pemahaman (Comprehension)

Kemampuan ini umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar yakni kemampuan sekarang untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat serta mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memnafaatkan sisinya tanpa keharusan menghubungkannya.

3.      Penerapan (Application)

Adalah kesanggupan seseorang untuk menerangkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip serta teori-teori dalam situasi baru dan konkret, situasi dimana ide, metode dan lain-lain yang dipakai harus baru, karena apabila tidak demikian maka kemampuan yang diukur bukan lagi penerapan tetapi ingatan semata-mata:

4.      Analisis (Analysis)

Adalah kemampuan seseorang untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu kedalam unsure-unsur atau komponen-komponen pembentukannya dan faktr-faktor yang satu dengan factor yang lainnya.

5.      Sintesis (Synthesis)

Adalah suatu proses dimana seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan berbagai factor yang ada atau memadukan unsur-unsur secara logis sehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur.

6.      Penilaian (Evaluation)

Adalah kemampuan seseorang ditnuntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, kenyataan, atau konsep berdasarkan suatu criteria tertentu dan dapat mengambil keputusan (menentukan nilai) sesuatu yang dipelajari untuk tujuan tertentu.[24]

b.   Jenis Belajar pada Bidang Afektif

Aspek afektif in berkenaan dengan perubahan sikap dengan hasil belajar dalam aspek ini diperoleh melalui internalisasi, yaitu proses ke arah pertumbuhan batiniyah atau rohaniyah siswa, pertumbuhan terjadi ketika siswa menyadari suatu nilai yang terkandung dalam pengajaran agama dan nilai-nilai itu dijadikan suatu nilai sistem diri, sehingga menuntun segenap pernyataan sikap, tingkah laku dan perbuatan untuk menjalani kehidupan.

Beberapa jenis kategori jenis aspek kognitif sebagai hasil belajar dibafi menjadi 5, diantaranya:

1.   Menerima (Receiving)

Adalah berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa untuk ikut dalam fenomena atau stimuli khusus (kegiatan dalam kelas , musiak, baca buku, dan sebagainya). Hasil belajar dalam jenjang ini berjenjang mulai dari kesadaran bahwa sesuatu itu ada sampai kepada minat khusus dari pihak siswa.

2.   Menjawab (responding)

Yaitu kemampuan yang bertalian dengan srtisipasi siswa, pada tingkat ini siswa tidak hanya menghadiri suatu fenomena tertentu tetapi juga mereaksi terhadapnya dalam salah satu cara, hasil belajar dalam jenjang ini dapat menekankan kemauan untuk menjawab atau kepuasan dalam menjawab.

 

 

 

3.   Menilai (valuing)

Yaitu berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kemudian menerima nilai, dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.

4.   Organisasi (Organization)

Yaitu pengembangan nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Hasil belajar bertalian dengan konseptualisasi suatu nilai atau dengan organisasi suatu sistem nilai.

5.   Karakteristik (Characterization)

Yaitu keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian, tingkah laku termasuk nilai dan karateristiknya, hasil belajar dari aspek ini melipui kegiatan tapi penekanannya lebih besar diletakkan pada kenyataan bahwa tingkah laku menjadi ciri khas atau karakteristik siswa.[25]

c.       Jenis hasil belajar pada bidang psikomotor.

Aspek psikomotorik berhubungan dengan keterampilan yang bersifat fa’liyah kongkrit walaupun demikian hal itupun tidak terlepas dari kegiatan belajar yang bersifat mental (pengetahuan dan sikap) hasil belajar dari aspek ini adalah tingkah laku yang diamati.

Adapun mengenai tujuan dari psikomotorik yang dikembangkan oleh simpon (1966-1967) adalah sebagai berikut:

1.      Persepsi, yaitu penggunaan lima panca indera untuk memperoleh kesadaran dalam menerjemahkan menjadi tindakan.

2.      Kesiapan adalah siap untuk merespon secara mental, fisik dan emosional.

3.      Respon terbimbing, yaitu mengembangkan kemampuan dalam aktifitas mencatat dan membuat laporan.

4.      Mekanisme, yaitu respon fisik yang dipelajari menjadi kebiasaan.

5.      Adaptasi, yaitu mengubah respon dalam stimulasi yang baru.

6.      Organisasi, yaitu menciptakan tindakan-tindakan baru.[26]

6.   Indikator hasil belajar

Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan intruksional khusus dari bahan tersebut. Indicator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyelakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat saat ini digunakan adalah:[27]

a.       Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.

b.      Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.

Dua macam tolak ukur di atas yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tingkat keberhasilan proses belajar mengajar, tetapi indicator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan siswa adalah daya serap.[28]

7. Tingkat Keberhasilan

Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasl belajar, masalah yang dihadapi adalah sampai ditingkat mana prestasi (hasil) belajar yang telah dicapai. Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan tertentu sejalan dengan kurikulum yang berlaku saat ini adalah sebagai berikut:

a.       Istimewa/maksimal: Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa.

b.      Baik sekali/optimal: Apabila sebagian besar (85% s.d 94%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa.

c.       Baik/minmal: Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 75% s.d 84% dikuasai siswa.

d.      Kurang: Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa.[29]

Dengan melihat data yang terdapat dalam format daya serap siswa dalam pelajaran dan persentase keberhasilan siswa dalam mencapai TIK tersebut dapatlah diketahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan siswa dan guru.

8. Penilaian

Penilaian merupakan suatu proses kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa. Kegiatan penilaian tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan belajar siswa setiap waktu.

Hasil proses penilaian itu dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi guru apakah siswa pengayaan atau remedial, kalau seseorang mengidentifikasi kemampuan yang lebih maka bias diberikan pengayaan, sedangkan seorang siswa yang belum menunjukkan hasil belajar seperti yang diharapkan maka perlu remidi, pemberian remidi didasarkan atas indicator hasil belajar yang dikuasai siswa.

Dalam penilaian ada beberapa criteria atau hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

a.       Penilaian harus mencakup tiga aspek kemampuan yaitu aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

b.      Penilaian menggunakan berbagai cara misalnya: opservasi, wawancara, konferensi (pertemuan), portofolio, dan tes.

c.       Tujuan penilaian terutama dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada siswa, memberikan informasi kepada siswa tentang tingkat kemajuan (keberhasilan) belajarnya.

d.      Alat penilaian harus mendorong siswa untuk mengunakan penalaran dan membangkitkan keaktifan siswa.

e.       Penilaian harus dilakukan berkelanjutan, agar kemajuan belajar siswa bisa dimonitor terus menerus.

f.       Penilaian harus bersifat adil, setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk meningkatkan kemampuannya.

g.      Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif.

h.      Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri.[30]

9.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Telah dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan.[31] Perubahan yang terjadi itu sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan individu, perubahan ini adalah hasil yang telah dicapai dari proses belajar, untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk perubahan harus melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor dan dalam individu dan diluar individu, proses ini tidak dapat dilihat karena bersifat psikologis, kecuali bila terjadi dalam diri seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya, karena aktifitas belajar yang telah dilakukan.[32]

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa banyak sekali macamnya namun demikian faktor tersebut dibagi menjadi dua yaitu faktor eksternal dan internal.

a.       Faktor Eksternal

Yang dimaksud faktor eksternal adalah yang menyangkut masalah dari luar individu, yang menentukan proses hasil belajarnya di bawah ini ada 2 faktor eksternal yang meliputi:

1)   Faktor environmental input (lingkungan)

Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar, lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/alam, sosial, keluarga, & masyarakat. Lingkungan fisik/alami termasuk didalamnya adalah seperti keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, dan sebagainya, belajar dalam keadaan udara yang segar akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap.

Lingkungan sosial seperti suara mesin pabrik, truk pikuk lalu lintas, gemuruhnya pasar, dan sebagainya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, karena itulah diserahkan agar lingkungan sekolah didirikan di tempat yang jauh di keramaian pabrik, lalu lintas dan pasar lingkungan sosial yang jorok pun dapat mengganggu belajar, misalnya dekat dengan lokalisasi WTS.[33]

Lingkungan keluarga juga termasuk factor ekstern karena siswa yang akan belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga.

Orang tua yang kurang / tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya akan dapat menyebabkan anak tidak berhasil dalam belajarnya, anak belajar perlu dorongan dan pengertian dari orang tua, bila anak sedang belajar orang tua sebisa mungkin dapat mengawasi dan mengontrolnya. Begitupun juga sikap anak dalam belajar, perlu ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik agar mendorong semangat untuk belajar.[34]

Dan yang terakhir adalah faktor lingkungan masyarakat, masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaanya siswa dalam masyarakat, kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya, tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak. Belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.

Kehidupan masyarakat disekitar siswa juga berpengaruh terhadap belajar lebih-lebih pengaruh dari teman bergaul, apabila teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa. Begitu sebaliknya, teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga agar siswa dapat belajar dengan baik-baik dan pembinaan pergaulan yang baik.[35]

2.   Faktor Instrumental

Faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaanya dirancangkan sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajr yang telah direncanakan, faktor-faktor instrument ini dapat berwujud faktor-faktor keras (hardware) seperti:

a.       Gedung perlengkapan belajar

b.      Alat-alat praktikum

c.       Perpustakaan dan sebagainya.

Sedangkan faktor-faktor lunak (soff ware) seperti

a.       Kurikulum

b.      Bahan / program yang dipelajari

c.       Pedoman-pedoman belajar & sebagainya.[36]

b.      Faktor internal

Faktor internal siswa adalah faktor yang menyangkut seluruh pribadi termasuk fisik, maupun mental dan psikologisnya yang ikut menentukan hasil belajar siswa.

Dalam membicarakan faktor internal ini meliputi 2 macam yaitu:

1.      Faktor Fisiologis

Kondisi fisikologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang, orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan keleahan.[37]

Faktor jasmaniah terdiri dari 2 macam yaitu:

a.       Faktor kesehatan

Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit, kesehatan adalah keadaan atau hal sehat, kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.

Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makam, olahraga, rekreasi dan ibadah.

b.      Faktor cacat tubuh

Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh / badan. Cacat dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setangah tuli, patah kaki, patah tangan & lumpuh dll.

Keadaan cacat tubuh, jika hal ini terjadi. Hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau di usahakan alat Bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu.[38]

2.      Faktor Psikologis

Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis entu saja mempengaruhi belajar seseorang, itu berarti belajar bukanlah berdiri sendiri terlepas dari faktor lain seperti faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intesitas belajar seorang anak, benyak faktor yang termasuk aspek psikologis, namun diantara faktor-faktor sisiwa yang dipandang lebih esensial yang mempengaruhi belajar adalah:

a.       Intelegensi Siswa

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menhadapi dan menyesuaikan kedalam situasi baru dengan cepat & efektif, mengetahui atau konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.

Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia belajar dengan baik artinya belajar dengan menerapkan metode belajar yang efisien dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

 

 

b.      Perhatian

Perhatian menurut gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinngi, jiwa itu pun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (denda / hal) atau sekumpulan objek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang di pelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa. Maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar dapat belajar dengan baik usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik sesuai dengan hobi & bakatnya.[39]

c.       Minat

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tertentusemakin besar minat.

Minat yang besar terhadap suatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai atau memporel benda atau tujuan yang diminati itu, timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik, minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan mengahsilkan prestasi yang rendah.[40]

d.      Bakat

Bakat merupakan kemampuan untuk belajar, kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Bakat sangat mempengaruhi belajar, jika bahan pelajaran yang di pelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya labih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam menempatkan siswa belajar di sekolah yang sesuai dengan bakatnya.

e.       Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru, kematangan belum berarti anak dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap, jadi kemampuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan & belajar.[41]

 

 

f.       Motivasi

Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar, penemuan-penemuan penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah banyak anak yang tidak berkembang karena tidak di perolehnya motivasi yang tepat.

Mengingat motivasi merupakan motor penggerak dalam perbuatan, maka bila ada anak didik yang kurang memiliki motivasi ekstrinsik, agar anak didik termotivasi untuk belajar. Disini diperlukan pemanfaatan bentuk-bentuk motivasi secara akurat dan bijaksana. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar, karena itu motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari dalam diri (motivasi intrinsic) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dicapai untuk mencapai cita-cita.

g.      Kemampuan kognitif

Dalam dunia pendidikan ada tiga tujuan pendidikan yang sangat dikenal dan diakui oleh para ahli pendidikan, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah kognitif merupakan kemampuan yang selalu dituntut kepada anak didik untuk dikuasai, karena penguasaan kemampuan pada tingkat ini menjadi dasar bagi penguasaan  ilmu pengetahuan.

Ada tiga kemampuan yang harus dikuasai sebagai jembatan untuk sampai pada penguasaan kemampuan kognitif, yaitu persepsi, mengingat dan perpikir, persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui presepsi manusia terus-menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya.

Mengingat adalah suatu aktifitas kognitif dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh dimana yang lampau, aktivitas mengingat ternyata pada kontak kembali dengan objek, seandainya tidak ada kontak yang tidak terjadi mengingat. Pada prinsipnya mengingat adalah penarikan kembali informasi dalam bentuk kesan-kesan yang tersimpan dialam bawah sadar kedalam alam sadar yang pernah diperoleh sebelumnya.

Berpikir adalah tingkah laku yang sering implicit dan tersembunyi dan biasanya dengan menggunakan symbol-simbol (gambaran-gambara, gagasan-gagasan, dan konsep-konsep) perlu diakui bahwa berpikir merupakan kegiatan mental yang bersifat pribadi dan berpikir itu sendiri mempunyai tingkatan, jadi guru perlu memahami kemampuan berpikir anak sehingga tidak memaksakan materi-materi pelajaran yang tingkat kesukarannya tidak sesuai dengan usia anak untukd iterima dan dicerna oleh anak.[42]

3.      Faktor Kelelahan

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).

Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbulnya kecenderungan untuk membaringkan tubuh, kekelahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak / kurang lancar pada bagian-bagian tertentu.

Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah otak kehabisan daya untuk bekerja, kelelahan rohani dapat terjadi terus menerus memikirkan masalah yang dianggap kuat tanpa istirahat.

Dari uraian diatas dapatlah dimengerti bahwa kelelahan itu mempengaruhi belajar, agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya. Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan.[43]

 

C. Tinjauan Tentang Mata Pelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah

  1. Pengertian Mata Pelajaran Fiqih

Pelajaran fiqih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat Islam secara kaffah.

  1. Tujuan Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah

Pembelajaran fiqih di madrasah tsanawiyah bertujuan untuk membekali siswa antara lain:

a.       Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah yang diatur dalam fiqih ibadah dan hubungan manusia dengan sesame yang diatur dalam fiqih.

b.      Melaksanakan dan mengamnalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial, pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi.

c.       Mewujudkan manusia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah dan mengembangkan budaya agama dalam komunias sekolah.[44]

  1. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih

Ruang lingkup mata pelajaran fiqih di madrasah tsanawiyah meliputi ketentuan pengaturan hukum Islam dalam menjaga keserasian, keselarasan, dan kelembagaan antara hubungan manusia dengan Allah SWT, dan hubungan manusia dengan sesama manusia, adapun ruang lingkup mata pelajaran fiqih di madrasah tsanawiyah meliputi:

a.       Aspek fiqih ibadah meliputi: ketentuan dan tata cara thoharoh, shalat fardhu, shalat sunnah, dan shalat dalam keadaan darurat, sujud, adzan dan iqomah, berdzikir dan berdoa setelah shalat, puasa, zakat, haji dan umrah, kurban dan aqiqah, makanan, perawatan jenazah, dan ziarah kubur.

b.      Aspek fiqih muamalah meliputi: ketentuan dan hukum jual beli, qirat, riba, pinjam meminjam, utang piutang, gadai, dan borg serta upah.

 

D. Pengaruh Strategi Practice Rehearsal Pairs (Praktek Berpasangan) Terhadap Peningktan Hasil Belajar Siswa

Strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan proses pembelajaran, untuk menunjang dalam kegiatan belajar yang berlangsung di kelas diperlukan strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik terhadap materi yang akan dipelajarinya, salah satu strategi pembelajaran yang aktif adalah strategi practice rehearsal pairs (praktek berpansangan) strategi ini merupakan strategi sederhana dimana siswa akan dibentuk berpansangan dengan masing-masing tugasnya yaitu penjelasan dan penilai, strategi ini digunakan untuk mempraktekkan dan mengulang ketrampilan atau prosedur dengan pasangan belajar.

Strategi practice rehearsal pairs (praktek berpasangan) ini akan lebih bagus dan maksimal ketika materi yang dipelajari mengarah ke aspek psikomotorik, tujuan dari strategi ini adalah memastikan bahwa kedua pasangan dapat memperagakan ketrampilan atau prosedur dari materi yang akan dipelajari. Strategi ini dapat memberikan pengalaman belajar, secara langsung karena mereka praktek secara langsung dengan temannya. Dengan diterapkannya strategi ini diharapkan peserta didik dapat selalu mengingat tentang prosedur yang telah dipraktekannya atau didemonstrasikan, dengan adanya kemudahan dalam memahami materi yang akan dipelajari dengan strategi ini maka secara tidak langsung dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

 

E. Hipotesis Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto, hipotesa adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.[45] Sedangkan menurut Sugiono adalah hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan, dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.[46]

Sehubungan dengan rumusan masalah yang dikemukakan oleh peneliti, maka terdapat dua hipotesis dalam penelitian ini yang perlu dibuktikan kebenarannya yaitu:

1.      Hipotesis nihil (Ho) adalah tidak ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktek berpasangan) terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan.

2.      Hipotesis kerja (Ha) adalah ada pengaruh penerapan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktek berpasangan) terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MTs Putra Putri Sungelebak Karanggeneng Lamongan.


[1] Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Rutt, 2005), h.32

[2] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: SInar Baru Algesindo, 2004, h. 55

[3] Melvin L.Silberman, Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 1996), h. 20

[4] Agus Suprijono, 100 Perative Learning Team & Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 9

[5] Hisyam Zaini, dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), h. 14

[6]Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasisi PAIKEM, (Semarang: Rasal Media Group, 2008), h.72

[7]Marno & M.Idris, Strategi & Metode Pengajaran, (Yogyakarta: Ar. Ruzz Media Group, 2009), h.150

[8] Http//. www.google rehearsal strategy.education.com

[9] Mel. Silberman, 101 Cara Aktif SIswa Aktif, (bandung: Nusa Media & Nuansa, 2004), h. 81

[10] Hisyam Zaini, Loc.Cit

[11] Anita Lie, Cooperative Learning, (Jakarta: PT. Grafindo, 2008), h. 46

[12]Hartono, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h.53

[13] Depertemen Agama, Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik, (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Islam, 2005), h.46

[14] Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), h. 43

[15] Pasarisu dan Simanjuntak, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: tarsito, 1980), h.59

[16] Dewi Ketut Sukardi, Bimbingan & Penyuluhan Belajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h.17

[17] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algeindo, 2004), h.54

[18] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV. J.Art, 2005), h.544

[19] Departemen Agama RI, Op.Cit, h.397

[20] Agus Suprijono, Cooperative Learing, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009), h.4

[21] Muhaimin, Stretegi Belajar Mengajar, (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), h.48

[22] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zaini, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 46

[23] Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999, h. 103

[24] Ibid, h 104-113

[25] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belaja Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 53

[26] Oemar Hamarik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 82

[27] Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 120

[28] Moh. Uzer Usman, Upaya Optimalisasi Kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1993), h. 8

[29] Ibid, h. 8

[30] M. Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 75

[31] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 102

[32] Syaiful Bahri Jamarah, psikologi belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), h. 141

[33] Abu Ahmad & Joko Tri P, Strategi Balajar Mengajar, (Bandung: CU Pustaka Setia, 2005), h. 105

[34] Slameto, Belajar & Factor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), h. 60

[35] Ibid, h. 70

[36] Abu Ahmad & Joko Tri P. Op. Cit., h. 106

[37] Syaiful Bahri Djamarah. Op. Cit., h. 155

[38] Slameto. Op. Cit., h. 54

[39] Slameto. Loc. Cit

[40] Dayono, Psikolog Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 56

[41] Slameto. Op. Cit., h. 58

[42] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., h. 166-170

[43] Slameto, Op. Cit., h. 59-60

[44] Peraturan Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Kelulusan dan Standar isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah (Mapenda Kanwil Depag Prof. Jawa Timur, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 2008), h. 76-77

[45] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), h. 71

[46] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: CV. Alfabeta, 2009), h. 64

About these ads

2 Komentar

  1. dwi said,

    Desember 23, 2011 pada 5:34 am

    tulisan anda sangat bermanfaat buat saya, maaf kalau boleh tau buku apa yang membahas pracrice rehearsal Pair, dan karya siapa? terimakasih sblmnya

    • Januari 25, 2012 pada 3:26 am

      bukunya rianto mbak,itu saya belajar di mata kuliah strategi pembelajaran n dapat dari dosen saya bu husniatus salamah di IAIN sunan ampel surabaya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: